nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Es Tawon Legendaris Kota Malang yang Bikin Ketagihan

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 13 November 2018 13:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 13 298 1977066 es-tawon-legendaris-kota-malang-yang-bikin-ketagihan-Ee3HzReqP2.jpg Es tawon kuliner legendaris Kota Malang (Foto: Avirista/Okezone)

TAK hanya memiliki beragam tempat wisata yang menarik dikunjungi, Kota Malang juga tak bisa dipisahkan dari kuliner legendarisnya. Salah satunya Es Tawon Kidul Dalem.

Sepintas dari namanya anda akan berpikir es tersebut berasal dari tawon atau mengandung unsur tawon di dalamnya. Tapi siapa sangka es tawon bukan berbahan baku dari tawon, melainkan hanya es campur dan es kacang hijau belaka.

Ya berlokasi di Jalan Zainul Arifin nomor 15, Klojen, Kota Malang, es tawon menjadi salah satu kuliner legendaris Kota Malang yang sudah ada sejak tahun 1955.

Pemilik warung es campur, Sri Utami menyatakan awalnya yang merintis usaha berjualan yakni ibu mertuanya bernama Yaminah mulai tahun 1955.

"Dulu awalnya tidak di sini tapi di sebelah. Pertama di gerobak pinggir jalan yang mulai usaha ibu mertua tahun 1955. Saya generasi kedua meneruskan ibu mertua sejak tahun 1996, ibu sekarang sudah meninggal dunia," cerita Sri kepada Okezone, Selasa (13/11/2018).

es tawon

Ia menambahkan awal mula tak ada nama es tawon di jualan milik ibu mertuanya. Nama tawon muncul sebab Yeminah berjualan di bawah pohon asem yang terdapat tawonnya, sehingga para pelanggannya menyebut es tawon.

"Dulu namanya es campur biasa, nama itu juga baru digunakan tahun 1970-an karena pelanggan dari luar Malang hafalnya es tawon karena jualannya di bawah pohon asem yang terdapat tawon. Saya akui memang tawonnya membawa berkah ," ungkap perempuan berusia 56 tahun ini.

es tawon

Meski pohon asem tersebut pada tahun 1999 akhirnya ditebang dan warungnya pindah pada tahun 2010 di lokasi yang tak jauh dari ibu mertua berjualan, tak membuat usaha warung es tawonnya roboh seiring pohon asem dan pindahnya lokasi jualan. "Ya alhamdulillah masih bertahan meski pohonnya sudah roboh," tutur Sri sambil tersenyum.

Dirinya menyatakan, awal mula sang ibu mertua mulai menjual es campur, es kacang hijau alpukat, es kacang hijau tape dan es kacang hijau tape hitam karena tuntutan menyambung hidup sehari - hari.

"Ya dari dulu es campur, es kacang hijau alpukat dan es kacang tape resepnya ya sama tidak pernah berubah. Tetap saya pertahankan hingga sekarang," terangnya.

es tawon

Perbedaan yang digunakan Ibu mertua dan Sri dibandingkan penjual es campur lainnya, yakni pada komposisi bahan baku es miliknya. Dimana resep pemanis es miliknya tak menggunakan pemanis buatan. Oleh karena itu, rasanya enak untuk dikonsumsi siapapun.

Baca Juga: Viral Detik-Detik Terbaliknya Kabin Bianglala di Sekaten Yogyakarta

Tak hanya itu, kacang hijau yang ditonjolkan membuat para pelanggannya ketagihan kembali untuk mencicipi es yang rata - rata di banderol per gelasnya Rp 8.000.

Selain menjual es campur, warung es tawon ini juga tersaji berbagai es campur, es kacang hijau alpukat, es kacang tape, es kacang hijau, es kacang hijau ketan hitam, dan bubur kacang hijau yang dijual seluruhnya dengan harga Rp 8.000 per gelasnya, sedangkan untuk gorengan cukup dibanderol Rp 1.000.

es tawon malang

Alhasil menu - menu itulah yang menjadi favorit konsumen yang datang ke warung es miliknya. Bahkan tak jarang sebelum warungnya tutup pukul 14.30 WIB, semua variasi es di warungnya sudah habis terjual.

"Yang favorit es campur dan es kacang hijau alpukat. Ya kadang kalau habis duluan ya tutup lebih awal. Kalau malam soalnya jualan soto saya," bebernya.

Baca Juga: Bocah 8 Tahun Asal Amerika Ini Mendadak Viral di China, Ada Apa Ya?

Ya, Sri membuka es tawon miliknya sehari - hari sejak pukul 08.00 WIB hingga 14.30 WIB. Tercatat setidaknya 50 gelas per hari terjual, bahkan di hari libur dan akhir pekan setidaknya 70 gelas per hari terjual.

es tawon

Salah satu pelanggan Es Tawon, Wahyu Satrio Nugroho mengatakan rasa es campur dan es kacang hijau begitu khas dan lezat.

"Aroma kacang hijau begitu kerasa. Pemanisnya juga pemanis alami tidak membosankan dan nagihi untuk kembali mencicipi," kata pria asli Madiun yang tinggal di Malang.

Dari segi harga juga menurutnya bersahabat dengan hanya dibanderol Rp 8.000 per gelasnya. "Harganya juga bersahabat," pungkasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini