nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pentingnya Perempuan Ambil Hak Cuti Haid Setiap Bulan

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 26 November 2018 16:42 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 26 481 1983023 pentingnya-perempuan-ambil-hak-cuti-haid-setiap-bulan-kxmvWFBO0X.jpg Ilustrasi (Foto: Dietdoctor)

SETIAP pekerja perempuan diberi hak untuk mendapatkan cuti haid. Hal ini tidak boleh diabaikan supaya tidak mengganggu kesehatan.

Disebutkan dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa pekerja atau buruh perempuan, yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.

Kabag Penelaahan Hukum dan Evaluation Konvensi Internasional Kementerian Ketenagakerjaan Umar Kasim mengatakan, sudah jelas tertera dalam pasal tersebut bahwa perempuan haid boleh izin kerja. Apalagi dalam kondisi kesakitan dan diharuskan untuk istirahat.

 (Baca Juga:Dampak Fatal Akibat Bekerja Shift Malam untuk Perempuan)


"Perempuan dapat waktu istirahat kalau merasakan sakit, ini jelas ada pasalnya. Tapi sayangnya perempuan yang mengambil cuti haid tersebut, no work no pay, kalau tidak ya hak cuti dikurangi. Seharusnya ini tidak dikurangi dalam cuti hak dasar," ujar Umar saat ditemui di kawasan Pecenongan, Jakarta Pusat, Senin (26/11/2018).

Umar menambahkan, perempuan tidak perlu takut untuk mengambil cuti haid, dengan cara izin kepada atasan atau melalui HRD. Kalau terpaksa bekerja pasti ada dampak serius yang dihadapi.

Senada, Kasi Kapasitas Kerja Institusi Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Syahrul Efendi menambahkan, perempuan wajib mengambil cuti haid tersebut. Sebabnya, ketika haid hari pertama dan kedua, perempuan butuh banyak istirahat.

 (Baca Juga:Inikah Alasan Sebenarnya Kepindahan Pangeran Harry dan Meghan Markle dari Istana Kensington?)

Lebih pentingnya hal ini dilakukan agar mendapatkan penyegaran. Apalagi perempuan sangat rentan anemia karena banyak darah keluar saat haid.

"Perempuan butuh istirahat dan merasa lemah ketika haid. Kalau diforsir risikonya ya anemia," bebernya.

Saat perempuan mengalami anemia, banyak risiko serius terhadap kesehatan. Namun perempuan kerap abai akan hal itu.

"Untuk perusahaan karena sudah jelas pasalnya sebaiknya jangan dilarang. Apalagi kalau memaksa harus menunjukkan bukti, itu tidak etis," simpel Syahrul.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini