nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Angka Kasus Kanker Payudara Meningkat, Angka Kesembuhannya?

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 08 November 2018 19:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 08 481 1975214 angka-kasus-kanker-payudara-meningkat-angka-kesembuhannya-tO9Rfz1Kd0.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

ANGKA kejadian kanker payudara di Indonesia terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari Globocan 2018, sebanyak 42% kematian pada perempuan disebabkan oleh kanker payudara. Salah satu hal yang melatarbelakangi kondisi ini adalah banyak pasien yang datang ke dokter dengan stadium lanjut sehingga angka kesembuhannya juga semakin kecil.

Padahal, meskipun angka kejadian kanker payudara tergolong tinggi, tapi angka kesembuhannya juga tinggi. "Kanker payudara itu 'kan sebenarnya sesuatu yang gampang dideteksi karena berada di luar. Agak berbeda dengan kanker serviks yang tidak kelihatan atau kanker nasofaring atau kanker paru-paru. Jadi kalau dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri, maka bisa dideteksi lebih dini," ujar Prof. dr. H. Abdul Kadir, PhD., Sp.THT-KL(K), MARS selaku Ketua Asosiasi Rumah Sakit Vertikal Indonesia (ARVI).

Ditemui Okezone dalam acara 'Seminar Hukum dan Kesehatan : Perlindungan Hak Pasien Kanker Perempuan atas Akses Pelayanan Kesehatan Berkualitas di Era JKN” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Advokasi Kanker Perempuan (A2KPI), Kamis (8/11/2018) di Gedung Sujudi Kementerian Kesehatan, Jakarta, Prof. Abdul menambahkan deteksi dini dapat membuat perempuan mendapatkan pengobatan ke dokter lebih cepat.

"Masalahnya adalah kita harus mengedukasi ke masyarakat bilamana menemukan tanda-tanda kanker, maka jangan datang ke dukun, jangan datang ke tabib, jangan datang ke orang-orang yang bukan tenaga medis di bidangnya, tapi datanglah ke rumah sakit untuk membuktikan itu kanker atau bukan," jelasnya.

Kanker Payudara

Di sisi lain, Prof. Abdul juga menjelaskan bila tingginya angka kejadian kanker payudara pada perempuan juga disebabkan karena adanya mutasi gen dan kromosom yang membuat pertumbuhan sel-sel tidak terkendali. Semakin bertambahnya usia seseorang dan angka harapan hidup yang semakin panjang, maka interaksi dengan lingkungan makin banyak.

"Polusi, gaya hidup, dan sebagainya, menjadi peluang untuk terjadinya mutasi semakin banyak. Itu tentunya akan memicu tingginya insiden kanker pada orang-orang yang lanjut usia. Makin lanjut usia seseorang maka berbanding lurus dengan insiden penyakit kanker," tutur Prof. Abdul.

Baca Juga: Tak Selalu Seksi, 5 Gaya Busana Maria Ozawa yang Buat Penampilannya Semakin Cantik

Dirinya menegaskan bila pendeteksian dini sangat diperlukan untuk menyembuhkan kanker payudara. Terlebih di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sekarang ini yang memudahkan masyarakat mendapatkan perawatan. Namun Prof. Abdul mengatakan faktor keefektifan biaya tetap harus diperhatikan.

"Kalau masyarakat dapat mendeteksi lebih awal dan langsung memeriksakan diri ke dokter, maka bisa menurunkan pembiayaan JKN. Kalau semua masyarakat sadar melakukan deteksi dini, melakukan pola hidup sehat, maka tentunya kita harapkan bahwa kanker itu akan ditemukan dalam stadium-stadium awal. Semakin awal ditemukan biaya pengobatan semakin murah," ujarnya.

Baca Juga: Berpenghasilan Rp436 Miliar Setahun, Penyanyi Ini Hobi Pakai Kaus Kaki Bolong

Ditambahkan olehnya, bila kanker payudara ditemukan sejak stadium awal, maka penyembuhan total bisa dilakukan melalui operasi. "Survivor ratenya makin tinggi. Tapi semakin tinggi stadium, maka survivor ratenya semakin rendah," pungkas Prof. Abdul.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini