nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Butuh Platform Digital untuk Ikuti Karakter Wisatawan Milenial

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 26 Oktober 2018 15:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 26 406 1969347 butuh-platform-digital-untuk-ikuti-karakter-wisatawan-milenial-2t4IUdcbG6.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

GENERASI milenial dinilai menjadi target pasar pariwisata yang berpengaruh. Tidak hanya di Indonesia, wisatawan milenial mancanegara pun turut dianggap mampu meningkatkan angka kunjungan pariwisata oleh para pelaku industri pariwisata.

Akan tetapi, generasi milenial yang dikenal dengan semangat membaranya pun memiliki kelemahan yang harus diperhatikan oleh pemerintah khususnya Kementerian Pariwisata dan para pelaku industri pariwisata. Selain dinamis, generasi milenial juga kerap merasa jenuh pada hal yang sudah mainstream atau pernah dirasakan.

"Kejenuhan yang menjadi salah satu sifat milenial yang dijadikan tantangan. Kita harus selalu dinamis, karena marketnya pun dinamis, Pak Hermawan telah menjelaskan sub culturenya milenial tourism, yang digital savvy, adventure, dan experience, saya pun sepakat, karena memang mereka ada yang suka dengan petualangan, pengalaman, dan digital," jelas Rizki Handayani, Deputi Pengembangan Industri Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, pada Okezone dalam acara Forum Group Discussion, Strategy Marketing: Mengelola dan Merebut Millennial, Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (25/10/2018).

 (Baca Juga:Menpar Arief Yahya Ajak Startup untuk Promosi Industri Pariwisata)

Tidak hanya merasa tertantang, Rizki pun membeberkan, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata harus menggunakan sebuah platform dan tools untuk menghadapi tantangan tersebut. Dengan adanya platform digital yang digunakan, strategi untuk merebut hati para wisatawan mancanegara milenial pun bisa dimenangkan.

 

"Kita harus merumuskan empat sub culture tadi, di mana kaitannya dengan platform dan tools apa untuk memenuhi kebutuhan ini, mau tidak mau digital, karena milenial pun menggunakan. Jadi, saya bilang sebenarnya ini adalah dinamis, strateginya harus dilihat konten digitalnya yang penting. Kalau platform banyak orang yang buat, yang penting platform memenuhi empat jenis sub culturenya milenial," imbuh Rizki.

Di sisi lain, tren konsep wisata yang akhirnya terjadi pergeseran, menurut Rizki untuk menyiasatinya pengelola destinasi harus selalu kreatif. Pasalnya, kalau tidak maka pasar bisa direbut oleh saingan. Namun, meski selalu ada perubahan dan baru, generasi milenial juga akan ada kelompok yang baru, jadi perputarannya tidak berhenti.

"Singkatnya, kenapa Bali selalu dikunjungi? Karena di Bali selalu ada yang baru, kenapa juga selalu ada yang baru? Karen dia terbuka dengan hal baru," ujarnya.

 (Baca Juga:Rencanakan Liburan Akhir Tahun Kamu dari Sekarang, Ini Tipsnya!)

Selain itu, hal yang tidak kalah penting pada industri pariwisata, berdasarkan pandangan Rizki, yaitu conectivity dan networking. Setiap wisatawan milenial akan menceritakan tempat-tempat dan hal menarik yang pernag dia alami pada wisatawan lainnyanyang dia temui.

"Misal ada turis dari Jawa Barat kemudian ke Bali, ada yang menarik dari Jawa Barat, biasanya ia akan menceritakannya kepada orang yang dia temui di Bali, jadi orang akan sharing. Memang conectivity dan networking menjadi penting, dan sangat dipermudah oleh gadget," jelasnya.

Jadi, menurut Rizki, industri pariwisata harus terus berinovasi dan cepat. Jika pemerintah ingin terus berkembang dan berkelanjutan, maka tren harus terus diikuti.

"Ini juga yang kita harapkan pada teman-teman yang bergerak di industri pariwisata. Untuk teman-teman yang biasa konvensional, Anda harus pikirkan, kita juga lihat, yang misal sekarang generasi milenial, 15 tahun kemudian bukan itu lagi, walau Pak Hermawan bilang, 'Saya bukan umur milenial, tapi karakternya milenial,' ini akan bergulir terus, mungkin ada sesuatu yang baru tapi itulah hidup, selalu berubah," ungkapnya.

Bicara soal waktu, sikap orang atau kelompok menurut Rizki tidak bisa diprediksi. Sikap generasi milenial setiap negara pun berbeda, ini harus terus pemerintah dan pelaku industri pariwisata ikuti, dan dari platform digital-lah yang bisa menjawab.

"Kita harus punya platform digital untuk membaca sikap wisatawan. Sekarang aplikasi traveling tahu banyak wisatawan milenial kemana. Jadi, sudah ketahuan karakternya seperti apa dan pergeserannya ke mana. Kita harus punya strategi lagi, kalau kita punya digital platform maka kita punya big data," tandas Rizki.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini