nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak Wanita di Indonesia Gugat Cerai Suami, Kenapa?

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 04:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 16 196 1992084 banyak-wanita-di-indonesia-gugat-cerai-suami-kenapa-nE45qbw0Z8.jpg Permintaan cerai di Indonesia banyak dari wanita (Foto: Abcnews)

Bicara masalah pernikahan, salah satunya di Indonesia ini memang tidak ada habisnya. Bukan hanya permasalahan pernikahan anak, tetapi juga soal tingginya kasus perceraian.

Kasus perceraian di Indonesia paling tinggi ternyata datang dari pihak wanita sebagai pihak penggugat. Sebetulnya alasan apa yang menjadi latar belakang terjadinya catatan angka tinggi kasus perceraian di Indonesia datang dari pihak istri atau wanita?

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Yohana Yembise menyebutkan, terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga dan tidak adilnya pembagian peran dalam membangun keluarga itu masih jadi alasan yang mendominasi mengapa kasus perceraian di Indonesia paling banyak datang dari pihak istri.

menteri yohana

“Alasan pemicu paling banyak kekerasan dalam rumah tangga dan kebanyakan perempuan-perempuan ini merasa bahwa mereka itu yang menjadi kepala keluarga kepala rumah tangga. Contohnya, banyak di kalangan guru-guru juga pegawai negeri banyak perempuan yang mungkin setelah menerima sertifikasi guru itu, banyak yang bercerai, dan pihak kami sedang melakukan survei untuk melihat kira-kira berapa banyak yang, tapi data sementara yang masuk ke saya banyak perempuan yang minta cerai,” ungkap Yohana saat ditemui Okezone di Palangkaraya, Kalimantan Tengah dalam rangkaian acara Peringatan Hari Ibu ke-90, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut dijelaskan Dra. Leny Nurhayanti Rosalin, M.Sc, selaku Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA, di Indonesia sendiri sejauh ini dari data yang dikumpulkan tercatat ada sebanyak 15 juta perempuan kepala keluarga. Dalam artian, perempuan yang menjadi breadwinner (penghasil utama), janda cerai, ataupun janda meninggal. Tingginya angka ini, ditegaskan Yohana juga menjadi salah satu fokus Kemen PPPA yang sedang didalami lebih jauh lagi, agar laju angka perceraian di Indonesia bisa ditekan.

“Kalau perempuan kepala keluarga sudah sekitar 15 juta di seluruh indonesia yang janda dan perempuan yang mengatasnamakan dirimya kepala keluarga dan masih banyak lagi saya belum bisa sampaikan secara akurat karena kita sedang mendalami ini lebih dalam lagi karena ini merupakan isu di mana kami pemerintah berusaha supaya jangan sampai terjadi perceraian di dalam keluarga. Serta ditambah juga kebanyakan para pekerja perempuan wanita kita di luar negeri sudah cerai juga dari suami,” jelasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini