Komik Manga Dapat Dijadikan Terapi untuk Penyandang Autis, Apa Kelebihannya?

Risda Nadiva, Jurnalis · Kamis 29 November 2018 20:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 29 481 1984655 komik-manga-dapat-dijadikan-terapi-untuk-penyandang-autis-apa-kelebihannya-tiXnnXmR5y.jpg Anak membaca manga (Foto: Webjapan)

MEMBACA komik adalah kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan saat waktu sengang. Apalagi bagi pencinta manga atau komik Jepang sudah tak asing lagi mendengarnya.

Tidak terbatas usia dan gender, manga Jepang juga memiliki ciri sendiri dari segi gambar dan tampilan, seperti yang dilansir melalui Japanpowered pada Kamis (29/11/2018).

Jika diperhatikan, manga cenderung lebih banyak menampilkan gambar daripada tulisan. Makanya berbeda dengan komik buatan Marvel atau yang lainnya. Beberapa manga juga ada yang menonjolkan budaya asal negerinya sendiri maupun kekhasan lainnya, yaitu Samurai X, Blood-C, dan masih banyak lagi. Penikmatnya juga diarahkan untuk membaca mulai dari kanan ke kiri.

 BACA JUGA:

Pelaminan Pengantin Melayang Viral, Netizen: Jabat Tangannya Kayak Gimana?

Tahukah Anda, jika seseorang yang menderita Autism Spectrum Disorder lebih tertarik membaca manga karena seperti yang telah dijelaskan, lebih fokus pada gambar. Banyak orang penderita autis lebih lancar memproses gambar yang ditampilkan daripada kata maupun tulisan.

 

Elemen penting dari manga adalah emosi. Lihat saja, ketika Anda membacanya tanpa ada tulisan, sudah pasti tahu apa yang dilakukan dan bagaimana sifat suatu karakter yang digambar. Seperti desain karakter dengan mata besar maupun kecil, desain rambut hingga ekspresi yang ditonjolkan.

Pun dengan penderita autis, mereka lebih sering berkomunikasi lewat ekspresi wajah dibanding mengungkapkannya melalui kata. Demikian dengan desain karakter manga yang sederhana membantu pembaca, khususnya penderita autis agar lebih mudah mengidentifikasinya.

Biasanya manga selalu disajikan dengan tampilan hitam putih, baik dibaca secara online maupun dicetak dengan menggunakan kertas buram. Ini dimaksudkan agar pembaca mengikuti bahasa visual sehingga hanya fokus pada cerita yang ditampilkan. Selain itu, penderita autis juga bisa menikmati beragam cerita, bahkan bisa belajar sekaligus menemukan minatnya .

 BACA JUGA:

Berapa Lama Harapan Hidup Penderita Diabetes?

Manga juga tak hanya sekadar bahan bacaan, tapi juga dijadikan wadah bersosialisasi bagi para peminatnya, terutama penderita autis. Tentunya ketika mereka berkumpul, timbul rasa aman bagi si penderita autis dan tidak membuatnya canggung maupun merasa dibedakan.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini