nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perbedaan Metode Inseminasi dan Bayi Tabung untuk Pasangan Infertilitas

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 30 November 2018 14:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 30 481 1985003 perbedaan-metode-inseminasi-dan-bayi-tabung-untuk-pasangan-infertilitas-YY6yB0AnGg.jpg Ilustrasi (Foto: Huffingtonpost)

METODE inseminasi dan bayi tabung dapat menolong pasangan suami-istri yang ingin punya anak karena kondisi infertilitas atau mengalami masalah ketidaksuburan. Tapi keduanya memiliki perbedaan dalam prosesnya.

Ketika pasangan menikah, lalu dalam waktu satu tahun belum berhasil hamil bisa dikategorikan infertilitas. Sebaiknya, konsultasikan dengan dokter supaya dampaknya tidak berlarut-larut.

Apalagi khususnya bagi pasangan yang kerap menunda kehamilan di usia muda, risikonya malah bisa gagal hamil seiring bertambahnya usia. Banyak pasangan mengeluhkan hal itu dan membiarkan terus-menerus.

Nah, salah satu metode yang dapat membantu mewujudkan impian pasangan agar mudah hamil ialah dengan insemnisasi atau bayi tabung. Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr Batara Imanuel Sirait, SpOG(K) menjelaskan lebih lanjut.

Opsi inseminasi merupakan proses penempatan sperma suami di rahim istri. Perbedaannya dengan bayi tabung adalah memasukkan embrio ke dalam rahim.

"Kalau insemnisasi itu memasukkan sperma suami yang diambil dengan mastrubasi ke rahim istri. Sementara pada bayi tabung, spermanya dipertemukan di luar, lalu membentuk embrio yang bisa dikembalikan ke rahim istri," ujar dr Batara di sela Media Gathering Kick Of Perayaan Anniversary #46YearsOfSavingLife Bundamedik Healthcare di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat (30/11/2018).

Baca Juga: Hari Ini, Para Finalis Miss World 2018 Jalani Sesi Fast Track Sport

dr Batara menjelaskan, saat pasien melakukan proses bayi tabung, dimulai dengan pemeriksaan hormonal, USG, pengambilan sel telur, lalu sperma suami dipertemukan di luar. Setelah itu terbentuklah embrio yang bisa dikembalikan dalam rahim istri.

konsultasi

Sebelum dijadikan embrio, pastinya dilakukan proses pemeriksaan standar. Termasuk analisa sperma, skrining infeksi, sampai mengecek kualitas sel telur dan sperma dengan baik. Setelah hasilnya bagus, barulah sel telur dan sperma dipertemukan.

"Sebelum embrio dimasukkan, pasti dipilih yang baik dan tidak ada kesalahan kromosom. Cara itu dilakukan supaya berhasil hamil," bebernya.

Baca Juga: Benarkah Vape Lebih Sehat? Pendapat Dokter Ini Buktikan Sebaliknya

Saat mengembangkan embrio di Klinik Morula IVF, sebut dr Batara, menggunakan adopsi teknologi endometrium yang ditempatkan dalam inkubator. Setiap hari dipantau dengan time lapse kamera yang canggih.

"Banyak pasien yang berhasil melakukan bayi tabung, sampai saat ini ada lebih dari 3.000 kelahiran bayi tabung. Paling besar usianya sekarang anak itu sudah 20 tahun," pungkas dia.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini