nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gejala Anemia pada Anak yang Sering Lolos dari Perhatian Ibu

Annisa Aprilia, Jurnalis · Selasa 23 Oktober 2018 20:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 23 481 1968010 gejala-anemia-pada-anak-yang-sering-lolos-dari-perhatian-ibu-8nlb3bDeC7.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

HARUS diakui anemia dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Sayangnya, para ibu tidak menyadari dan jarang memberikan perhatian jika anak menunjukkan gejala anemia.

Terkadang, gejala 5 L akibat anemia yang diidap anak kerap kali lolos dari pengetahuan para ibu. Mereka menyangka lemas, letih, lelah, lesu, dan lunglainya anak adalah efek dari kegiatan padat yang anak lakukan.

Padahal, bisa jadi itu adalah gejala anemia yang sedang dialami oleh anak. Anemia terjadi pada anak saat kadar hemoglobinnya rendah, hal ini pun dijelaskan oleh dr. Swasty Dwirayunita, Praktisi Medis, PT merck Tbk.

"Kadar hemoglobin yang normal untuk anak-anak yang berusia 5-11 tahun yaitu 11,5, yang bisa diketahui melalui cek darah. Sedangkan, anak yang berusia 12-14 tahun harusnya kadar hemoglobinnya 12, sementara untuk ibu tidak hamil kadar hemoglobinnya 12, dan ibu hamil kadar hemoglobinnya minimum 11, kalau kurang dari itu bisa dikatakan anemia," jelasnya pada acara Generasi Bebas Anemia SDN Cisitu, Serang, Banten, Selasa (23/10/2018).

 (Baca Juga:Anemia Jadi Penyebab Utama Tingginya Angka Kematian Ibu di Serang)

Lebih lanjut, Swasty menuturkan penyebab anemia bisa beragam, seperti kekurangan zat besi, cacingan, dan menstruasi. Pada anak yang cacingan, usus dalam tubuh dirusak, sehingga terjadi pendarahan yang menyebabkan anemia.

 

(Foto: Annisa Aprilia/Okezone)

"Harus diberikan suplemen tambah darah. Saat masa pertumbuhan anak sangat membutuhkan asupan tambah darah, saat hamil, dan menyusui pun sama. Jumlah orang yang mengidap anemia paling banyak karena kekurangan zat besi," imbuhnya.

Kaitan zat besi dengan anemia sendiri, yaitu zat besi lah yang membentuk struktur hemoglobin. Jika tidak ada zat besi, maka hemoglobin tidak dapat terbentuk. Sementara, hemoglobin memiliki tugas untuk mengikat oksigen yang kemudian disebarkan ke seluruh tubuh.

"Fungsi zat besi mengantarkan oksigen, pertumbuhan saraf, sel saraf memengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya anak-anak, pembelajaran, interaksi, dapat membentuk proses fokus anak, anak yabg kekurangan zat besi fokusnya berkurang," ujar Swasty.

 (Baca Juga:Fakta-Fakta HIV/AIDS, dari Gejala hingga Ibu Rumah tangga Penderita paling Banyak di Indonesia)

Dalam pemaparannya, Swasty mengungkapkan angka kejadian anemia dari penelitian Sekartini pada 2005 di Jakarta ada 38 persen, dengan anak usia 8-12 bulan mencapai angka 73,3 persen. Sedangkan, pada hasil RISKESDAS 2013 anak berusia 5-14 tahun ada sekira 26,4 persen yang mengidap anemia atau 1 dari 4 orang anak di Indonesia mengalami anemia.

 

(Foto: Shutterstock)

"Gejalanya 5L lesu, lemah, letih, lelah lunglai, wajah pucat, sering pusing, dan nafsu makan berkurang," paparnya.

Anemia bahkan dapat memengaruhi pertumbuhan sel saraf pada anak yang paling banyak terjadi di otak. Proses pembentukannya menurut pemaparan Swasty terjadi mulai di janin, sejak usia 6-24 bulan pembentukan saraf terjadi puncaknya pada 12 bulan. Pembentukan saraf di otak pada anak usia 6-24 bulan paling cepat dan besar pertumbuhan saraf di otak.

"Pada anak usia 6-12 bulan rentan kekurangan zat besi yang efeknya jangka panjang dan permanen. Efeknya seperti gampang lelah, capek, mudah marah, perhatiannya menurun, mengikuti pelajaran sulit, prestasi menurun, bahkan ada penelitian menunjukkan hitungan matematikanya jadi rendah," ucap Swasty.

Akibat lainnya, anemia dapat memengaruhi pertumbuhan tubuh anak jadi lebih pendek, konsentrasi belajar terganggu karena sulit fokus, prestasi menurun, dikelas gampang mengantuk, dan saat olahraga pun mudah capai. Untuk mencegahnya, anak-anak perlu makan makanan tinggi zat besi ada dari hewan, seperti daging merah, hati, telur, dan sayuran, seperti bayam, kangkung kacang, olahraga teratur, dan istirahat cukup sekira 6-8 jam tidur malam, jika diperlukan minum suplemen zat besi.

"Membedakan anak tidak mau makan karena anemia atau bukan harus melalui pemeriksaan. Memang perlu dikonsultasikan pada dokter, jika hanya tidak mau makan bisa jadi bukan disebabkan oleh anemia, tapi lebih tepatnya memang lewat pemeriksaan lab," tandasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini