nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhatan Memilukan Para Perawat di Ruang Isolasi Terbatas RSUP Sanglah, Bali

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 18:39 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 09 481 1975650 curhatan-memilukan-para-perawat-di-ruang-isolasi-terbatas-rsup-sanglah-bali-WPc9g70cSu.JPG Pasien RSUP Sanglah Bali (Foto: Leo/Okezone)

DUNIA medis menghadirkan banyak kisah kebahagiaan maupun kesedihan. Jika seseorang berhasil sembuh dari penyakit yang diidapnya dan bisa kembali melakukan aktivitasnya, maka kisah tersebut akan berakhir. dengan kebahagiaan dan sukacita.

Namun, apa jadinya apabila seseorang divonis mengalami sebuah penyakit menular berbahaya dan berpotensi mengalami kematian? Selain akan mempengaruhi kondisi mental Anda, hal ini juga akan membuat pasien yang bersangkutan merasa putus asa.

Baca juga:

Bocoran Tanggal Merah dan Cuti Bersama Kalender 2019, Tentukan Waktu Liburan Yuk!

Salah satu tempat yang memiliki banyak kisah pilu adalah di ruang isolasi terbatas RSUP Sanglah, Denpasar, Bali. Sebagaimana diketahui ruangan khusus ini digunakan untuk merawat pasien dengan penyakit bertedensi wabah.

Banyak peraturan yang harus dilakukan di tempat ini, salah satunya menggunakan adalah Alat Perlindungan Diri (ADP) untuk menghindari penularan bakteri dan virus kepada perawat. Tidak semua orang bisa masuk ke dalam tempat ini, alhasil para pasien suspect berpenyakit menular akan menjalani kehidupannya dengan menyendiri.

Meski harus berkutat dengan segala macam virus, bakteri dan kuman penyakit berbahaya, nyatanya para perawat ini mengaku tidak takut terinfeksi. Mereka yakin betul ADP yang digunakan sesuai prosedur rumah sakit, akan melindungi mereka dari bahaya penyakit.

“Tidak takut karena sudah ada instrumen dan APD serta prosedur yang menjamin keselamatan kerja," ujar Ni Luh Gede Agustini, yang bertugas sebagai salah satu perawat di RSUP Sanglah, saat dijumpai Okezone Jumat (9/11/2018).

Beberapa perawat yang bekerja di ruang isolasi terbatas itu pun mengaku senang apabila mendapatkan kabar bahwa pasien binaan mereka dinyatakan sembuh dan bisa berkumpul kembali bersama keluarganya. Mereka menolong setiap pasien dengan ikhlas dan hanya berharap mereka semua dapat sembuh seperti sediakala.

“Kami menolongnya dengan ikhlas. Kalau pasien sembuh dan bisa pulang dengan sehat, maka kami akan suka sekali. Senangnya minta ampun," lanjut Ni Luh Gede.

Namun para perawat itu pun mengaku tidak semua kisah berakhir dengan bahagia. Banyak dari para pasien yang justru ditelantarkan keluarganya setelah divonis mengidap penyakit menular berbahaya. Pihak keluarga seakan ingin membuang mereka dengan tidak mau mengambilnya lagi dari ruang isolasi.

“Ada keluarga pasien yang nggak mau ngambil lagi, karena diketahui pasiennya sudah menderita penyakit menular nah mereka tidak mau. Kita kadang kesulitan kalau pasiennya mau pulang tapi tidak ada keluarga," tutupnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini