nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pembangunan Sekolah di Lokasi Bencana Harus Disesuaikan dengan Kondisi Psikologis Masyarakat

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 17 Oktober 2018 21:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 17 196 1965409 pembangunan-sekolah-di-lokasi-bencana-harus-disesuaikan-dengan-kondisi-psikologis-masyarakat-XLFb5uh39O.jpg Gempa di Palu (Foto: AFP)

MEMBANGUN kembali prasana pasca bencana sangat penting sebagai upaya pemulihan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bagi anak-anak yang terdampak bencana, membangun kembali sekolah sangat dibutuhkan agar mereka tidak kehilangan kesempatan belajar. Hal ini berkaitan dengan kondisi pasca bencana alam yang melanda Lombok, Palu, Donggala, dan daerah sekitarnya di Sulawesi Tengah.

Ya, meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi kondisi pasca bencana, namun inisiatif dan bantuan dari masyarakat Indonesia terus datang silih berganti. Ada yang berbondong-bondong mengumpulkan donasi untuk disumbangkan langsung kepada korban bencana, ada pula yang langsung terjun ke lapangan untuk membangun hunian sementara dan sekolah bagi anak-anak yang terdampak.

Menurut penuturan Prof. Yandi Andri Yatmo, PhD, selaku Pemimpin Kelompok Keilmuan Perancangan dari Departemen Arsitektur FTUI, pembangunan sekolah ini dinilai penting karena pendidikan adalah hak setiap manusia dan anak bangsa.

 (Baca Juga:Teh Sariwangi Jatuh Pailit, Meme-Meme Iklan #Ayahbolehgak Ramai di Medsos)

“Seminggu setelah gempa, kami langsung datang ke Lombok untuk melihat kondisinya, untuk mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan masyarakat pasca bencana,” tutur Yandi, dalam konferensi Sekolah Indonesia: Membangun Kembali Lombok Pasca Bencana, di Salemba, Jakarta, Rabu (17/10/2018).

 

“Tempat tinggal dan air bersih untuk minum tentu menjadi prioritas utama mereka. Namun ternyata ada satu elemen penting yang masih belum dikerjakan yaitu sekolah. Sebagai kalangan akademisi kami merasa tergerak dan ikut bertanggung jawab untuk memberikan bantuan, berupa pembangunan ‘sekolah cepat tanggap’,” timpalnya.

Setelah melakukan koordinasi dan penandatangan MoU dengan lembaga terkait, Yandi bersama Ikatan Alumni Arsitektur FTUI dan Ikatan Alumni FTUI berkomitmen untuk membangu sekolah cepat tanggap, yang telah dilaksanakan pada akhir pekan lalu, 6 Oktober 2018.

 (Baca Juga:4 Perempuan Menari Erotis di Upacara Pemakaman Sahabatnya, Videonya Viral di Medsos!)

Untuk membangun sekolah di lokasi bencana bukanlah perkara yang mudah. Ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan, untuk menunjang kesehatan psikologi masyarakat serta kenyamanan mereka saat sekolah siap dioperasikan.

 

“Kami harus mempelajari seperti apa struktur bangunannya. Tidak serta merta membawa sesuatu tanpa memikirkan visi ke depannya. Kami harus mempelajari kerusakan, berkomunikasi langsung dengan warga yang mengalami luka atau cedera,” jelas Yandi.

Yandi mengatakan, kebanyakan warga mengaku mengalami cedera karena tertiban dinding, gendeng, dan benda-benda berat yang berasal dari bangunan rumah mereka. Hal ini menjadi salah satu elemen terpenting dalam menentukan material yang akan digunakan. Desain bangunannya pun sengaja dibuat “lebih ringan” karena secara psikologi dapat menibulkan rasa aman bagi anak-anak.

 (Baca Juga:Tengok 5 Foto Manja Rini Puspitawati, Pemandu Lagu Seksi yang Kecelakaan Bersama Suami Orang)

“Kita buat bangunan yang terlihat lebih ringan. Secara psikologi lebih aman, sehingga mereka tidak memiliki pemikiran negatif, misalnya mati tertiban dinding. Oleh karena itu, kami memilih menggunakan GRC board dibanding batu bata, lalu kami gunakan pula bahan besi yang cukup kuat dan tahan gempa. Atapnya pun lebih fleksibel berbahan spandex, sehingga suhu ruangan tidak terlalu panas,” tambahnya.

Prinsip dasarnyanya tidak melewati proses darrat, namun bisa dibangun dengan cepat dan baik. Untuk pengerjaan satu sekolah, Yandi dan timnya membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan dengan biaya sebesar 390 juta. Biaya tersebut mencakup pembangunan 6 kelas yang dapat menampung 130 siswa TK dan SD, 1 ruang guru, dan 1 perpustakaan.

“Desain modulnya secara resmi sudah dilihat langsung oleh BNPB, dan kami mendirikan sekolah ini bekerjasama dengan sebuah yayasan. Sehingga ketika berbicara soal izin dan birokrasinya, sekolah ini sudah punya surat legal. Diharapkan program Sekolah Indonesia dapat dilaksanakan secara lebih luas untuk mewujudukan kesempatan belajar bagi anak-anak, khususnya yang terkena dampak bencana,” tukas Yandi.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini