Mengenal Zoonosis, Penyakit Ancaman Kesehatan Masyarakat Global

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 07 November 2018 14:40 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 07 481 1974519 mengenal-zoonosis-penyakit-ancaman-kesehatan-masyarakat-global-RPgcv69YY3.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

KEMAJUAN manusia di bidang kesehatan telah diimbangi dengan munculnya serangkaian penyakit berbahaya yang mengancam kehidupan. Tak hanya di Indonesia, namun penyakit ini menyerang dunia secara global, alhasil berbagai negara mencari solusinya dengan ikut serta dalam forum diskusi Global Health Security Agenda (GHSA) yang diadalan di Nusa Dua Convention Hall, Bali mulai 5-8 November 2018.

Berbicara mengenai penyakit menular berbahaya yang menyerang secara global, Kepala Litbangkes, DR Siswanto, mengatakan saat ini banyak sekali timbul penyakit baru yang disebut dengan New Emerging Infection Disease. Menurutnya sebagian besar penyakit tersebut menular dari infeksi yang disebabkan oleh hewan.

"Dalam konteks itu, ancaman kesehatan yang paling harus diwaspadai adalah apa yang disebut dengan New Emerging Infection Disease, kalau diterjemahkan adalah infeksi yang baru muncul, katankalah begitu.

Ternyata, infeksi yang baru muncul itu sebetulnya hampir 2/3 adalah penyakit yang bersumber dari binatang. Kita sering menyebut penyakit ini dengan nama zoonosis," terang DR Siswanto, saat ditemui Okezone dalam acara GHSA, Nusa Dua, Bali, Rabu (7/11/2018).

press conference ghsa

DR Siswanto mengatakan beberapa hewan seperti nyamuk, kelelawar, tikus dan lainnya bisa membawa kuman penyakit yang sangat berbahaya bagi manusia. Namun, dalam kesempatan ini ia juga menjelaskan mengenai salah satu cara untuk mengatasinya yang disebut dengan One Health.

"Di dalam penyakit tular vektor/zoonosis, penyakit bersumber binatang, itu kita sudah mempunyai suatu pendekatan apa yang disebut dengan one health. Dalam one health itu intinya bahwa fokus perhatian kita itu tidak hanya kepada manusia, karena ini bersumber dari binatang, intinya ada tiga komponen: manusia, binatang, dan di dalam wadahnya adalah lingkungan.

Baca Juga: Padu-padan Hijab dengan Item Mahal ala Aisyahrani, Nggak Kalah Kece Badai dari Syahrini

Ada hewan yang bersifat vektor seperti nyamuk, ada juga sifatnya reserval penyakit misalnya kelelawar, tikus, dan sebagainya," lanjutnya.

Oleh sebab itu, DR Siswanto berharap pemerintah ikut berperan aktif , tak hanya dari Kementerian Pertanian, namun juga Kementerian Lingkungan Hidup. Pasalnya tidak semua hewan vektor tersebut dibudidayakan dan sebagian dari mereka adalah hama.

"Oleh karena itu, sebenarnya tidak hanya Kementerian Pertanian di dalam hal ini, termasuk Kementerian lingkungan hidup. Soalnya, tikus tentunya tidak dibudidayakan, itu kan sebagai hama. Oleh karena itu, karena sifatnya adalah penyakit infeksi yang baru muncul , maka untuk menentukan apakah seseorang benar menderita penyakit itu, itu harus konfirmasi laboratorium," sambungnya.

Baca Juga: 4 Gaya Stylish Cyntia Livianty, Adik Bungsu Maia Estianty

Berbicara soal penularan penyakit berbahaya ini, DR Siswanto berharap pemeriksaan laboratorium harus sering dilakukan untuk mengetahui penyebaran penyakit berbahaya ini.

"Sebagai contoh, sebagai ilustrasi, kalau ada jamaah haji pulang dari Tanah Suci, kemudian dia menderita batuk-batuk terus panas tinggi, masuk ke dalam scanning di bandara, maka kita harus setidaknya harus curiga, jangan-jangan ini bukan batuk biasa, jangan-jangan ini adalah Mers-CoV (flu onta). Untuk menentukan seseorang flu onta atau tidak, itu perlu dicek laboratorium," tuntasnya

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini