Spanyol Salip Jepang Tempati Urutan Pertama Negara dengan Angka Harapan Hidup Tertinggi pada 2040

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 23 Oktober 2018 12:50 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 23 481 1967755 spanyol-salip-jepang-tempati-urutan-pertama-negara-dengan-angka-harapan-hidup-tertinggi-pada-2040-gUCYQDcxQV.jpg Ilustrasi (Foto: Metroeve)

SELAMA bertahun-tahun, Jepang dikenal memiliki angka harapan hidup terpanjang di dunia. Berdasarkan data 2016, masyarakat di sana diperkirakan dapat hidup hingga usia 83,9 tahun. Tapi hasil penelitian terbaru mengatakan status ini akan digantikan oleh negara lain.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli di Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menganalisis data dari Global Burden of Disease 2016 untuk memperkirakan harapan hidup di 195 negara antara tahun 2017-2040. Dari hasil penelitian terungkap bila Spanyol akan menyalip posisi Jepang pada 2040. Para peneliti menemukan bahwa rata-rata orang di sana akan hidup hingga 85,8 tahun.

Angka itu sedikit lebih tinggi bila dibandingkan Jepang yang memiliki angka harapan hidup 85,7 tahun. Selanjutnya di posisi ketiga ditempati oleh Singapura dengan angka harapan hidup 85,4 tahun. Lalu ada Swiss dengan angka harapan hidup 85,2 tahun. Di posisi terakhir untuk lima besar ditempati oleh Portugal dengan angka harapan hidup mencapai 84,5 tahun.

Rata-rata angka harapan hidup bertambah hingga 4,4 tahun. Di Indonesia angka harapan hidupnya sampai 75 - 77,5 tahun dari yang sebelumnya sekira 70 tahun. Sayang di Amerika Serikat penambahannya hanya sedikit yaitu 1,1 tahun. Hal itu membuat posisinya menurun dari 43 ke 64.

angka harapan hidup

Baca Juga: Viral Curhatan Kaesang Pangareb: Saya Tidak Pernah Diajak Lagi, Cuitan Netizen Bikin Ngakak!

Banyak faktor yang menentukan angka harapan hidup suatu negara. Faktor-faktor itu berkaitan dengan kematian seperti tekanan darah tinggi, indeks massa tubuh yang tinggi atau obesitas, gula darah tinggi, penggunaan tembakau, dan konsumsi alkohol. Penggunaan obat-obatan terlarang juga menjadi faktor penentu karena tak sedikit orang yang meninggal karena overdosis narkoba.

“Di sebagian negara yang jumlah penduduknya banyak, penghasilan yang relatif rendah dan tingkat pendidikan rendah dapat menyebabkan kematian sebelum waktunya. Tetapi negara dapat membuat kemajuan lebih cepat dengan kebijakan yang membantu orang-orang untuk mengatasi risiko utama kematian, terutama merokok dan pola makan yang buruk," tandas direktur IHME Christopher Murray seperti yang dikutip Okezone dari New York Post, Selasa (23/10/2018).

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini