nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jangan Larang Anak Laki-Laki Memasak, Ini Alasannya!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 28 November 2018 16:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 28 196 1984015 jangan-larang-anak-laki-laki-memasak-ini-alasannya-vxm2bGw18b.jpg Anak laki-laki memasak (Foto: Pixabay)

ISU kesetaraan gender menjadi isu penting yang kini menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Jika ditelisik lebih jauh, salah satu akar permasalahan sebetulnya berawal dari cara didik orangtua di rumah.

Sebagai contoh, pada zaman dulu, permainan anak laki-laki dan perempuan selalu dibedakan berdasarkan gender. Anak laki-laki selalu identik dengan permainan yang cenderung maskulin seperti bermain perang-perangan, superhero, atau mengoleksi mobil-mobilan. Sebaliknya, permainan anak perempuan didominasi oleh aktivitas yang menuntut mereka berperilaku seperti seorang ‘princess’, halus, patuh, dan baik.

Baca juga: Transformasi Penampilan Oksana Voevodina, Miss Moscow yang Kini Berhijab setelah Jadi Mualaf

Budaya segregasi gender inilah yang kemudian menimbulkan sebuah ketakutan tersendiri di kalangan orang tua. Dalam arti, mereka khawatir bila anak laki-lakinya bermain boneka barbie dan masak-masakan akan membentuk karakter yang lebih feminin dan gemulai.

Padahal, menurut penuturan Dra. Dina Ramayanti, Psi, seorang Psikolog Anak, mengajarkan anak memasak sejak dini (termasuk anak laki-laki) akan mendatangkan sejumlah manfaat bagi tumbuh kembang mereka. Dina juga tidak memungkiri jika dulu, aktivitas selalu identik dengan perempuan. Namun sekarang, mindset tersebut harus diubah dan harus mulai diperkenalkan kepada anak laki-laki di saat masa pertumbuhan emasnya (4-8 tahun).

“Masak itu akan menstimulus motorik halusnya. Ini sangat penting karena bukan hanya anak perempuan yang harus mendapatkan perlakuan tersebut, anak laki-laki juga sebaiknya diperlakukan sama,” tutur Dr. Dina Ramayanti, di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (27/11/2018).

Dina mengatakan, orang tua harus melihat aspek-aspek yang bisa dikembangkan dari kegiatan tersebut. Dengan mengajarkan anak-anak memasak sejak dini, secara tidak langsung akan mengajarkan mereka nilai-nilai kesabaran. Contoh kecilnya, saat mereka harus memilih bahan-bahan yang hendak digunakan, memilih resep yang tepat, hingga mengolahnya hingga makanan siap disajikan.

“Keterampilan sabar itu kadang-kadang susah untuk diajarkan. Tidak ada teorinya. Semua harus dilakukan secara langsung. Kuncinya itu proses. Memasak itu membutuhkan proses. Anak-anak harus mengerti bahwa segala sesuatu itu ada prosesnya,” tegas Dina.

Dalam kesempatan yang sama, Putri Habibie, seorang passionate homecook dan founder dari LadyBake cooking class juga membeberkan sebuah pengalaman menarik yang ia dapatkan selama menjadi mentor memasak khusus anak-anak.

Berdasarkan pengakuannya, murid atau anak laki-laki yang mengikuti kelas memasak cenderung lebih pro-aktif dan rasa ingin tahunya jauh lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Hal ini membuktikan bahwa memasak bisa menjadi salah satu cara terbaik untuk mendorong tumbuh kembang anak lebih maksimal.

“Setelah aku memberikan kelas, anak laki-laki lah yang paling sering mem-follow up semua pelajaran yang aku berikan. Beberapa anak bahkan sering mengirim pesan singkat kepada aku untuk memberitahu bahwa mereka sedang belanja bahan masakan di supermarket, ada juga yang menawarkan hasil masakan yang mereka buat dari rumah,” tutupnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini