nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kurangnya Apresiasi Suami terhadap Istri Jadi Faktor Utama Perceraian di Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 15 Oktober 2018 20:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 15 196 1964392 kurangnya-apresiasi-suami-terhadap-istri-jadi-faktor-utama-perceraian-di-indonesia-F3jlQHHvNd.jpg Ilustrasi (Foto: Huffingtonpost)

MEMILIKI hubungan yang harmonis dalam kehidupan rumah tangga merupakan impian bagi setiap pasangan suami istri. Salah satu caranya adalah dengan membangun komunikasi yang baik. Tanpa hal tersebut, hampir tidak mungkin para pasutri mempertahankan pernikahan mereka. Tak heran jika kasus perceraian yang terjadi akhir-akhir ini, disebabkan oleh kurangnya komunikasi serta apresiasi yang dilakukan oleh para suami, begitupun sebaliknya.

Berbicara soal komunikasi dan masalah perceraian dalam rumah tangga, ternyata ada satu faktor utama yang menyebabkan hubungan suami istri tidak harmonis. Sebuah studi yang dilakukan oleh HILL ASEAN 2018 mengungkapkan, Indonesia merupakan salah satu negara dimana lebih dari 75 persen pekerjaan rumah tangga dibagikan antara suami dan istri, tolak ukur yang sesungguhnya dalam kesetaraan gender.

Dalam studi tersebut juga disebutkan, pekerjaan rumah tangga yang paling rendah dibagikan antara pasangan suami istri adalah memasak. Diketahui hanya 3 dari 10 suami yang membantu istri di dapur. Dengan kata lain, keseteraan gender sebetulnya telah berlaku di Indonesia, tetapi tidak di dapur.

Ini bukan masalah sepele. Sebuah studi yang dilakukan oleh Nation Research 2018 mengindikasikan bahwa kurangnya apresiasi terhadap pasangan dalam pernikahan memiliki dampak yang signifikan, bahkan dapat berujung pada perceraian.

Lalu apa hubungannya urusan dapur dengan keharmonisan rumah tangga?

Menurut penuturan Adri Reksodipoetro, selaku Managing Director Nations Insight, di Indonesia, ekspektasi terhadap perempuan hanya berkisar pada sosok “ibu rumah tangga”. Merekalah yang bertanggung jawab untuk mengurus semua masalah domestik seperti, mendidik anak hingga membuat makanan. Padahal, 60% perempuan Indonesia sudah mulai bekerja, sama seperti para pria.

Baca Juga: 10 Tanda Seseorang Akan Meninggal Dunia

Konflik sering terjadi ketika suami tidak berempati dan mengapresiasi istri, bahkan untuk hal terkecil sekalipun (memuji masakan). Dampak terburuk dari masalah ini adalah hilangnya kepercayaan dan harga diri seorang istri di hadapan suami dan anak-anaknya.

“Dampak terburuk yang pernah saya tangani adalah ketika mereka sudah kehilangan semangat hidup. Mereka tidak mau lagi merawat diri. Tidak mandi berhari-hari dan hanya menutup diri. Pemicunya ya karena mereka merasa tidak dihargai dan tidak diapresiasi,” tutur Adri dalam acara Kecap ABC Dukung Kesetaraan Gender Dimulai Dari Dapur, di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Senin (15/10/2018).

suami

Hal senada juga diakui oleh Arin Arnanto, seorang wanita yang telah menikah selama kurang lebih 6 tahun, namun memutuskan untuk berpisah dengan sang suami karena kurangnya apresiasi yang diberikan.

“Saya akui saya bukan koki yang handal. Tapi setidaknya saya sudah mencoba yang terbaik. Tapi suami saya selalu mengeluhkan hal-hal kecil yang ‘mungkin’ menurutnya sepele, tapi sebenarnya melukai hati saya. Suami saya selalu mengatakan, ‘kenapa masaknya itu-itu saja?’,” ujar Arin.

“Terkadang saya hanya ingin mendengar ucapan terima kasih sebagai bentuk perhatian. Dia tidak perlu repot-repot membantu saya di dapur. Dengan sedikit apresiasi sebetulnya sudah dapat meningkatkan semangat saya, bahwa kerja keras saya benar-benar dihargai. Sesederhana itu,” sambungnya.

Perilaku suami harus diubah

Meski bagi sebagian orang permasalahan ini bukanlah sesuatu yang harus diperhatikan, perlu diingat bahwa kurangnya apresiasi pada istri justru bisa jadi symptom pertama yang memicu timbulnya keinginan untuk bercerai.

Indra Noveldy, selaku Konsultan Pernikahan mengatakan, para istri yang mengurus anak dan masalah rumah tangga seperti memasak, telah berjuang sepenuh hati meski tidak disadari atau dilihat oleh suaminya (invisible struggle). Oleh karena itu, cara terbaik untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan cara merubah perilaku suami bukan perilaku sang istri.

Baca Juga: Ditilang Malah Ajak Polisi Seks Threesome, Selebgram Seksi Ini Tanggung Akibatnya

Sekilas memang terdengar sulit, mengingat secara budaya, masyarakat Indonesia tidak diajarkan untuk mengekspresikan apresiasinya. Namun ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan para suami untuk mengapresiasi kerja keras istri mereka.

“Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Ucapan terima kasih misalnya. Kalau tidak terbiasa mengungkapkan perasaan seperti mengucapkan kata-kata “I Love You” secara langsung, bisa diakakali dengan inisiatif membantu istri di dapur. Tanya kepada mereka, apa yang bisa dibantu. Sang istri tentu dengan senang hati mengajari Anda,” ujar Indra.

pasutri

Kata-kata pendukung atau kata-kata pujian inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh pasangan, namun sering diabaikan oleh sebagian orang. Berawal dari inisiatif di dapur, komunikasi pun akan berkembang.

“Creating memories di dapur atau di rumah itu lebih murah dibandingkan bulan madu di luar negeri atau di luar kota. . Lebih mudah dibandingkan honeymoon. Kalau sibuk di hari biasa, cobalah untuk berinisiatif mengajak istri masak bareng di akhir pekan, atau Anda bisa memuji masakannya dengan kata-kata yang manis untuk menghargai kerjas keras mereka,” jelas Indra.

Dengan latar belakang ini, Kecap ABC memperkenalkan kampanye "Suami Sejati Mau Masak, Terima Kasih Perasan Pertama" yang mengajak suami-suami di Indonesia untuk setara dengan istri dimulai dari dapur.

"Kami memahami pentingnya para suami di rumah untuk mengutamakan istri dengan memperlakukan mereka dengan setara, termasuk di dapur. Kampanye ini adalah langkah atau inisiatif pertama kami untuk mencapai objektif tersebut," tukas Dhiren Amin, Head of Marketing SEA, Kraft Heinz.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini