nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lebih dari 21 Ribu Orang Positif HIV di 2018, DKI Jakarta Tertinggi

Dewi Kania, Jurnalis · Sabtu 01 Desember 2018 18:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 01 481 1985549 lebih-dari-21-ribu-orang-positif-hiv-di-2018-dki-jakarta-tertinggi-wGbue3XwdU.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PENYAKIT HIV/AIDS di Indonesia jadi salah satu tantangan yang masih menghantui banyak masyarakat. Hingga saat ini penderita penyakit tersebut jumlahnya kian bertambah.

Dilansir Okezone dari situs resmi Kementerian Kesehatan, data Kementerian Kesehatan tahun 2017 mencatat 48.300 kasus HIV positif yang ditemukan. Tercatat sebanyak 9.280 kasus AIDS.

Sementara data triwulan II tahun 2018 mencatat dari 21.336 kasus HIV positif, tercatat sebanyak 6.162 kasus AIDS. Adapun jumlah kumulatif kasus AIDS sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 sampai dengan Juni 2018 tercatat sebanyak 108.829 kasus.

 (Baca Juga: 9 Fakta Menakutkan Tentang AIDS yang Wajib Anda Ketahui)

Sementara laporan data 2018, HIV/AIDS terjadi di 433 dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia, dengan presentase 84,2%. Provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta sebanyak 55.099 jiwa, Jawa Timur 43.399 jiwa, Jawa Barat 31.293 jiwa, Papua 30.699 jiwa dan Jawa Tengah 24.757 jiwa.

 

Jumlah penderita HIV sebanyak 301.959 jiwa atau 47% dari estimasi ODHA. Sementara jumlah orang dengan HIV/AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa. Setiap tahun diperkirakan bahwa jumlah penderitanya kian meningkat, khsususnya pada HIV. Sementara estimasi untuk penderita AIDS cenderung stabil.

Dua penyakit itu paling banyak ditemukan di kelompok usia 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun orang-orang yang rentan menderita penyakit ini adalah ibu hamil, anak-anak, pekerja seksual, orang yang berhubungan sesama jenis, dan lain sebagainya.

 (Baca Juga:Pengidap HIV Bisa Hidup Lebih Panjang daripada Orang yang Negatif HIV)

Pada dasarnya, HIV/AIDS dapat dicegah dengan cara yang mudah. Bahkan, pencegahan itu dapat dilakukan oleh orang-orang dengan kelompok rentan.

Ketika seseorang sudah positif HIV, sebenarnya penyayang tersebut dapat diobati. Penderita HIV kini sudah tertangani dengan baik. Karena HIV itu ada obatnya, bernama antiretroviral (ARV).

Obat tersebut mampu menekan jumlah virus HIV di dalam darah. Sehingga kekebalan tubuh sang penderita tetap terjaga.

Sama seperti penyakit kronis lainnya seperti hipertensi, kolesterol, atau DM, obat ARV harus diminum secara teratur, tepat waktu dan seumur hidup, untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA serta dapat mencegah penularan.

ARV dijamin ketersediaannya oleh pemerintah dan gratis pemanfaatannya. Pelayanan ARV sudah dapat diakses di rumah sakit dan puskesmas di 34 provinsi, 227 kabupaten/kota.

Selain dengan obat, penderita HIV dapat sembuh dengan dukungan sosial dan keluarga. Dukungan dari lingkungan terdekat juga sangat dibutuhkan. Hal itu agar ODHA tetap semangat dan jangan sampai putus obat. Namun sayangnya, masih banyak stigma dilakukan oleh keluarga dekat sekalipun.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini