nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bakso Beranak Khas Pontianak Diburu Warga Kuching-Malaysia

Ade Putra, Jurnalis · Minggu 11 November 2018 19:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 11 298 1976340 bakso-beranak-khas-pontianak-diburu-warga-kuching-malaysia-hDOjjmyFPZ.jpg Bakso beranak khas Pontianak di Kuching (Foto: Ade Putra/Okezone)

KANTIN Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kuching, Sarawak, Malaysia tak seperti biasanya. Kantin yang berada di belakang kantor itu biasanya hanya ramai dikunjungi staf-staf KJRI dan warga negara Indonesia (WNI) yang mengurus segala keperluan administrasi saja.

Namun kini, WNI yang tadinya tidak ada kepentingan di KJRI serta warga Malaysia pun berbondong-bondong mengantre di kantin yang terletak di Lot 16557, Block 11, Jalan Stutong, MTLD, 93350 Kuching itu. Ada apa?

Mereka rupanya ingin mencicipi dan menikmati makan bakso. Ya, ini bukan bakso biasa yang mudah ditemui di Jiran. Ini bakso beranak yang sangat populer dan dapat ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar. Utamanya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

(Baca Juga: Mengulik Keunikan Naniura, Makanan Raja yang Kini Jadi Kuliner Andalan Danau Toba)

Melihat tren inilah, Sri Cahyawati, warga Kota Pontianak, menjadikan peluang usaha baru yang bisa dikembangkan di kantin miliknya.

 

"Bakso beranak lagi booming disini. Mendadak kantin saya di belakang KJRI diserbu masyarakat bakso lover," ujarnya kepada Okezone, belum lama ini.

Wanita yang akrab disapa Mbak Cahya ini menerangkan, lebih dari lima tahun dia sudah membuka kantin di lingkungan kantor KJRI. Selama itu, ia mengakui baru kali ini ramai pengunjung yang memadati kantinnya. Bahkan sampai mengantre.

"Di minggu-minggu pertama jualan, saya dan karyawan langsung kewalahan. Ramai banget yang ingin mencoba makan bakso beranak," jelasnya.

(Baca Juga: Sensasi Berenang di Ketinggian 198 Meter Sambil Menikmati Indahnya Kota)

 

Di Malaysia, khususnya di Kuching, kata Cahya, memang banyak kuliner jenis bakso khas Jiran. Namun menurutnya, olahan daging pada bulatan bakso terbilang kurang pas.

"Di Kuching ada juga yang jual bakso beranak, tapi ya enggak seenak buatan tangan Mbak Cahya. Mungkin beda lidah beda rasa kali ya. Tapi, bakso saya ini ramai juga dinikmati warga setempat (Kuching, red)," katanya sambil bercanda.

Di minggu pertama mencoba menyuguhkan bakso beranak, sekitar 75 porsi ludes terjual dalam sehari. Kini, usaha bakso beranak khas Cahya ini sudah berlangsung hampir sebulan. Satu porsi, dijual seharga RM15 (ringgit Malaysia) atau sekira Rp50 ribu.

Dikatakan dia, pilot maskapai asal Jakarta ketika berada di Kuching juga menyempatkan diri mencicipi bakso beranak khas Cahya. Bahkan, dalam sehari pilot itu dua kali menikmati baksonya.

"Pilot dari Jakarta saat di Kuching juga ke sini. Sudah makan sekali, bawa lagi kawannya kemari, makan lagi," jelasnya sembari tertawa.

Jadi, sambung dia, ada sensasinya tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Mereka merasa seolah-olah berada di Indonesia dan baru ketemu bakso rasa Indonesia ketika mencicipi bakso khas Cahya. Karena Cahya menggunakan bahan yang asli dari Indonesia.

"Saya pakai bahan-bahan semuanya asli Indonesia. Jadi ya rasa Indonesia. Kalau saya pulang ke Pontianak, saya sekalian beli bahan-bahan bakso. Olahnya di Kuching," tuturnya.

Saat disuguhkan, menurut Cahya, banyak pengunjung kantinnya yang berpikir tidak bakal bisa menghabiskan bakso dengan bentuk sebesar itu. Namun setelah dicicipi, akhirnya ludes tak bersisa.

 

"Mereka banyak yang penasaran. Begitu di hadapan, tak bersisa dan pada mengaku puas. Karena bakso saya ini beda. Di dalamnya ada sepuluh cabe rawit dan delapan bulatan bakso kecil. Pedesnya enak banget," ujarnya.

Umumnya, olahan daging berbentuk bulat ini dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka. Dalam penyajiannya, bakso disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi kuning, bihun, taoge, dan tahu. Terkadang dicampur juga telur dan ditaburi bawang goreng dan seledri.

Namun khusus khas Cahya, bakso beranaknya hanya disajikan dengan bulatan bakso dan sayur. Tanpa mi kuning, bihun, taoge, dan tahu. "Saya saat ini sedang mengembangkan usaha bakso beranak. Semoga lancar, semoga kuliner khas Tanah Air mendunia," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini