nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Instruktur Yoga Ini Alami Serangan Jantung dan Tak Sadarkan Diri di Tengah Proses Melahirkan

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 22 November 2018 20:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 22 481 1981352 instruktur-yoga-ini-alami-serangan-jantung-dan-tak-sadarkan-diri-di-tengah-proses-melahirkan-BEpI02SZml.jpg Gabbi Simpson (Foto: Thesun)

LATIHAN yoga diketahui dapat membantu ibu hamil dalam proses persalinan. Akan tetapi, bukan berarti ibu hamil tersebut benar-benar luput dari masalah saat berjuang hidup dan mati. Hal ini dibuktikan oleh Gabbi Simpson yang sehari-harinya merupakan instruktur yoga.

Di hari persalinannya, perempuan berusia 23 tahun itu harus mengalami kejadian tidak terduga yang mengancam nyawa diri dan anaknya. Pada awalnya Gabbi merencanakan kelahiran melalui proses waterbirth di rumah sakit dengan tindakan minimal intervention. Semuanya telah dipersiapkan dengan baik, tiba-tiba perempuan itu tidak sadarkan diri karena serangan jantung.

 

Ternyata Gabbi memiliki emboli cairan ketuban (AFE) yaitu cairan pelindung di sekitar bayi memasuki aliran darahnya. Kondisi ini terbilang sangat langka dan tidak bisa diprediksi atau dicegah. Ibu hamil yang mengalaminya dapat merasakan serangan jantung, kejang otak, dan pendarahan hebat. Pada kasus ini, serangan jantung terjadi saat proses melahirkan sehingga harus dilanjutkan dengan anestesi umum.

 (Baca Juga:Unik, Foto Kehamilan Ini Jawaban kalau Kelak Anak Bertanya "Bagaimana Aku Dibuat?")

Seusai melahirkan, Gabbi tidak bisa bertemu dengan anaknya. Ketika bertanya dengan perawat, dia tidak mendapatkan informasi apapun dan merasakan sakit di tangannya. Setelah menunggu, 25 menit kemudian suaminya yang bernama Terry datang dan memberikan penjelasan.

 

"Dia mengatakan jika bidan sedang mengambil darah saya dan tiba-tiba kepala saya berguling saat mengalami kejang otak yang diikuti oleh serangan jantung. Para dokter berusaha menyadarkan saya dan di tengah kontraksi kesadaran saya kembali. Saya lalu berteriak dan menendang para dokter,” ujar Gabbi seperti yang dikutip Okezone dari The Sun, Kamis (22/11/2018).

Gabbi kemudian dibius saat proses melahirkan dilanjutkan. Setelah bayinya lahir, dia kehilangan lebih dari tiga liter darah. Sementara sang bayi yang diberi nama Bea didiagnosis mengalami kerusakan otak karena tidak responsif. Hal ini lantaran dia telah kekurangan oksigen dan menelan darah.

 

 (Baca Juga:Alasan Mengapa Manusia Bermimpi dan Susah Mengingat Mimpinya)

“Saya terisak ketika diberi tahu Bea sedang diresusitasi dan didiagnosis dengan kerusakan otak. Saya mulai mengerti dan merasa beruntung masih hidup. Tetapi sulit bagi saya untuk percaya memiliki bayi karena tidak ingat telah melahirkannya dan belum bertemu dengannya,” tutur Gabbi.

 

Bea dirawat intens di sebuah rumah sakit khusus anak-anak untuk menjalani pengobatan karena kondisinya. Bayi mungil itu diberi terapi perintis yang melibatkan pendinginan tubuh dari suhu normal 37⁰C menjadi 33⁰C selama 72 jam. Terapi ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada otak agar kondisinya pulih dan mengatasi kerusakan. Terapi ini terbilang sukses dan Gabbi berhasil bertemu dengan bayinya setelah 4 hari. Bayi itu pun kini tumbuh dengan normal dan sehat.

“Masih ada proses pemulihan bagi saya sekarang karena masih harus tes untuk memeriksa paru-paru dan jantung saya. Saya juga harus menjalani terapi untuk post partum depression. Tapi saya merasa sangat bersyukur dan dari lubuk hati terdalam mengucapkan terima kasih kepada para petugas medis,” pungkas Gabbi.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini