nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Resign karena Masalah Prinsip, Sebuah Pilihan Generasi Milenial

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 25 Oktober 2018 05:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 25 196 1968648 resign-karena-masalah-prinsip-sebuah-pilihan-generasi-milenial-KPy1fIZqOH.jpg

AKANKAH Anda mengundurkan diri dari pekerjaan atas pertimbangan prinsip dan etik? Beberapa waktu lalu, puluhan karyawan Google baru saja melakukannya.

Mereka meninggalkan Google atas keterlibatan perusahaan teknologi itu dalam sebuah proyek bernama Maven. Proyek itu mencakup penyediaan data untuk pesawat nirawak milik Angkatan Darat Amerika Serikat.

Ada pula ketidaksetujuan yang lebih luas para dari karyawan itu, terkait kepemimpinan petinggi saat menghadapi etika dasar pekerjaan mereka.

Banyak dari kita menghadapi dilema etik yang lebih awam. Akankah anda menolak penghasilan besar karena anda tak setuju pada sikap yang diambil perusahaan, misalnya dalam isu lingkungan, uji coba menggunakan hewan atau sekadar cara mereka memperlakukan konsumen.

Jika anda menjawab iya, data menunjukkan anda masuk kategori milenial. Banyak kajian menyatakan kecenderungan ini, lebih dari generasi sebelumnya, milenial termotivasi membuat perbedaan melalui pekerjaan.

Banyak di antara mereka meninggalkan pekerjaan dan mencari yang lebih sesuai dari segi etik dan budaya, meski pilihan itu berdampak pada penghasilan. Tapi apakah fenomena ini benar-benar ada? Siapa yang dapat menanggung pilihan seperti itu?

Konsekuensi mundur dari kantor

Generasi milenial sering dianggap sebagai kelompok yang senang berpindah-pindah pekerjaan. Sejumlah kajian menunjukkan ketidakmauan kita bertahan dalam pekerjaan tetap atau mengikuti tangga menuju kepemimpinan manajemen.

Sejumlah industri tradisional sulit mempertahankan orang-orang muda yang baru mereka rekrut. Penelitian tahun 2017 oleh Institute Pemberi Kerja Siswa memperlihatkan, 46% sarjana di Inggris meninggalkan kantor pertama mereka setelah lima tahun.

Persepsi umum yang ada bahwa banyak anak muda meninggalkan pekerjaan untuk mengejar cita-cita atau berkelana ke seluruh dunia.

Namun menanggalkan karier di perusahaan demi plesir atau memulai usaha adalah keputusan drastis yang memiliki konsekuensi. Hanya sebagian orang yang benar-benar dapat menanggung resikonya.

Penelitian secara konsisten menunjukkan, tak bekerja selama periode waktu tertentu dapat merendahkan nominal penghasilan, bahkan sampai puluhan dolar atau puluhan juta rupiah per tahun. Hal yang sama juga menurunkan kualitas dan kepuasan terhadap pekerjaan berikutnya.

Christian Byfield, mantan bankir dan konsultan investasi asal Kolombia, meninggalkan penghasilan besar dan tak mencari pekerjaan yang sama setelahnya.

Dalam forum TedX Talk di Bogota, Byfield berkata, setelahnya ia justru memulai perjalanan keliling dunia. "Banyak hal mulai terjadi karena saya mulai mengikuti kata hati," ujarnya.

Setelah beberapa tahun penghasilannya tak menentu, Byfield akhirnya menjadi figur berpengaruh bagi banyak orang di bidang perjalanan. Namun Byfield adalah pengecualian. Banyak dari kita harus memikirkan keuangan ketika mengambil keputusan.

Demi segala hal yang enak dibicarakan, kita harus berkorban untuk membuat perbedaan. Bukti menunjukkan, hal utama yang mendorong kita mengambil sebuah pekerjaan tetaplah urusan finansial.

Survei terkini Delloit terhadap milenial mengungkap, 63% orang di kelompok itu mempertimbangkan penghasilan sebagai faktor utama yang sangat penting sebelum menerima tawaran pekerjaan.

Sementara kajian yang dilakukan Triplebyte, perusahaan rintisan yang merekrut sarjana teknik untuk perusahaan teknologi, menemukan fakta, 70% orang yang menerima dua tawaran akan memilih pekerjaan yang memberi gaji lebih besar. Kecenderungan itu persis seperti yang dilakukan generasi orang tua mereka.

Aspek negatif pengambilan keputusan ini tak masuk akal bagi hampir sebagian besar orang. "Tak benar bahwa milenial tak menginginkan stabilitas," kata Lee Caraher, penulis buku berjudul Millennials & Management. Faktanya, kita lebih membutuhkan stabilitas finansial dibandingkan orang tua kita.

Di banyak negara, kita menanggung beban peningkatan utang biaya sekolah. Dampak krisis menunda progres ekonomi dan pengambilan keputusan besar kita terkait finansial.

Pada umumnya, sejumlah penelitian terkini mempertanyakan apakah milenial benar-benar lebih mengejar pekerjaan mapan berpenghasilan tinggi daripada pendahulunya.

Di AS, data statistik terakhir Pew Research menunjukkan bahwa kita sama mungkinnya untuk bertahan dalam suatu pekerjaan dibandingkan anggota Generasi X dalam usia yang sama.

Sebuah studi di antara banyak kajian itu memperlihatkan pergantian cepat di sebuah perusahan bukanlah hal baru yang dibawa oleh milenial.

Maria Reyes (bukan nama sebenarnya), adalah seorang manager perusahaan retail berusia 26 tahun yang tinggal di Kolombia. Saat ia memulai pekerjaan itu sebagai karyawan magang, dia merasa budaya perusahaanyna bertentangan dengan ekspektasi dan keyakinannya. "Perusahaan ini tidak mempedulikan orang sama sekali," ujarnya.

Namun Reyes bertahan dengan pekerjaannya. Dia bahkan meneken kontrak khusus berdurasi dua tahun sebagai ganti biaya pelatihan yang mahal di luar negeri — yang harus ditebusnya jika mengundurkan diri.

Akhirnya Reyes dipromosikan ke jabatannya yang sekarang dan konflik internal semakin dalam. Ia bertugas menghubungkan penyedia produk dan melakukan apapun demi keuntungan, tanpa mempedulikan pihak lain.

Reyes tak senang berkerja terburu-buru untuk uang, terutama pengeluaran perusahaan kecil yang sangat bergantung pada keputusannya. "Saya percaya kedua pihak seharusnya sama-sama untung, bukan salah satu dari mereka saja," tuturnya.

Namun persoalannya, Reyes terlalu senior untuk pekerja seusianya. Jika dia hendak melamar pekerjaan yang sama di tempat lain, dia tak yakin akan berhasil.

Reyes ragu apakah dia bahkan dapat melaju hingga tahap wawancara, dan menyebut tak terlalu banyak lowongan untuk pekerjaannya. Beralih kerja adalah keputusan yang tidak bijak. Situasi semakin memburuk saat milenial bertambah dewasa, memiliki anak, dan mengambil kredit.

(Baca Juga: Meghan Markle Pamer Baby Bump Dalam Balutan Gaun Floor Length Cape)

Marcela Cardona (bukan nama asli) memulai kariernya sebagai praktisi farmasi demi menolong orang lain. Namun ia segera merasa kewalahan dengan dilema etik dan situasi penuh pertanyaan yang dihadapinya. "Ini adalah bisnis dan tujuannya mencari keuntungan, bukan menolong orang," tuturnya.

Cardona segera mengambil pendidikan strata dua di ilmu bioteknik, untuk lebih memahami implikasi dari pekerjaannya — dan barangkali juga memulai karier baru. Namun ketika dia hamil, segala hal berubah. Memiliki anak perempuan yang harus dirawat, dia tak bisa lagi mengubah haluan.

Dia berganti pekerjaan dengan harapan situasinya akan berubah, tapi dia tetap menghadapi masalah yang sama. Cardona tetap tak bahagia dengan pekerjaannya. "Tapi Anda harus realistis," kata dia.

Sejumlah orang lebih beruntung

Tidak semua pekerjaan setara, beberapa sektor lebih fleksibel. Sejumlah keterampilan sangat dicari, artinya ada lebih banyak pilihan untuk dipilih.

“Para insinyur di Silicon Valley misalnya, sangat dihargai dan dapat menuntut lingkungan pekerjaan mereka,” kata Ammon Bartram, pendiri Triplebyte.

Batram mengatakan, orang-orang di area yang tak berkaitan dengan teknis, seperti hubungan masyarakat atau jasa di bidang hukum tak akan memiliki peluang yang sama dengan para ahli pembuat program komputer. Dan terkait cuti panjang, konsekuensinya tak begitu besar jika Anda adalah insinyur berbakat.

"Jika mereka secara teknis jago, para insinyur membayar sesuatu dalam perkembangan karier, tapi biasanya mereka akan kembali ke posisi sebelum mereka absen," kata Batram.

Namun di bidang lain seperti ilmu sosial dan komunikasi, di mana penghasilan lebih rendah dan lowongan langka, pengambilan keputusan akan semakin sukar.

Biasanya, semakin besar penghasilan yang disimpan, baik dalam bentuk tabungan, aset, maupun keterampilan khusus, maka akan semakin mudah menentukan masa depan tanpa mengorbankan gaji.

Membuat perbedaan?

Bagi banyak milenial, solusi yang lebih masuk akal adalah menyesuaikan pekerjaan dengan nilai dan prinsip sejak awal. Penelitian akademik dan kajian industri menunjukkan, generasi ini ingin perusahaan mereka menaati etika, berkomitmen pada keberagaman, dan berperan untuk membuat dunia yang lebih baik. "Generasi tua tidak pernah bertanya mengapa dan mengerjakan perintah yang mereka dapatkan," kata Caraher.

Pekerja yang lebih muda, bagimanapun, perlu memastikan mereka memahami nilai-nilai perusahaan dan peran mereka dalam manajemen. "Mereka ingin terlihat berarti dalam pekerjaan mereka. Mereka ingin memastikan mereka memberi dampak positif bagi tim."

Para psikolog selalu menemukan kecenderungan, titik keseimbangan prinsip antara pekerja dan perusahan merupakan faktor krusial yang menentukan kepuasan pekerja dan keuntungan korporasi.

Sejumlah perusahan, terutama yang besar, bekerja keras mengkomunikasikan nilai-nilai mereka. Batram berkata, citra yang kuat akan memudahkan mereka menarik perhatian orang-orang yang sesuai dengan prinsip itu. "Namun perusahaan kecil harus berbuat ekstra untuk terlihat dan salah satu strategi yang efektif adalah menekankan efek positif usaha mereka."

Kabar baiknya, desakan pekerja dapat mendorong perubahan nyata. Banyak korporasi mapan berupaya keras memenuhi aspek ini melalui kegiatan filantropi, tanggung jawab sosial, dan menanamkan etik secara lebih eksplisit.

"Menawarkan pedoman etik semakin penting untuk menarik perhatian talenta muda," kata Caraher.

Sebaliknya, dampak skandal Google membawa harapan. Perusahaan itu tak memperbarui kerja sama proyek Maven di tengah kritik karyawan dan menyingkirkan sebagian kontrak menguntungkan dengan Kementerian Pertahanan AS. Alasan mereka, proyek itu tak sesuai dengan prinsip teknologi kecerdasan komputasional.

Itu adalah pengorbanan, tapi raksasa tekonologi itu dapat menanggung resikonya. Sejumlah pekerja mereka sepertinya juga tak ragu mengutamakan prinsip terlebih dulu: mata pencaharian mereka tidak rentan dan mereka memiliki prospek kerja yang bagus di manapun.

(Baca Juga: 5 Gaya Tere Mariana, Pramugari Cantik Pesawat Kepresidenan RI yang Senyumnya Melelehkan Hati)

Tapi bagi sebagian besar orang yang merasa konflik pekerjaan dan prinsip, kabar buruknya, membuat perbedaan dan mengejar keinginan adalah keputusan yang berkaitan dengan finansial. Dan keputusan itu lebih baik diambil dengan pikiran yang bersih serta hitung-hitungan penghasilan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini