nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gencar Promosikan Rendang agar Makin Mendunia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 09 Desember 2018 14:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 09 298 1988829 gencar-promosikan-rendang-agar-makin-mendunia-iGwM7cfM49.jpg Pemerintah gencar promosikan rendang(Foto:Ilustrasi/Amazingrace)

WAKTU masih menunjukkan pukul 04.30 WIB, suara bising masih terdengar jelas dari dapur rumah milik Vermonte. Pria paruh baya itu terlihat sibuk membalikkan potongan daging yang sedang dimasaknya di atas tungku kayu. Ia ternyata sedang mengolah rendang (randang- dalam bahasa Minang), salah satu kuliner khas Minangkabau.

Hidangan tersebut bukan untuk disantap sebagai menu sarapan seperti yang sering dia sajikan untuk istri dan kedua putrinya. Olahan rendang itu bakal dijajakan Vermonte di pasar dan beberapa toko kecil di sekitar kampung. Vermonte memang tinggal di Kampung Randang, Kabupaten Payakumbuh, Sumatera Barat, yang selama ini masih melestarikan budaya marandang.

(Manilaspoon)

Kampung Randang juga merupakan pusat kuliner di Payakumbuh yang berjarak sekitar 180 kilometer dari Kota Padang. Ia menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke kota tersebut.

Bagi Vermonte, ide menjual rendang bagai menemukan sumber mata air di tengah gurun Sahara. Ia sudah kehabisan akal setelah usaha toko emasnya dinyatakan bangkrut oleh pihak bank.

“Awal tahun 2010 saya dinyatakan bangkrut. Saya bingung mau mencari uang darimana lagi. Hingga akhirnya salah seorang tetangga menjelaskan bahwa bisnis kuliner yang telah ia tekuni selama kurang lebih 3 tahun sudah membuahkan hasil. Bahkan ia bisa naik haji dari hasil menjual randang,” ucap Vermonte lirih.

Berbekal resep warisan keluarga dan modal pas-pasan, Vermonte kemudian memberanikan diri membuka usaha rendang kecil-kecilan. Kala itu ia berpikir, setidaknya bisa membiaya kedua putrinya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

 

Pilihanya itu ternyata tidak salah. Rendang kini menjadi kuliner yang paling diburu wisatawan domestik maupun mancanegara saat sedang berlibur ke Sumatera Barat. Ditambah lagi, sejak empat tahun terakhir, kuliner yang menyajikan sensasi rasa gurih dan kaya akan rempah-rempah itu dinobatkan sebagai makanan terlezat nomor satu di dunia, oleh salah satu media internasional.

Perlahan tapi pasti, Vermonte berhasil bangkit dari keterpurukan yang hampir membuatnya menjual rumah dari hasil menabung selama 15 tahun lebih. Meski pada awal merintis bisnis rendang ini ia sempat mengalami jatuh bangun, kini olahan rendang hasil kreasinya menjadi oleh-oleh favorit wisatawan.

Mengingat jenis rendang sangat beragam, Vermonte menjatuhkan pilihannya pada rendang sapi dan rendang talua (telur). Untuk olahan rendang sapi, ia mengandalkan resep yang diberikan almarhum ibunya sebelum beliau menghembuskan napas terakhir. Sementara untuk olahan rendang talua, Vermonte beberapa kali melakukan eksperimen sebelum akhirnya mendapatkan resep yang pas.

“Kedua randang ini yang menjadi andalan saya. Peminatnya cukup banyak, apalagi saya mengemasnya dalam kaleng dan bungkus plastik. Jadi konsumen tidak perlu takut randangnya basi karena terlalu lama disimpan. Lagi pula, randang itu makanan yang tahan lama. Ia bisa bertahan hingga berbulan-bulan,” jelas Vermonte yang turut hadir dalam acara Nusantara Marandang.

Keunikan dan arti penting rendang

Usaha yang dirintis Vermonte dan para pedagang rendang lainnya ternyata mendapat perhatian dari pemerintah. Rendang kini menjadi satu dari lima makanan Nasional yang gencar dipromosikan di kancah Internasional.

Pemilihan rendang sebagai makanan nasional bukanlah tanpa sebab. Rendang sudah menjadi bagian terdalam dari adat, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau sejak berabad-abad silam. Bahkan jika ditelisik dari sejarahnya, jenis rendang terbilang banyak dan disesuaikan dengan fungsinya. Sampai saat ini lebih dari 400 jenis rendang telah tercatat dalam database milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

 

“Keunikan dari kuliner khas Minangkabau ini adalah jenisnya yang sangat banyak, selain perbedaan berdasarkan fungsi untuk acara keadatan dan budaya, jenis kuliner ini juga berbeda-beda berdasarkan wilayah dan ciri khas masing-masing daerah” tutur Andre Setiawan selaku Kepala Badan Penghubung Provinsi Sumatera Barat, saat ditemui Okezone beberapa waktu lalu.

Rendang juga dianggap memenuhi kriteria gastronomi karena di dalamnya terdapat proses pembuatan yang dinamakan marandang. Setiap unsurnya pun mengandung beragam filosofi menarik seperti daging mencerminkan prosperity (kesejahteraan), rempah-rempah mencerminkan enhancement (peningkatan), santan kelapa untuk integrator, dan cabai merah untuk good lesson (pelajaran baik). Sehingga tidak mengherankan jika kini rendang menjadi salah satu kuliner Nusantara yang paling diburu wisatawan mancanegara.

“Tentunya hal ini menjadi peluang dan tantangan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk secara berkelanjutkan menyampaikannya kepada masyarakat nasional dan internasional,” timpalnya.

 

Pemerintah semakin gencar mempromosikan rendang

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata sebetulnya sudah sering mempromosikan rendang saat mengikuti event-event berskala internasional. Kendati demikian, Ketua Tim Percepatan Wisata Belanja dan Kuliner Kemenpar, Vita Datau Messakh, tidak memungkiri pihaknya harus menerapkan standar khusus agar rendang dapat diterima di lidah wisatawan atau warga asing.

Ini bukan perkara yang mudah mengingat rendang sendiri memiliki 400 jenis yang berbeda-beda sesuai dengan daerah asalnya. Sehingga untuk mempromosikan hidangan tersebut, Vita sepakat rendang yang dipilih harus yang sudah familiar dengan lidah konsumen.

“Dari seluruh dunia, rendang yang paling familiar adalah rendang ikan, ayam, dan daging. Sekarang standar yang kita gunakan adalah rendang daging sapi. Pelan-pelan kita juga mau menginformasikan kepada dunia bahwa rendang itu bukan hanya sekadar produk makanan, melainkan proses memasak,” tegas Vita.

“Jadi nantinya bumbu rendang bisa dimasak juga dengan daging lokal yang ada di suatu negara,” timpalnya.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga tidak pernah berhenti meluncurkan sejumlah strategi dan inovasi untuk menyampaikan kepada masyarakat luas tentang keunikan rendang. Diselenggarakannya event Nusantara Marandang di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, pada 2 Desember 2018 lalu menjadi bukti komitmen mereka dalam mempromosikan rendang.

 

Dalam kata sambutannya, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan bahwa event Nusantara Marandang ini merupakan salah satu cara efektif untuk mempromosikan potensi rendang. Tidak hanya mengenalkan rendang secara luas, tetapi juga meningkatkan perekonomian di Sumatera Barat maupun Indonesia.

“Dengan promosi ini orang-orang akan tahu, merasakan, membeli, dan akhrinya mencoba berdagang randang. Ekonomi pun akan semakin meningkat dan bergerak, dalam arti produk UMKM semakin terjual,” ungkap Irwan Prayitno.

Lebih lanjut, Irwan mengatakan, pemerintah juga perlu meng-highlight rendang sebagai suatu nilai tambah bagi Indonesia, mengingat rendang telah dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia empat tahun berturut-turut. Bahkan, belakangan ini, sudah banyak wisatawan mancanegara yang berlibur ke Indonesia hanya untuk mengulik secara langsung keunikan rendang.

Hasil gambar untuk rendang

(sbs.au)

“Randang bisa dijadikan alat untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke negara kita. Mereka tentu semakin penasaran karena randang berhasil mengalahkan sushinya Jepang, tom yumnya Thailand, dan pizzanya Italia. Selama ini kita juga sudah sering mempromosikan randang saat mengikuti event-event internasional. Tentu dengan bantuan chef-chef profesional. Desember ini kita akan ke Milan, lalu dilanjutkan ke Belanda.,” tutup Irwan.

Melihat upaya promosi yang begitu gencar dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, hal tersebut menjadi sebuah angin sejuk bagi Vermonte dan pedagang rendang lainnya yang hingga saat ini masih menjadikan rendang sebagai pendapatan utama mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini