nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Asyiknya Reuni Bareng Pancaran Sinar Petromaks dan Nasida Ria

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 08 Desember 2018 10:57 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 08 196 1988460 kongres-kebudayaan-indonesia-ajang-pertemuan-antargenerasi-lrEoHHzEUA.jpg

BAGAIMANA jika kelompok kasidah Nasida Ria dan Orkes Melayu Pancaran Sinar Petromaks melebur dalam sebuah acara? Reaksi para penggemarnya pun bisa saling memahami.

Pemandangan seperti itulah gambaran di tengah panggung Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018 yang resmi digelar di Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta.

Selama lima hari, 5-9 Desember 2018, para pemangku kepentingan di bidang kebudayaan berkumpul untuk menetapkan Strategi Kebudayaan, belajar, dan bertukar pikiran bidang kebudayaan. KKI pun membuka ruang bagi generasi muda untuk turut dalam agenda pemajuan kebudayaan.

Dua hal utama yang akan dihasilkan kongres ini adalah Strategi Kebudayaan dan resolusi kongres. Pada pembukaan KKI 2018, Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi menyampaikan bahwa kongres ini bukan sekadar pidato atau penyampaian makalah, lebih dari itu, KKI 2018 adalah sebuah perayaan, penanda kebudayaan sudah memiliki dasar hukum yang kuat.

“Kebudayaan sudah punya dasar hukum yang kuat, yang bisa jadi tonggak, panduan, sehingga kebudayaan Indonesia bisa menunjukkan jati dirinya, (dan) lebih diperkuat lagi,” ujar Didik.

Selain menetapkan Strategi Kebudayaan, Kongres Kebudayaan Indonesia ke-100 ini diharapkan dapat menjadi arena belajar melalui ceramah, kuliah umum, debat publik, seni pertunjukan, dan lainnya.

Kongres menjadi ajang berharga untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat luas. Lebih dari itu, KKI ingin membuka ruang bagi para peserta untuk menginisiasi aksi-aksi kebudayaan yang baru, serta mendorong keterlibatan generasi muda di dalamnya.

"Kita ingin sekali sebetulnya memberi ruang, karena agenda pemajuan kebudayaan ke depan akan ada di tangan anak muda. Bukan hanya karena para pelaku budaya yang senior ini berkurang jumlahnya, tapi juga kita hidup di suatu masa transisi, di mana teknologi digital mengambil peran yang besar di dalam kehidupan sosial kita," tutur Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid.

“Justru dengan mempertemukan antargenerasi ini dan memberi ruang cukup besar bagi anak-anak muda ini untuk berekspresi. kita berharap koneksi itu muncul lagi, di antara pelaku budaya tradisi dan anak muda,” terang Hilmar.

Negara, menurutnya, dapat memainkan peranan sebagai pandu masyarakat. Yakni membantu masyarakat merumuskan strategi kebudayaannya sendiri sekaligus membimbing masyarakat agar tetap sadar akan tujuan kehidupan bersama sebagai bangsa Indonesia yang diikat oleh cita-cita suci proklamasi kemerdekaan Indonesia.

(Baca juga: Kalahkan Santa Fe, Surabaya Terpilih Jadi Kota Terindah di Dunia)

Aksi Muralis di Kongres Kebudayaan

Salah satu kegiatan seru yang bisa dinikmati pegawai maupun masyarakat umum adalah pembuatan mural di dalam Kompleks Kantor Kemendikbud. Sebanyak 30 seniman dari berbagai daerah menghadirkan mural dengan ragam tema yang diambil dari sepuluh objek kebudayaan.

Ke-30 seniman itu mengisi rangkaian KKI 2018 dengan membuat mural menggunakan media papan tripleks serta alat menggambar dan mewarnai berupa cat air, kuas, serta cat semprot atau botol aerosol.

Tema yang diangkat dalam karya mural mereka diambil dari 10 objek kebudayaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Ke-10 objek kebudayaan itu adalah permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, adat istiadat, manuskrip, tradisi lisan, seni, bahasa, dan ritus.

Proses kreatif para seniman mural di KKI 2018 diawali dengan forum diskusi satu hari sebelum mulai berkarya. Dalam diskusi tersebut mereka membahas tentang tema, dan bagaimana konsep mural satu sama lain bisa saling berkolaborasi.

Selanjutnya mereka membuat sketsa, dan berdiskusi lagi untuk menentukan letak atau posisi tiap karya. Pada Rabu pagi, 5 Desember 2018, para seniman mulai membuat mural, dari sketsa hingga pewarnaan. Setiap seniman mendapatkan jatah 3—5 papan tripleks dengan total sepanjang 3—5 meter.

(Baca Juga: Penjelasan Mengejutkan Para Ahli tentang Berhalusinasi Menjelang Kematian)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini