nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPPPA Gandeng Lembaga Perlindungan Anak untuk Turunkan Kasus Kekerasan pada Anak

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 14 Desember 2018 21:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 14 196 1991500 kpppa-gandeng-lembaga-perlindungan-anak-untuk-turunkan-kasus-kekerasan-pada-anak-pm3AJkBBkD.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PREVALENSI kekerasan anak di Indonesia masih tinggi. Entah itu kekerasan fisik, verbal, maupun seksual. Padahal, setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dan itu sudah diatur dalam undang-undang. Tepatnya Undang-undang Dasar Tahun 1945 Pasal 28B (2) yang berbunyi, “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”

Meski begitu, pemerintah tentu tidak bisa menjangkau seluruh anak di Tanah Air yang jumlahnya mencapai 87 juta jiwa. Dibutuhkan bantuan dari banyak pihak untuk turut serta memberikan perlindungan kepada anak, terutama dari pihak keluarga. Ketahanan keluarga menjadi peran penting untuk memberikan perlindungan kepada anak karena 90% pengasuhan anak berada di tangan keluarga. Selain itu, peran masyarakat dan berbagai lembaga juga diperlukan.

 (Baca Juga:5 Kado Natal Unik untuk Pasangan, Nomor 3 Bisa Buat Kode)

“Pemerintah sudah banyak melakukan upaya untuk melindungi anak, tapi seperti diketahui kita juga punya keterbatasan. Untuk itulah kita bekerja sama dengan Yayasan Plan International Indonesia yang berkecimpung di perlindungan anak. Fokus kerja sama ini adalah bagaimana di masyarakat mereka berperan untuk memberikan perlindungan kepada anak,” ujar Plt. Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Danti Anwar saat ditemui Okezone dalam konferensi media penandatanganan kerjasama, Jumat (14/12/2018), di Jakarta.

 

Dijelaskan oleh Sri Danti, peran lembaga seperti Yayasan Plan International Indonesia dapat mengajarkan masyarakat untuk berani mencegah, mengawasi, dan mendidik anak-anak yang ada di lingkungan masing-masing sehingga tidak terjadi kekerasan, eksploitasi, maupun diskriminasi. Pemerintah sendiri sudah mengambil langkah untuk menurunkan angka kekerasan pada anak dengan membentuk Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PABTM) sejak tahun 2016. Dengan adanya penyuluhan dari lembaga diharapkan masyarakat lebih memahami pentingnya memberikan perlindungan kepada anak.

“Saya juga berharap yayasan ini bisa berperan di PATBM untuk menjangkau keluarga-keluarga yang rentan kekerasan, eksploitasi agar keluarga rentan tersebut tidak terkena kembali dengan pencegahan langsung. Terakhir, saya berharap lewat PATBM bisa terkumpul data-data yang berkaitan dengan kekerasan pada anak, eksploitasi, dan sebagainya yang selama ini memang tidak terjamah. Apalagi di daerah-daerah terpencil, kita kadang-kadang enggak tahu pasti kasus kekerasan,” tambah Sri Danti.

 (Baca Juga:5 Gaya Cantik Nissa Sabyan, Selebriti Paling Banyak Dicari di Google)

Sementara itu, menurut James Ballo selaku Thrive Program Manager Yayasan Plan International, persoalan kekerasan pada anak seperti gunung es. Banyak kasus-kasus yang tidak terlihat menyangkut kekerasan pada anak. Setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan hal tersebut.

“Pertama, masyarakaat kesulitan mengenali permasalahan yang ada eksploitasi kekerasan. Kedua, kapasitas masyarakat dalam upaya mencegah mengidentifikasi dan melaporkan masih rendah. Ketiga, kapasitas perlindungan anak di wilayah belum berjalan optimal,” tandas James saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

(tam)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini