nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Cara yang Tepat untuk Menjelaskan Perceraian kepada Anak

Blenda Azaria, Jurnalis · Jum'at 23 November 2018 19:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 23 196 1981880 ini-cara-yang-tepat-untuk-menjelaskan-perceraian-kepada-anak-5YT90OrcVJ.jpg Ilustrasi (Foto: Huffingtonpost)

PERCERAIAN dalam sebuah pernikahan bukanlah suatu yang mustahil. Disebabkan oleh berbagai alasan, perceraian bisa terjadi sebagai jalan akhir yang bisa ditempuh, seperti halnya berita artis Gisella Anastasia yang gugat cerai Gading Marten.

Dalam menjalani proses perceraian, banyak hal yang harus dipikirkan oleh pasangan suami istri, salah satunya adalah anak mereka. Bagaimana masa depan anak nanti, siapa yang akan mengurus anak, dan yang paling penting namun paling sulit adalah; bagaimana cara memberitahu anak tentang perceraian tanpa menyakiti perasaannya?

Banyak sekali dampak negatif yang bisa terjadi apabila pasangan suami istri salah memberi pengertian kepada anak tentang perceraian yang akan terjadi. Untuk itulah Okezone mengumpulkan data tentang cara yang tepat untuk memberitahu anak tentang perceraian.

Komunikasikan dengan baik dan terbuka

Berbeda umur anak, berbeda juga cara penyampaian yang benar. Apabila anak masih kecil, gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti dan jangan sampai menyebut kesalahan yang diperbuat sang ayah atau sang ibu karena anak bisa tumbuh dewasa dengan rasa benci kepada salah satu orangtuanya atau bahkan keduanya.

Lalu bila anak menginjak usia remaja, komunikasikanlah secara baik-baik, yakinkan ia tidak akan terabaikan dan akan tetap mendapat kasih sayang yang sama. Orangtua harus ekstra hati-hati menangani anak remaja karena kondisi emosionalnya yang tidak stabil.

Beritahu anak bahwa orangtua telah memikirkan baik-baik dan memiliki alasan yang kuat mengapa mereka ingin bercerai.

keluarga

Beri anak kejelasan

Ketika anak mengetahui tentang kabar perceraian, banyak pertanyaan yang muncul di pikirannya. Beri ia penjelasan tentang dimana ia akan tinggal, bersama siapa ia akan tinggal, dan apakah ia masih bisa bertemu ayah atau ibunya ketika sudah berpisah nanti. Jangan lupa pastikan anak mengetahui bahwa ayah dan ibunya akan tetap ada di sisinya apabila ia membutuhkan mereka.

Beri anak kejelasan agar ia tidak merasa linglung dan bisa menerima kondisi baru yang akan dialaminya.

Yakinkan bahwa semua ini bukan kesalahannya

Dilansir dari laman Psychology Today, Edward Kruk Ph.D menjelaskan bahwa anak akan berpikir bahwa ia bisa mencegah perceraiaan ini dengan berbuat baik, tidak bertengkar dengan kakak atau adiknya, mendapat nilai bagus, atau membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah. Beritahu mereka secara general mengapa perceraian ini bisa terjadi. Hal paling penting adalah beritahu anak bahwa perceraian ini terjadi bukanlah karena kesalahannya.

Ucapkanlah kata-kata yang membuatnya tenang, seperti “ayah dan ibu tidak bisa mencari jalan keluar yang bisa menyelesaikan masalah kami. Kami telah membuat kesalahan dan maafkan kami telah membuatmu terluka,” atau “perpisahan adalah masalah orang dewasa dan sama sekali bukan kesalahanmu. Ini adalah masalah kami dan kami akan mencoba menyelesaikannya.”

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan

Dra. A. Kasandra Putranto, seorang psikolog klinis forensik menjelaskan kepada okezone, hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan adalah bertengkar di depan anak. Bertengkar di depan anak bisa membuat anak membenci orangtuanya bahkan membenci dirinya sendiri.

Kasandra menambahkan lagi, jangan menempatkan anak-anak di tengah, seperti meminta mereka untuk memilih antara ayah atau ibunya.

Lalu, jangan menumpahkan beban yang orangtua rasakan kepada anak agar hubungan yang sehat antara anak dan orangtua tetap terjalin.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini