nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Natalie Massenet, Sosok Berpengaruh pada Bisnis Fashion di Abad 21

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 02 November 2018 15:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 02 194 1972443 natalie-massenet-sosok-berpengaruh-pada-bisnis-fashion-di-abad-21-uklGH9Q59l.jpg Natalie Massenet (Foto: 10Magz)

NATALIE Massenet adalah sosok visioner di bidang fashion pada abad ke-21. Pemikirannya mengenai ecommerce menjual produk fashion mewah telah ada sejak 20 tahun lalu dan kini bisnisnya terus berkembang.

Perempuan bernama lengkap Dame Natalie Sara Massenet ini lahir pada 13 Mei 1965 di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Dia adalah putri satu-satunya dari pasangan model asal Inggris, Barbara Jones, dan jurnalis Amerika, Robert L Rooney. Meski lahir di Amerika Serikat, perempuan yang akrab disapa Natalie ini dibesarkan di Paris dan pindah ke Los Angeles untuk tinggal bersama ayahnya pada usia 11 tahun, setelah orang tuanya bercerai. Saat masih remaja, Natalie pernah bekerja di toko pakaian laki-laki di Los Angeles.

Setelah belajar sastra Inggris di Universitas California, dia menghabiskan satu tahun bekerja di Tokyo, Jepang, sebagai model dan stylist . Pekerjaan awal lainnya, termasuk bekerja sebagai resepsionis di Universal Studio dan membantu di majalah Italia, Moda .

BACA JUGA:

5 Aksi Heroik Pilot yang Lakukan Pendaratan Darurat, Salah Satunya di Bengawan Solo

“Di majalah tersebut, saya bekerja dengan fotografer terkenal Mario Testino,” ujar Natalie, seperti dilansir Businessoffashion.com. Natalie memulai kariernya sebagai jurnalis mode di Women’s Wear Daily (WWD ) pada tahun 1993. Setelahnya dia pindah ke London dan bekerja sebagai asisten Isabella Blow di majalah Tatler. Pada usia 33 tahun, tepatnya pada 1998, Natalie memiliki ide cemerlang untuk mendirikan situs web di mana perempuan dapat menemukan dan membeli produk fashion mewah favorit di mana pun perempuan tersebut tinggal di dunia.

“Saya akhirnya secara resmi mendirikan Net-a-Porter pada tahun 2000 di London sebagai situs web dalam format majalah untuk menjual pakaian mewah dari desainer ternama. Ide itu muncul setelah saya berusaha untuk mencari produk secara online untuk pemotretan mode,” ujar Natalie. Bisnis ini diluncurkan di flat sederhana Natalie di Chelsea. Saat itu dia hanya mempekerjakan dua karyawan. Awalnya, operasi bisnis sangat rendah sehingga kotak pengiriman Net-a-Porter ditumpuk di bak mandi. “Konsep di balik situs itu adalah untuk dapat ‘mengklik’ pada gambar pakaian dalam format majalah dan langsung membelinya,” ujar Natalie.

Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal , Natalie mengatakan telah meninggalkan karier impiannya di bidang jurnalisme fashion untuk membawa gagasan mengenai belanja online barang fashion mewah. Butuh beberapa tahun baginya untuk menyadari bahwa ia telah menciptakan sebuah format penjualan barang fashion pada abad ke-21.

“Awalnya, ide menjual secara online produk fashion mewah tidak menarik bagi para desainer dan investor. Mereka tidak bisa membayangkan menjual barang mewah tanpa gerai ritel fisik,” ujar Natalie. Meski idenya diragukan para desainer dan investor, Natalie tidak patah semangat.

 

Pada tahun 2001 dia membujuk desainer sekaligus teman dekatnya, Roland Mouret, untuk menjual koleksi pertamanya melalui situs Net-a-Porter . “Saya dapat melihat peluang dan saya sangat cepat untuk menyoroti dan mengembangkan hal itu,” ujar Natalie. Penjualan barang fashion mewah ini sukses besar di pasaran. Pada awal tahun penjualan Natalie yang dibantu suaminya kala itu mendapat keuntungan hingga 1,2 juta poundsterling (Rp22 miliar). Pelan namun pasti, nama situs Net-a-Porter mulai diperhitungkan di kancah bisnis fashion .

Pada 2004 situs web ini mulai mendapat banyak publisitas karena kesuksesannya sehingga memenangi penghargaan toko pakaian terbaik di Fashion Awards , Inggris. Perusahaan ini kemudian meluncurkan situs diskon mode The Outnet pada tahun 2009. Pada September 2013 Net-a-Porter telah mempekerjakan 2.600 orang di Inggris, Amerika Serikat, Hong Kong, dan China. Situs web Net-a-Porter berubah menjadi Net-a-Porter Group yang pernah mencapai keuntungan tertinggi hingga 350 juta poundsterling (Rp6,6 triliun). Namun, pada September 2015, Natalie mengumumkan untuk mengundurkan diri dari perannya di Net-a-Porter Group. Pengumuman ini datang hanya beberapa minggu sebelum merger perusahaan dengan raksasa e-commerce asal Italia, Yoox Group.

“Saya tidak memiliki rencana khusus dalam bisnis fashion , selain untuk beristirahat,” kata Natalie. Dua tahun setelah mengundurkan diri dari Net-a- Porter , tepatnya pada Februari 2017, wirausahawan perempuan itu menegaskan bahwa dia bergabung dengan platform e-commerce mode, Farfetch . Dia bekerja sebagai wakil ketua noneksekutif untuk mendampingi Jose Neves. Situs ini menjual barang-barang fashion mewah melalui jaringannya dari 700 label fashion global.

BACA JUGA:

Rekan Satu Grup Terlibat Kecelakaan, Pramugari Ini Tulis Pesan Mengharukan

“Strategi bisnis telah berubah banyak dalam e-commerce selama 20 tahun terakhir. Untuk berhasil dalam e-commerce hari ini, Anda harus menjadi lebih dari platform . Daripada memulai sesuatu dari awal, jauh lebih baik untuk bergabung dengan ahli di bidang ini,” ujar Natalie.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini