nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alasan Pasangan Lanjut Usia Meninggal dalam Waktu Berdekatan

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 20:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 09 196 1975645 alasan-pasangan-lanjut-usia-meninggal-dalam-waktu-berdekatan-3irw0XRHab.jpg Hearth Syndrome (Foto: Nz Herald)

TAK sedikit pasangan lanjut usia yang meninggal dalam waktu berdekatan. Hal ini berkaitan dengan rasa stres akibat kematian orang yang dicintai. Kondisi ini memang tidak pernah mudah bagi siapapun, terutama bila pasangan telah hidup bersama selama puluhan tahun.

Rasa stres karena ditinggalkan pasangan dapat benar-benar dapat menghancurkan kondisi jantung. Dalam dunia kedokteran, kondisi ini dikenal sebagai sindrom patah hati atau sindrom takotsubo. Seseorang yang mengalami sindrom ini dapat mengalami gangguan sementara fungsi pemompaan normal jantung sehingga menempatkannya pada peningkatan risiko kematian.

Baca juga: 5 Kisah Hidup Supermodel Dunia yang Berakhir Tragis, Salah Satunya Pemeran Film Spider-Man

Sindrom patah hati memiliki gejala yang mirip dengan serangan jantung seperti nyeri dada dan kesulitan bernafas. Saat sindrom ini terjadi karena dipicu oleh kematian, perceraian, operasi, atau peristiwa stres lainnya, otot jantung melemah sampai-sampai tidak dapat memompa darah secara efektif. Satu dari sepuluh kasus orang yang mengalami sindrom patah hati mengembangkan kondisi yang disebut syok kardiogenik.

Kondisi itu membuat jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ini bisa mengakibatkan kematian. Selain itu, sindrom patah hati juga membawa kerusakan fisik pada jantung.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli di University of Aberdeen memberikan bukti pertama jika sindrom patah hati menghasilkan perubahan fisiologis permanen pada jantung. Bukti ini didapatkan setelah para peneliti mengikuti 52 pasien patah hati selama empat bulan. Kondisi mereka dikontrol melalui ultrasound dan pemindaian pencitraan jantung. Para peneliti ingin melihat fungsi jantung pasien dalam detail kecil.

Dari hasil analisis, ditemukan bahwa sindrom patah hati secara permanen memengaruhi gerakan memompa jantung. Para peneliti juga menemukan bila bagian-bagian otot jantung yang memiliki bekas luka halus karena peristiwa patah hati dapat mengurangi elastisitas jantung dan mencegahnya berkontraksi dengan baik. Dalam penelitian lebih lanjut baru-baru ini tim yang sama melaporkan, orang dengan sindrom patah hati memiliki gangguan fungsi jantung yang terus-menerus menyerupai gagal jantung selama lebih dari 12 bulan.

Sebuah peneltian baru yang dipublikasikan dalam Circulation menunjukkan risiko kematian tetap tinggi selama bertahun-tahun setelah serangan awal sindrom patah hati. Dalam penelitian ini para peneliti di Swiss membandingkan 198 pasien dengan sindrom patah hati yang mengembangkan syok kardiogenik dengan 1.880 pasien yang tidak. Peneliti menemukan pasien yang mengalami syok kardiogenik lebih cenderung mengalami sindrom yang dipicu oleh stres fisik, seperti operasi atau serangan asma. Pasien tersebut juga secara signifikan lebih mungkin meninggal dalam waktu lima tahun setelah kejadian awal.

Demikian seperti yang dilansir Okezone dari NZ Herald, Jumat (9/11/2018).

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini