nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jamu Kuat Dicemari Zat Kimia, Hati-Hati Penggunaannya

Taufik Budi, Jurnalis · Selasa 27 November 2018 04:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 26 481 1983219 jamu-kuat-dicemari-zat-kimia-hati-hati-penggunaannya-PbRP44DYFt.jpeg Jamu dan makanan berbahaya yang diamankan BBPOM Semarang (Foto: Taufik Budi/Okezone)

JAMU kuat untuk meningkatkan vitalitas tak sepenuhnya aman, karena ada yang dicampur dengan zat-zat kimia sehingga penggunaannya harus sesuai dosis. Padahal, kebanyakan masyarakat menduga jamu aman dikonsumsi karena hanya menggunakan bahan-bahan alami.

“Jamu-jamu yang paling banyak (dicampur zam kimia) itu anti-reumatik kemudian jamu kuat. Kalau jamu kuat itu misalnya isinya (zat kimia) sildenafil,” kata Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang, Safriansyah, Senin, 26 November 2018.

 (Baca Juga: Pria yang Menikahi Wanita Chubby 10 Kali Lebih Bahagia)

Sildenafil sitrat dijual dengan nama Viagra, Revatio, dan berbagai nama lain, adalah obat untuk terapi disfungsi ereksi (impotensi) dan hipertensi arteri paru-paru (pulmonary arterial hypertension, PAH) yang dikembangkan oleh perusahaan farmasetika Pfizer. Pil Viagra berwarna biru dan berbentuk wajik dengan kata "Pfizer" pada satu sisi, dan "VGR xx" (xx bisa berupa "25", "50" atau "100" sesuai dosis pil tersebut dalam miligram) pada sisi lainnya.

 

“Sildenafil itu memang sebenarnya obat yang ada di dalam peredaran, diproduksi secara legal ada bermerek. Tapi ketika ditambahkan pada jamu orang kan tidak tahu. Dokter pun untuk meresepkan obat kuat itu biasanya sangat hati-hati itu diukur tensinya dulu,” terang dia.

 (Baca Juga:10 Daftar Wanita Tercantik di Dunia 2018, Nomor 1 dari Asia Tenggara!)

Safriansyah mengatakan, jamu kuat yang telah dicampur zat kimia dan dikonsumsi secara terus-menerus bakal berdampak buruk bagi konsumen. Dalam jangka panjang, organ yang terganggu adalah ginjal karena tak bisa menyaring darah secara sempurna.

“Orang yang tidak tahu (jamu dicampur zat kimia) cenderung berlebih dipakai terus-menerus oleh konsumen jamu itu. Dampaknya yang paling banyak adalah kegagalan ginjal, rusak ginjalnya. Tidak berfungsi sehingga banyak juga kasus cuci darah, itu salah satunya,” pungkasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini