Keluh Kesah Laura Dinda, Atlet Renang Cantik Peraih Emas Pertama di Paragames

Fienca Amelia , Jurnalis · Jum'at 19 Oktober 2018 18:44 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 19 196 1966310 keluh-kesah-laura-dinda-atlet-renang-cantik-peraih-emas-pertama-di-paragames-goF6CnwQ6M.jpg Laura Aurelia Dinda. (Foto: Situs UGM)

AJANG olahraga Asian Para Games pada Oktober 2018 memang sudah berakhir, tapi para atlet disabilitas masih menyisakan kenangan yang terbaik untuk mengharumkan nama Indonesia. Perjuangan mereka pun tidak sia-sia karena Indonesia meraih peringkat ke 4 setelah membawa pulang 33 medali emas, 43 perak dan 47 perunggu.

Salah satu atlet yang berjuang di Asian Para Games 2018 adalah Laura Aurelia Dinda. dia merupakan atlet dari cabang olahraga renang. dia sudah mengenal dunia renang sejak umurnya masih 7 tahun. Saat itu, dia benenang hanya untuk terapi asma. Namun, karena renang hanya membutuhkan sedikit tenaga.

Peristiwa yang menyebabkan Laura kehilangan sistem motorik kakinya itu berawal ketika dia terjatuh dari kamar mandi pada saat usianya 15 tahun. Sebagai orang awam, dia pun pecaya bahwa kakinya akan tidak apa-apa, karena masih bisa lari ke sana ke mari.

Baca Juga: Intip 4 Gaya Busana Habib Bule , Habib Bahar Smith yang Ditolak Masuk Manado

Tapi, seiring berjalannya waktu terjadi keanehan pada dirinya. Dokter pun mendiagnosis dirinya mengalami gangguan koordinasi pada tubuh bagian bawah. Kejadian ini, tidak hanya mempengaruhi fisik Laura saja, tapi ini juga mempegaruhi mentalnya.

“Selama satu tahun masa recovery, saya benar-benar bisa dibilang depresi lah. Ya namanya juga dulu tuh normal bisa lari ke mana-mana terus tiba-tiba karena suatu kejadian jadi gak bisa ngapa-ngapain. Itu tuh stress banget,” kata Laura Aurelia Dinda saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat

Meski demikian, dukungan dan semangat dari ibunda serta teman-teman yang diberikan kepadanya sangat berarti bagi hidupnya. Melihat dukungan dari mereka, membuat Laura bangkit dan tidak putus asa. “Jadi sekarang saya lebih bersyukur atas apa yang Tuhan rencanakan dengan saya,” kata Laura.

Dia pun mengikuti olahraga renang untuk difabel, karena renang biasanya mengandalkan kekuatan tangan dan kaki. Kesulitan yang dihadapi Laura yaitu mengangkat tubuh bagian bawah agar tidak tenggelam.

Baca Juga: Cobalah Posisi Seks Unicorn, Bisa Bawa Anda ke Negeri Dongeng

Awalnya, Laura sempat menganggap olahraga difabel ini hanya sebagai apresiasi bagi atlet difabel serta latihannya pun mudah dan hanya main-main. Tapi nyatanya tidak, karena Laura merasakan bagaimana perjuangan para disabilitas.

Berkat semangat dan dukungan kedua orangtua, Laura kini sudah memenangkan beberapa kejuaraan. Sosoknya bisa menjadi contoh agar anak-anak tidak mudah menyerah dengan keadaan yang terjadi.

Laura yang memiliki cita-cita menjadi seorang psikolog ini menuturkan, banyak masyarakat di Indonesia seringkali lebih memperhatikan kesehatan fisik saja. Padahal kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

“Jadi Indonesia tuh kesehatan fisik terus yang diperhatikan, tapi kesehatan mental tuh tidak pernah. Misalnya seperti saya, fisik saya seperti ini tidak sehat dan sempurna, tapi secara mental saya sehat karena bisa melakukan semuanya yang saya inginkan,” katanya.

Meskipun pernah mengalami depresi, dia mengaku bahwa peran seorang psikolog memang benar-benar sangat membantu untuk bangkit. Dari pengalamannya itulah, dia bertekad untuk menjadi seorang psikolog.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini