nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Lebih Dalam Rasa Takut, Bisakah Disembuhkan?

Leonardus Selwyn, Jurnalis · Senin 29 Oktober 2018 10:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 29 196 1970234 mengenal-lebih-dalam-rasa-takut-bisakah-disembuhkan-9OcrqAJnKs.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

DALAM diri seseorang, rasa takut muncul karena banyak faktor mulai dari trauma yang tidak bisa disembuhkan atau karena daya pikir yang terlampau jauh dan diamini oleh otak dan alam bawah sadar.

Secara tidak langsung, konsep ketakutan ini menjadi bagian dalam diri seseorang dan terus berlangsung, sampai orang tersebut dewasa bahkan lansia. Tapi tahukah Anda kalau rasa takut itu banyak jenisnya?

Dikutip Okezone dari Daily Mail, Senin (29/10/2018), sebelum mengenal lebih jauh mengenai rasa takut, Anda mesti tahu apa faktor yang mendasari munculnya ketakutan.

Baca Juga: Penampilan Pedangdut Meldi yang Milenial, Style Keponakan Dewi Perssik Ini Bisa Kamu Tiru!

Salah satu ciri seseorang ketika takut adalah jantung berdegup kencang, pendengaran terasa lebih tajam, keringat bercucuran sebesar biji jagung, dan Anda merasa kaki terasa sangat tegang dan kaku. Siapa sangka, kondisi tersebut ternyata dibangun oleh tubuh untuk mempersiapkan diri manusia bertarung dengan rasa takut tersebut.

Seperti yang dijelaskan Psikolog Dr Katherine Brownlowe, kondisi itu adalah mekanisme yang secara permanen ada di seluruh spesies dalam hal bagaimana otak menyadari ada sesuatu yang harus ditakuti dan kemudian tubuh memberikan respons.

"Entah itu kelinci atau manusia yang melihat sesuatu di lingkungan yang bisa menjadi ancaman, itu adalah neurobiologi yang sama yang menyebabkan mereka berhenti dan tiba-tiba menjadi penuh perhatian dan fokus," kata Katherine.

Apa yang dirasakan sebagai rasa takut yang tak tergoyahkan adalah sifat evolusioner yang sangat penting untuk bertahan hidup, mempersiapkan tubuh kita untuk membela diri dari serangan, atau lari dari bahaya. "Faktanya bahwa hal tersebut di luar dari kendali tubuh Anda," sambung Katherine.

Baca Juga: Potret Menggemaskan Anak-Anak Kardashian di Bali, Terlihat Damai!

Hal ini memungkinkan Anda untuk segera menaruh perhatian penuh pada sesuatu yang bisa berbahaya, dan itu adalah bagian otomatis dari pikiran sadar manusia. Pikiran sadar itulah yang menjadi pembeda antara ketakutan manusia dengan hewan.

Nah, setelah tahu bagaimana rasa takut itu muncul dan apa reaksi tubuh karena hal tersebut, kini Anda mesti tahu bahwa ketakutan bisa terjadi karena alasan rasional dan irasional. Bagaimana membedakannya?

Salah satu cara membedakannya adalah ketika Anda merasa takut tapi tidak tahu karena alasan apa. Sebut saja ketika Anda merasa kurang produktif dan Anda gelisah atau saat lampu kamar dimatikan dan Anda berkhayal akan datang monster besar dari balik kegelapan. "Garis antara rasa takut yang sehat dan tidak sehat harus bisa dilihat dari tujuannya," jelas Dr Katherine.

Ketakutan dan kecemasan manusia sebetulnya membantu Anda mempersiapkan diri untuk masa depan dan bertindak dengan pandangan ke depan, tetapi perubahan di otak dapat mengubah perasaan itu menjadi sesuatu yang berfungsi untuk melarikan diri. "Menariknya, ada sirkuit yang memungkinkan otak mengalami ketakutan dan kecemasan sebagai bagian normal dari keberadaan," terang Dr Katherine.

Maksudnya, ketika rasa takut itu muncul tingkat kesadaran otak memahami hal tersebut menjadi sangat lemah dan ini yang membuat ketakutan semakin menjadi-jadi. Hal ini sangat subjektif dan itu kenapa ada orang yang bisa takut dengan kecoa ada yang tidak.

Meski demikian, Dr Katherine menegaskan bahwa ambang batas pada ketakutan sangat bervariasi. "Tidak semua orang takut pada satu hal yang sama. Sebagian orang umumnya sensitif terhadap kecemasan dan ketakutan," singkatnya.

Salah satu alasannya adalah tingkat kedewasaan. Sebab otak Anda belajar membedakan antara ancaman asli dan gangguan baru terhadap lingkungan.

Ketika Anda mengumpulkan lebih banyak pengalaman, Anda memberi makan otak Anda lebih banyak konteks dan sejarah untuk mendasari perbedaan-perbedaan ini. "Bagian otak yang matang tahu ketika Anda hanya berada di sebuah film, sehingga otak Anda lebih siap untuk memodulasi atau menolak perasaan takut itu," terang Dr Katherine.

Otak kita pun tidak bisa membedakan antara ketakutan yang menyenangkan dan ketakutan yang nyata. Dalam situasi yang ambigu, otak beberapa orang hanya dialihkan ke kepekaan yang lebih rendah terhadap rasa takut. Ini adalah bagian dari temperamen mereka, dalam bahasa psikolog.

"Beberapa orang memiliki temperamen di mana mereka adalah pencari sensasi. Mereka tidak sensitif terhadap pengalaman rasa takut dan otak mereka mencari ketakutan itu hanya untuk mendapatkan kesenangan," ujar Dr Katherine.

Oleh karena itu, semakin sering Anda bertemu dengan subjek ketakutan, maka semakin sering juga otak menafsirkan makna di balik rasa takut tersebut. Terlebih jika Anda memasukan definisi atau konteks faktual ke dalamnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini