Batik Lolosan Sleman Naik Kelas di Jogja Fashion Week 2018

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 23 November 2018 14:32 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 23 194 1981731 batik-lolosan-sleman-naik-kelas-di-jogja-fashion-week-2018-WGISGwX884.jpg Batik Sleman. (Foto: Okezone/Dewi)

BERAGAM model busana kekinian besutan Batik Mukti Manunggal dari Sleman melenggang cantik di panggung Jogja Fashion Week 2018. Para pengrajin sangat bangga, karena dari sehelai kain batik biasa, dipadu-padankan jadi pakaian cantik oleh para desainer.

Setiap melancong ke Yogyakarta, pasti Anda berburu batik, baik itu berupa kain, banyak model baju, aksesoris, celana, tas, sampai alas kaki yang kece-kece. Apalagi saat ini banyak pengrajin batik yang berlomba-lomba tawarkan batik berkualitas dengan harga terjangkau.

Seperti nama batik Mukti Manunggal, belakangan mulai dikenal oleh banyak orang. Lalu, label batik lokal dari sekumpulan pembatik perempuan di sebuah desa asri di Sleman, jadi besar namanya di Yogyakarta.

Baca Juga: Seekor Kambing Lahirkan Anak Mirip Campuran Babi dan Manusia

Asosiasi Batik Mukti Manunggal Endang Wilujeng mengatakan, batik yang dibuat oleh sekelompok ibu-ibu yang dulunya sekedar jadi ibu rumah tangga, kelompok petani, sampai penjual sayur, semua banting setir jadi pembatik. Tentu mereka semua bangga, karena karyanya sudah dikenal banyak pencinta fesyen.

"Tahun 2013 awalnya ada lomba desain batik di Sleman, kemudian kami menang. Lalu berkembanglah kelompok batik ini sampai sekarang," ujar Endang ditemui di Hartono Mal Yogyakarta.

Dari tangan-tangan terampil kaum wanita perkasa dari Sleman, banyak motif batik cantik yang dibuat. Coraknya pun penuh makna, terlebih dari sisi kehidupan para pengrajinnya.

Baca Juga: Kisah Pilu Gadis Cilik yang Meninggal Setelah Jadi Pengiring Pengantin

Salah satu corak batik yang selalu diburu pencinta batik adalah lolosan, desain buatan Lina Marlina. Dulunya, Lina seorang pedagang buah dan bisnisnya jatuh. Kemudian mengenal cara membatik, lalu mengembangkan gairah bakatnya di dunia batik.

"Ibu Lina ciptakan banyak desain batik lolosan atau megar, dari Bahasa Sunda. Artinya terlepas dari keterpurukan hidup, seperti yang dialami sebelumnya," beber Endang.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini