nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selain Hipnoterapi, Ini 5 Tahapan yang Harus Dijalani Pasien yang Ingin Berhenti Merokok

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 21 November 2018 20:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 21 481 1980859 selain-hipnoterapi-ini-5-tahapan-yang-harus-dijalani-pasien-yang-ingin-berhenti-merokok-HzFQ2TSIe5.jpg Ilustrasi (Foto: Thespiritscience)

DARI sekian banyak penyakit tidak menular, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) menjadi salah satu penyakit progresif yang dapat mengancam jiwa. Diperkirakan lebih dari 251 juta orang di seluruh dunia, mengidap penyakit tersebut. Sedangkan menurut data yang dikelurkan Riskesdas 2013, prevalensi penyakit ini diprediksi mencapai 3,7% atau sekitar 9,2 juta penduduk.

Menurut penjelasan DR. Dr. Susanthy Djalaksana, Sp.P(K) dari Universitas Brawijaya, PPOK terjadi karena adanya keterbatasan aliran udara yang sulit masuk dan sulit keluar dari saluran pernapasan serta jaringan paru. Hal ini biasanya disebabkan oleh pajanan gas dan partikel beracun (zat kimia) yang terus dihirup sang penderita dalam jangka waktu yang signifikan. Asap rokok juga termasuk dalam partikel beracun tersebut, bahkan sangat besar kaitannya dengan pasien PPOK.

“Lebih dari 75% pasien PPOK di Indonesia itu berkaitan dengan asap rokok. Jadi untuk mencegah dan mengurangi risiko penyakit ini harus berhenti merokok. Kalau mau merokok jangan melibatkan orang lain, karena perokok pasif dan perokok aktif persentase kemungkinan terkenanya PPOK itu sama,” tutur Dr Susanthy, saat ditemui Okezone di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (21/11/2018).

Lebih lanjut, Susanthy mengatakan, jika seseorang sudah terdiagnosis PPOK, memang sebaiknya berhenti merokok. Para dokter spesialis paru dan masalah saluran pernapasan juga telah menyediakan program khusus bagi para pasien yang serius untuk berhenti merokok.

Setidaknya ada 5 tahapan yang harus dijalani pasien untuk mengikuti program tersebut, berikut Okezone rangkumkan ulasan lengkapnya.

Ask

“Biasanya akan kita tanya dulu untuk mengidentifikasi, seberapa banyak mereka mengisap rokok setiap hari. Misalnya satu hari cuman 1 batang, atau merokoknya hanya selagi nongkrong bersama teman. Itu bisa masuk dalam kategori perokok ringan. Jika sudah diidentifikasi, penanganannya akan jauh lebih efektif,” papar Susanthy.

berhenti merokok

Advise

Mengingat pasien sudah berniat untuk berhenti merokok, biasanya akan diberikan kuisioner motivasi. “Kalau kurang motivasi bisa diprediksi tidak akan bertahan lama. Keesokan harinya atau lusa dia ngerokok lagi,” sambungnya.

Assess

“Langkah selanjutnya adalah assess, jadi jika dokter sudah tau jumlah rokok yang dihisap dan jenis rokoknya, bisa langsung dilakukan pemeriksaaan. Kami selalu menggunakan analisis khsusu untuk melihat kadar monokarbon di dalam parunya,” tegas Susanthy.

berhenti merokok

Assist

Setelah melewati proses screening, Susanthy menjelaskan bahwa dokter akan memandu pasien tentang langkah-langkah yang harus ia lakukan selanjutnya seperti obat apa yang harus dikonsumsi untuk mencegah keinginan merokok.

“Dulu ada patch yang ditempel ditangan untuk mengurangi keinginan pasien untuk merokok. Patch ini juga mengandung nikotin sehingga bisa menekan secara efektif. Selain itu bisa juga menggunakan permen karet. Namun yang pasti, jika sudah memasuki tahap ini biasanya kami akan menggandeng teman-teman dari psikiatrik karena untuk membuat seseorang berhenti merokok itu tidak mudah,” jelas Susanthy.

“Psikiatrik biasanya akan memberikan hipnoterapi untuk membantu pasien berhenti merokok,” sambungnya.

Arrange

Terakhir adalah mengatur jadwal untuk melihat sejauh mana perkembangan pasien dalam mengurangi keinginannya untuk merokok. “Schedulenya di-arrange bersama-sama. Jadi pasien juga memiliki waktu untuk beradaptasi dengan program yang sedang dijalaninya,” tukas Susanthy.

(hel)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini