nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Raup Keuntungan dari Limbah Sampah Disulap Tas Cantik

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Minggu 04 November 2018 09:11 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 04 194 1973053 raup-keuntungan-dari-limbah-sampah-disulap-tas-cantik-vKIpaw1gbz.jpeg Bahan Sampah Diolah Jadi Tas Cantik (Foto: Pexels)

TAS adalah barang yang cukup penting untuk membantu aktivitas sehari-hari manusia. Pada dasarnya, tas berfungsi untuk menyimpan beraneka benda agar lebih mudah dan ringkas untuk dibawa kemana saja.

Alhasil saat ini banyak orang yang menjual tas yang menawarkan kompartemen yang sangat luas untuk menyimpan banyak barang. Selain itu fungsi tas saat ini juga banyak yang berubah fungsi menjadi sebuah gaya hidup yang menambah estetika seseorang.

Meski demikian, untuk mendapatkan sebuah tas yang bagus dan unik, Anda tidak harus membelinya dengan harga yang mahal dan mewah. Zaman sekarang ternyata banyak kreasi tas-tas unik yang berbahan dasar limbah/sampah.

Namun, Anda jangan jijik terlebih dahulu. Dengan tangan yang cekatan, sampah-sampah tak berguna ini bisa diolah dengan baik menjadi sebuah benda pakai yang memiliki harga jual yang bagus. Penasaran apa saja? Merangkum dari berbagai sumber, Okezone akan membahas aneka tas berbahan dasar sampah.

1.Tas dari bungkus produk plastik

Warga desa Tanjung Ibus kecamatan Secangan kabupaten Langkat Sumatera Utara, berhasil mengubah barang yang tidak berharga dan diabaikan menjadi sesuatu yang unik seperti tas undangan, tas ke pasar,dan tas untuk anak muda masa kini.

Awalnya sekedar mencoba-coba para kaum ibu muda ini sambil mengisi waktu luang berhasil membuat kreasi tas dari bahan daur ulang. Dengan memotong bagian bungkus pewangi dan bungkus susu, menjalinnya hingga menjadi suatu tas yang bernilai ekonomis

Harga tas ini bervariasi dari Rp15 ribu hingga Rp50 ribu. Pemasaran tas ini sudah sampai keluar daerah,namun karna keterbatasan modal maka mereka hanya menyiapkan tas berdasarkan pesanan.

Pengrajin mengaku bahwa mereka tidak memiliki dana untuk membuat tas dengan jumlah lebih banyak,sebab bahan daur ulang ini dibeli mereka dari pengumpul sampah. Ide pembuatan ini berawal saat melihat tas milik teman yang ternyata berasal dari bahan daur ulang.

2.Tas dari botol plastik

Limbah gelas-gelas minuman kemasan yang tak terpakai berhasil disulap menjadi tas cantik oleh puluhan pekerja seks komersil (PSK) di lokalisasi Balong Cangkring, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

Awalnya, limbah gelas minuman ringan berbagai merek dipisah menurut warna dan jenisnya. Selanjutnya, para PSK pengerajin memotong gelas tersebut untuk memisahkan antara mulut gelas (yang berbentuk lingkaran) dengan plastik cangkir di bawahnya.

Proses pemisahan dilakukan secara manual menggunakan cutter atau silet. Para PSK hanya mengambil bagian plastik yang berbentuk lingkaran. Kemudian, satu per satu plastik berbentuk lingkaran itu dirangkai menggunakan benang manila menjadi satu bagian panjang.

Kemudian, tiga hingga empat rangkaian plastik berukuran panjang itu dirangkai lagi menggunakan benang hingga membentuk tas. Agar tas terlihat lebih cantik, para pengerajin menempelkan bunga dan kain.

3.Tas dari daun pandan

Tas yang terbuat dari daun pandan memang sudah ada sejak dahulu. Namun, dengan sentuhan kreatif dari Ike Norawati, tas sederhana ini bisa berubah menjadi sebuah karya yang sangat indah dan memiliki harga jual yang tinggi.

Warga desa di kecamatan Diwek, Jombang telah menjadikan salah satu teras rumah untuk digunakan sebagai pabrik pembuatan tas kecil-kecilan. Tas ini memiliki harga yang lumayan mahal, yakni bisa mencapai Rp 200-300 ribu.

Yang membuat tas ini menjadi mahal adalah adanya kreasi unik berupa hiasan pernak-pernik dan bunga-bungaan yang dirangkai dengan baik.

4.Tas dari kain perca

Tumpukan limbah kain perca dari sejumlah rumah konveksi biasanya dibiarkan menumpuk dan dibuang begitu saja. Beberapa masyarakat ada pula yang menupuknya sebelum dibakar agar menjadi abu.

Namun, Janu Riwayat dan almarhum kakaknya memiliki persepsi yang berbeda. Ia mampu menyulap limbah tersebut menjadi beragam produk fesyen yang punya nilai jual.

Bermodal uang Rp 500 ribu dan mesin jahit bekas, ia membanderol hasil jerih payahnya dengan harga mulai dari Rp 50-200 ribu per buah. Semuanya tergantung dengan tingkat kerumitan motif dan modelnya.  

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini