Cucu yang Lahir dari Rahim sang Nenek

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 15 November 2018 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 15 481 1978255 cucu-yang-lahir-dari-rahim-sang-nenek-Z5eRxSmJqE.jpg Perempuan melahirkan anak dari transplantasi rahim sang ibu (Foto:Galaxy/carehospital/BBC)

Pencangkokan rahim telah dilakukan di sepuluh negara: Swedia, Arab Saudi, Turki, Amerika Serikat, Cina, Republik Ceko, Brasil, Jerman, Serbia dan India.

2014 - Perempuan di Gothenburg, Swedia melahirkan seorang bayi pria dengan menggunakan rahim transplantasi untuk pertama kalinya di dunia. Ibu berumur 36 tahun itu menerima sumbangan rahim dari temannya yang berumur 60-an tahun.

2017 - Perempuan di Dallas, Texas, melahirkan bayi setelah menjalani prosedur yang sama di Amerika Serikat.

2018 - Seorang perempuan melahirkan bayi perempuan dengan menggunakan rahim cangkokan, untuk pertama kalinya di India.

Dua belas bayi dilahirkan dengan cara yang sama, delapan di antaranya di Swedia.

Dari ke-12 kasus itu, hanya sebuah rahim yang berasal pendonor yang telah meninggal.

Bagaimana caranya?

Saat pencangkokan rahim, syaraf tidak ditransplantasi dan perempuan tidak mengalami rasa sakit melahirkan.

Pada kasus-kasus pertama, prosedurnya mencapai sampai 13 jam.

"Tetapi penemuan laparoskopik (bedah lubang kunci) membuat waktu operasi menjadi sekitar enam jam," kata Dr Shailesh Puntambekar.

Menurut tim di Galaxy Care Hospital, biaya masing-masing prosedur adalah sekitar US$11.000 atau Rp163 juta.

 Sebelum pencangkokan satu-satunya kemungkinan bagi penderita masalah rahim untuk mendapatkan bayi adalah lewat surogasi.

Tetapi kasus Meenakshi Wayanad adalah yang pertama kalinya di India, dan dia tidak perlu membayar.

Dia diberikan obat bius untuk menekan sistem kekebalan dan mencegah penolakan terhadap rahim.

Satu tahun setelah transplantasi, dokter memutuskan mereka siap untuk menanam salah satu embrio beku.

Para dokter mengatakan pencangkokan dipandang tidak merusak penerima ataupun bayi meskipun obat anti-penolakan (immuno-suppressants) digunakan dan sejumlah pembedahan dilakukan.

Di India sendiri, sekitar 600 perempuan dalam daftar antrian untuk menerima transplantasi.

Kajian global terkait dengan transplantasi rahim menemukan prosedur ini adalah sebuah "kemajuan besar" tetapi hal ini memerlukan percobaan klinis yang dikendalikan dengan ketat dan peninjauan pada beberapa tahapan.

Lewat tulisan di BJOG: An International Journal of Obstetrics and Gynaecology, sebuah tim dokter di Jepang mengatakan meskipun pencangkokan rahim memberikan "harapan besar" bagi perempuan yang dilahirkan tanpa rahim, praktek ini masih dalam tahap percobaan.

Harapan adalah satu-satunya hal yang tersisa bagi Meenakshi: "Saya telah lama menderita, tetapi sekarang kebahagiaan saya tidak ada batasnya."

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini