nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Benarkah Stereotype Anak Broken Home Adalah Anak Nakal?

Blenda Azaria, Jurnalis · Jum'at 23 November 2018 17:21 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 23 196 1981842 benarkah-stereotype-anak-broken-home-adalah-anak-nakal-D8tWRETKGj.jpg Ilustrasi broken home (Foto: Blackchristiannews)

SEORANG anak yang tumbuh besar di lingkungan keluarga tidak harmonis atau broken home sering merasa terabaikan dan kurang kasih sayang. Menyaksikan orangtua yang bertengkar di depannya atau bahkan memiliki orangtua yang sudah bercerai membuat anak merasa rumah sudah bukan tempat yang membuatnya nyaman.

Tanpa tindakan tepat yang dilakukan oleh orangtua, bisa-bisa anak kehilangan figur yang bisa dijadikan panutan. Tidak mendapat perhatian dan kasih sayang yang diinginkan, anak broken home sering mencari kegiatan lain sebagai pelariannya dari segala kekacauan di rumah.

Berbagai dampak jangka pendek mau pun jangka panjang bisa terjadi kepada anak broken home. Salah satunya adalah anak menjadi pendiam, kesepian, depresi, trauma, bahkan memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang negatif.

 BACA JUGA:

Hati-Hati dengan Garis Hitam Pada Kuku, Bisa Jadi Pertanda Kanker Ganas

Menjadi anak broken home pastinya bukanlah kemauan anak itu, semua terjadi di luar kehendaknya. Namun, masih banyak orang-orang di luar sana yang mengomentari, berprasangka buruk, bahkan berkata negatif tentang anak broken home.

Misalnya ada seorang anak tertangkap basah sedang menggunakan obat-obatan terlarang, tak jarang kita mendengar orang lain berkata, “Ah pantas saja dia melakukan itu, kan dia anak broken home,” atau “pantas saja hidupnya nggak bener, toh ayahnya juga nggak bener.”, dan berbagai macam umpatan lainnya.

Psikolog klinis forensik, Dra. A. Kasandra Putranto memberikan pendapatnya kepada okezone, “Stereotype yang diberikan orang lain kepada anak broken home justru akan memicu anak itu mengembangkan identitas atau perilaku yang sesuai dengan stereotype tersebut, misalnya jika orang lain memberi label anak broken home sebagai anak nakal, maka anak tersebut benar-benar akan melakukan kenakalan karena merasa tindakannya adalah ‘wajar’.” ungkapnya.

Oleh sebab itulah, sebagai orang luar yang tidak tahu apa-apa lebih baik kita diam dan tidak seharusnya mengomentari bahkan melabeli seorang anak broken home sebagai anak yang nakal karena sepatah kata saja mungkin bisa mempengaruhi masa depan anak itu.

Kasandra pun menambahkan lagi, “Perlu diingat bahwa stereotype tidak menggambarkan seluruh populasi. Tidak semua anak yang orangtuanya bercerai menjadi anak bermasalah karena perceraian bukanlah faktor tunggal yang dapat memicu masalah perilaku, emosi, dan akademis pada anak. Faktanya, karakteristik psikologis dan kecerdasan sosial-emosional juga mempengaruhi kapasitas anak dalam menjalani kehidupan pasca perceraian orangtua.”

 BACA JUGA:

Setelah Kopi Ganja, Kini Ada Permen Berbasis Ganja yang Ampuh Mengusir Stres

Berdasarkan keterangan Kasandra, perilaku negatif yang dilakukan seorang anak tidak bergantung pada apakah ia anak broken home atau bukan, nyatanya jika anak itu memiliki kecerdasan sosial dan emosional yang baik, pastinya ia bisa menghadapi masalahnya dengan baik dan tetap berprestasi.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini