nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Pelecehan Seksual Baiq Nuril, Psikolog: Kondisi Anaknya Perlu Dapat Perhatian Khusus!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 16 November 2018 19:26 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 16 196 1978896 kasus-pelecehan-seksual-baiq-nuril-psikolog-kondisi-anaknya-perlu-dapat-perhatian-khusus-nCRDm152DJ.jpg Korban pelecehan seksual Baiq Nuril meminta keadilan (Foto: Inews/Youtube)

IRONIS, korban kekerasan seksual Baiq Nuril Manun harus menelan kekecewaan karena dirinya malah terancam penjara. Mahkamah Agung telah menjatuhkan pidana bagi ibu dari 3 orang anak tersebut.

Kasus ini muncul setelah percakapan mesum kepala sekolah SMAN 7 Mataram tersebar. Nuril dengan tegas tidak membagikan rekaman tersebut dan perempuan 40 tahun ini punya alasan kuat kenapa dirinya merekam kejadian tersebut.

Diketahui Nuril hanya ini membuktikan adanya pelanggaran asusila yang dilakukan kepala sekolah tersebut padanya. Naas, upaya membela diri malah berujung jalur hukum. Nuril pun kini berharap agar keadilan bisa hadir di hidupnya.

Menyikapi kasus hukum ini, Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., coba melihat sisi lain, yaitu sisi psikologis. "Saya tidak dapat membayangkan bagaimana sedihnya keluarga Nuril, bagaimana suaminya yang pasti merasa shock, malu, sedih, kecewa, bahkan mungkin marah mendengar kabar tersebut," ungkap Psikolog Mei pada Okezone melalui pesan WhatsApp, Jumat (16/11/2018).

Psikolog Mei sadar betul bahwa kabar ini tentu membuat hati banyak orang kecewa. "Mendenfar istrinya dilecehkan saja pasti sudah sangat berat, apalagi sekarang harus menerima kenyataan Nuril menjadi tersangka," sambungnya.

Bahkan, menurut Psikolog Mei, tidak sampai di situ saja. Hal yang paling menyedihkan adalah anak Nuril yang dikabarkan tidak mau bersekolah karena adanya kasus ini. "Mereka merasa malu, tentu juga sedih. Mau marah, marah sama siapa? Dapat dibayangkan bagaimana keluarga Nuril harus menanggung rasa malu dan kesedihan itu," paparnya.

baiq nuril

Di sisi lain, sebagai psikolog yang juga bekerja di sebuah sekolah, Psikolog Mei merasa perlu melihat kasus ini dari sudut pandang si anak. Seperti diketahui bahwa peran ibu sengat besar dalam mendidik anak, membentuk karakter, dan keberhasilan tumbuh kembang anak dinilai lebih besar daripada ayah atau pun anggota keluarga lainnya.

Menurut Psikolog Mei, hal ini bukan tanpa dasar, karena dengan asumsi bahwa ibu memiliki waktu tatap muka dengan anak relatif lebih banyak daripada anggota keluarga lainnya (ini mungkin akan berbeda apabila yang bekerja justru ibu bukan ayah).

Baca Juga: 5 Pesona Shrinkhala Khatiwada, Miss Nepal 2018 yang Kecantikannya Bikin Heboh Medsos

Merujuk pada referensi psikologi, menurut Imama (2013) peran ibu untuk anak merupakan perilaku atau sikap yang diharapkan sesuai dengan posisi atau fungsi sosial yang diberikan. Sebagai ibu tentu diharapkan berperan sebagai pendidik pertama dan utama dalam tumbuh kembang anak.

baiq nuril

Dari kasus ini, Psikolog Mei berpandangan, diketahui Nuril seorang pengajar atau pendidik yang tentu ekspektasi anak menjadi dua kali lipat. Namun, apa yang diharapkan anak ternyata belum sesuai dengan yang dihadapinya sekarang.

"Anak Nuril tentu tidak tahu harus bagaimana menghadapi kondisi tersebut. Saya rasa akan jauh lebih mudah memberikan pemahaman kepada suaminya ketimbang anak-anaknya," kata Psikolog Mei.

Baca Juga: Sosok Shrinkhala Khatiwada Viral di Medsos karena Kecantikannya, Siapa Dia?

Nah, dengan begitu, upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat atau orang terdekat Nuril ialah memberikan dukungan pada Nuril sehingga dengan demikian Nuril merasa lebih tenang.

"Anaknya pun akan merasakan dukungan ke ibunya sehingga kemarahan atau kekecewaannya sedikit berkurang, dan nanti pelan-pelan Nuril dapat memberikan pengertian tentang kasus yang menimpanya. Saya yakin anak-anaknya Nuril akan memahami dan lebih memercayai ibunya dibanding orang lain," ungkap Psikolog Mei.

Namun perlu diingat, sambung Psikolog Mei, kita sebagai masyarakat yang mendukung Nuril dalam mencari kebenaran bukan berarti membenci atau menyalahkan pihak yang satu, karena biarlah pengadilan yang memutuskan hal tersebut.

"Seperti yang sering kali saya sampiakan terutama kepada mahasiswa saat mengajar bahwa usahakan saat Anda menyukai atau mendukung salah satu pihak, maka jangan menghadirkan kebencian pada saat yang sama ke pihak yg lain. Fokus dengan dukungan atau rasa suka atau rasa cinta saja," saran Psikolog Mei.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini