nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Penjual Souvenir di Pulau Gili Air yang Harus Bangkit Pasca Gempa

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 26 November 2018 12:18 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 26 406 1982852 kisah-penjual-souvenir-di-pulau-gili-air-yang-harus-bangkit-pasca-gempa-jnBgXBxkA1.jpeg Hamzah penjual souvenir di Pulau Gili Air (Foto:Sukardi/Okezone)

MENJADI kisah tersendiri bagi mereka yang memilih bertahan pasca gempa Lombok Juli lalu. Fakta menjelaskan, tak sedikit yang enggan menginjakkan kaki lagi di pulau yang terkenal akan keindahan pantainya tersebut.

Namun, bagi sebagian lainnya, dompet mesti tebal lagi. Dapur mesti ngebul lagi. Jadi, yang bisa dilakukan adalah kembali bangkit dan yakin bahwa roda kehidupan kembali berputar.

Seperti yang diamini Hamzah, seorang penjual kerajinan tangan di Pulau Gili Air. Pria berusia 28 tahun tersebut mengaku bahwa tidak ada cara lain selain membuka kembali lapak usahanya.

"Saat kejadian itu tiba, rasa takut dan panik tentu ada. Tapi, kami pasrah saja. Alhamdulillahnya, di Pulau Gili Air, dampak gempanya tidak begitu besar," ceritanya pada Okezone, di Pulau Gili Air, Lombok Utara, belum lama ini.

Hamzah menjelaskan, tidak ada cara lain selain kembali membuka usahanya lagi. "Saya hanya mengandalkan ini untuk menghidupi saya. Jadi, saya niatkan untuk kembali nyebrang ke Pulau Gili Air setelah sebelumnya kami mengungsi ke Lombok," sambungnya.

(Baca Juga:Jenis Kecoa Ini yang Dipilih Ilmuwan untuk Menciptakan Tepung Kecoa yang Fenomenal)

(Baca Juga: 10 Wanita Tercantik di Dunia, Nomor 1 dari Asia Tenggara)

(Baca Juga: 13 Takhayul Korea yang Masih Dipercaya, Beberapa Mirip di Indonesia)

Ya, Hamzah adalah pengrajin aksesori kerang dan pernak-pernik lainnya. Dia membuat sendiri kerajinan tersebut dari bahan dasar yang dia beli di Lombok. Karyanya dia jual di Pulau Gili Air dengan harga mulai dari Rp50 ribu hingga Rp350 ribu.

Sedikit cerita ke belakang, Hamzah menuturkan bahwa dirinya mau kembali ke Pulau Gili Air sekitar bulan Oktober. Memiliki niat untuk kembali berjualan saja menurutnya perlu pemikiran yang besar. Pertimbangan utamanya tentu keamanan nyawa.

Hamzah juga menjelaskan bahwa saat kejadian tiba, guncangan gempa yang terasa tidak begitu dahyat. Air laut pun tidak sampai naik ke pulau. Tapi, beberapa bangunan di Pulau Gili Air memang ada yang rusak, khususnya bangunan yang menggunakan semen. "Bangunan yang basicnya kayu malah tidak rubuh tapi beberapa bangunan ada yang rusak tapi tidak parah," ceritanya.

 

Tapi, setelah dia sadar bahwa Pulau Gili Air tidak begitu berbahaya dan tidak terdampak terlalu besar, dia yakin untuk kembali membuka warung kecil-kecilannya yang berdinding kayu dan berlantai pasir pantai.

Dia juga tahu bahwa turis asing yang datang ke Pulau Gili Air sudah semakin banyak dan ini menandakan bahwa kekhawatiran akan gempa susulan dan dampak yang lebih besar itu tidak ada. "Setelah keyakinan itu bulat, saya dan keluarga memutuskan untuk berjualan kembali," paparnya sedikit haru.

Setelah membuka kembali usaha kerajinan tangan tersebut, lambat laun rezekinya kembali hadir. Perutnya kembali bisa merasakan kecukupan. "Kalau mau tahu, beberapa produk yang dipajang di sini ada yang sisa gempa yang terselamatkan. Jadi, ada kisah tersendiri dari produk-produk ini," tambah Hamzah.

Sementara itu, Hamzah menceritakan bahwa Pulau Gili Air sudah aman dan tidak perlu ada hal yang ditakuti untuk mampir berlibur ke sini. "Semoga keyakinan yang kita miliki di sini bisa menjadi alasan juga untuk para calon turis yang mau ke Pulau Gili Air," ucapnya lantas tersenyum.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini