nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Identik dengan Masalah Kemiskinan, Penyakit TBC Sebenarnya Bisa Dicegah

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 22 November 2018 17:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 22 481 1981314 identik-dengan-masalah-kemiskinan-penyakit-tbc-sebenarnya-bisa-dicegah-Fu25fHjukM.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

HINGGA saat ini penyakit tuberculosis (TBC) masih memerlukan perhatian yang cukup serius dari masyarakat. Sebab prevalensi penyakit menular tersebut masih tinggi. Berdasarkan data WHO Global TB Report 2018, diperkirakan insiden TBC di Indonesia mencapai 842 ribu kasus dengan angka mortalitas 107 ribu kasus.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia menempati urutan ketiga tertinggi di dunia setelah India dan China. Tentunya hal ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, terlebih TBC dapat berdampak besar terhadap sosial dan keuangan pasien, keluarga, serta masyarakat. Beruntung, penyakit ini dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan dengan baik.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mengungkapkan kepatuhan pasien untuk menjalani pengobatan sudah mencapai hampir 79%. Angka ini tergolong bagus sehingga penanganan TBC dapat lebih maksimal.

Baca Juga: Andalkan Gaya Sportwear Look, Baby Margaretha Umbar Lekuk Tubuh Seksi

Pasien TBC, biasanya menjalani pengobatan selama enam bulan yang terbagi menjadi dua bulan fase intensif dan empat bulan fase lanjutan. Selain dapat diobati dengan baik, TBC sebenarnya juga bisa dicegah oleh masyarakat.

“TBC dekat dengan masalah kemiskinan sehingga ada masalah sosial di situ. Kita selalu memikirkan bagaimana mengobati, menemukan kuman TBC, tapi masalah sosialnya juga harus diatasi. Salah satu caranya dengan memberikan kampanye edukasi untuk pemahaman, perubahan perilaku di masyarakat,” ujar Menteri Kesehatan RI Nila F. Moeloek saat ditemui Okezone dalam sebuah acara, Kamis (22/11/2018).

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bila risiko penularan TBC dapat dikurangi dengan cara mencegahnya. Pencegahan bisa dilakukan melalui faktor lingkungan dan gizi. “Udara di rumah harus bersih, harus ada jendela dan ventilasi. Kalau tidak ada ventilasi, udara akan berkumpul di satu ruangan sehingga ada satu (orang) saja yang sakit (TBC) akan terus menularkan penyakit itu. Jadi memang intervensi sensitif tergantung perumahan juga yang sehat,” tutur Menkes Nila.

Baca Juga: Kemaluannya Diraba saat Pijat, Pria Ini Laporkan Terapis ke Pengadilan

Sedangkan dari segi gizi, masyarakat diharapkan dapat memenuhi angka kecukupan gizi sehari-hari. “TBC terkait dengan daya tahan tubuh yang turun. Jadi dari makanannya harus baik (agar daya tahan tubuh terjaga). Ada protein, karbohidrat, sayar, buah, ya sesuai dengan ‘piring makanku’,” ujar Menkes Nila.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr Miko Hananto, SKM., MKes selaku peneliti di Balitbang Kementerian Kesehatan. Menurutnya kuman atau bakteri yang menyebabkan TBC akan mati apabila terpapar sinar matahari. Dengan begitu sirkulasi udara di rumah harus baik.

“Begitu sirkulasi udara bagus otomatis kuman-kuman keluar (rumah) atau intervensinya dengan membuka jendela dan genteng kaca yang memasukkan sinar matahari. Kalau ruangan tertutup otomatis kuman itu ada di dalam dan semakin berkembang,” tandas Miko.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini