nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Alasan Mempelajari Soal Sebelum Psikotes Tidak Disarankan

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 04 Desember 2018 20:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 04 196 1986788 ini-alasan-mempelajari-soal-sebelum-psikotes-tidak-disarankan-XFjd2sQ2ZV.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PSIKOTES merupakan tes yang sering ditakuti oleh para pelamar kerja. Kebanyakan khawatir bila karakternya membuat mereka tidak lolos. Maka tak heran bila beberapa orang berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum menjalani tes termasuk mempelajari soal yang beredar.

Akan tetapi, sebenarnya melihat kumpulan soal psikotest tidak disarankan oleh psikolog. "Baca buku-buku psikotest dan lainnya justru lebih banyak sesatnya daripada benarnya. Jadi saya tidak menyarankan untuk melakukan hal itu," tulis psikolog klinis dewasa, Arrundina Puspita Dewi, M.Psi kepada Okezone saat dihubungi melalui pesan singkat, Selasa (4/12/2018). Mengapa demikian?

"Karena kalau ngikutin panduan dari buku, misalnya dibilang bagusnya gambar begini begitu, pasti diikutin. Tapi ternyata dari tes yang lain hasilnya enggak sama, di sini jadinya ada inkonsistensi," terang Arrundina.

(Baca Juga:Cantiknya Ratu Wushu Indonesia, Lindswell Kwok yang Kini Berhijab Syar'i)

Lebih lanjut dirinya menerangkan bila soal-soal psikotest biasanya diujikan dalam rangkaian. Tujuannya untuk membuat penilaian secara komprehensif kemudian menarik kesimpulan tentang kepribadian orang yang mengikuti tes.

"Kalau cuma satu tes doang, susah untuk bisa mendapatkan gambaran menyeluruh. Selain itu untuk juga melihat konsistensi itu tadi," tambah Arrundina.

Soal-soal psikotes yang beredar di luaran dapat memengaruhi cara peserta tes menjawab pertanyaan. Tak sedikit yang terpaku dengan arahan yang diberikan. Ketika menjawab, hal itu dapat membuat karakteristik yang sebenarnya dari peserta tidak terlihat.

(Baca Juga:Hasil Studi Sebut Pasangan yang Suka Celamitan 'Colong' Makanan Lebih Awet Loh!)

"Nah itu justru malah merugikan kandidat, jadi penilaiannya turun karena dia tidak konsisten. Gambaran kepribadiannya jadi beda-beda dari masing-masing alat tes. Orang yang seperti ini malah secara klinis justru berarti bahwa dia orang bermasalah," terang Arrundina.

Hal itulah yang membuat pihak perusahaan tidak mau merekrut peserta. "Ya siapa yang mau meng-hire orang bermasalah? Enggak ada 'kan? Makanya itu melihat soal psikotes jadi merugikan diri sendiri," imbuh Arrundina.

Pada akhirnya dia menyarankan agar peserta tes yakin dan percaya pada kemampuan diri sendiri. "Kita semua punya potensinya masing-masing kok. Tinggal cari di mana tempat untuk bisa nyalurin potensi itu," pungkas Arrundina.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini