nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Generasi Milenial Tidak Setuju dengan Pernikahan Anak

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 12:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 17 196 1992251 generasi-milenial-tidak-setuju-dengan-pernikahan-anak-a6RsG1KHBy.jpg Pernikahan anak banyak dampak negatifnya (Foto:Ilustrasi/Dailyhunt)

PERNIKAHAN anak merupakan masalah yang tengah menjadi sorotan di Tanah Air. Bagaimana tidak, menurut data, Indonesia berada di posisi kedua di ASEAN dan ketujuh di dunia menyangkut jumlah pernikahan usia anak terbanyak. Tentu ini bukanlah fakta yang membanggakan.

"Jumlah anak di Indonesia mencapai 87 juta jiwa. Sebanyak 26,7% di antaranya telah menikah," ungkap Plt. Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Sri Danti Anwar saat ditemui Okezone dalam sebuah acara di Jakarta beberapa waktu lalu.

Melihat hal itu, KPPPA tidak tinggal diam. Sejumlah usaha telah dilakukan guna menurunkan angka dan mencegah pernikahan anak. Salah satunya adalah mengadakan diskusi publik melalui sebuah forum.

"Kami mengundang generasi muda, generasi milenial untuk sharing mengenai pandangan mengenai pernikahan dan pernikahan usia anak. Jadi sebetulnya anak-anak muda sekarang tidak setuju dengan perkawinan usia anak. Ini tentu lewat forum anak dapat diperkuat lagi bahwa perkawinan anak banyak dampak negatifnya," jelas Sri Danti.

 Hadiri Ulang Tahun Anak Krisdayanti, Kahiyang Ayu Berbusana Army Cantik Banget

Ia mengatakan bila komitmen untuk menjadikan anak sebagai pelapor dan pelopor tidak hanya untuk sekadar kasus kekerasan. Harapannya anak turut serta menjadi pelopor pencegahan perkawinan usia anak dan melaporkan apabila di sekitarnya terjadi pernikahan usia anak.

"Ada program educamp yang mendorong anak-anak di Kalimantan Barat untuk bisa berdaya dan menampilkan prestasi kepada orangtua sehingga orangtua percaya anak punya potensi jadi tidak cepat-cepat dikawinkan. Generasi remaja sekarang ini perlu diangkat ke permukaan prestasi mereka dan jejaringnya. Dengan begitu tidak hanya tugas orangtua untuk mencegah pernikahan usia anak tetapi anak juga perlu berperan sebagai subjek," tutur Sri Danti.

Langkah lain yang tak kalah penting dalam pencegahan perkawinan usia anak adalah peran tokoh masyarakat dan pemuka agama. Mereka bisa dikatakan orang pertama di dengar oleh masyarakat. Untuk itu, Sri Danti mengharapkan kapasitas dan komitmen dari setiap kepala daerah untuk mengidentifikasi tokoh masyarakat dan pemuka agama yang bsia diajak bekerja sama untuk mencegah pernikahan usia anak.

 Momen Pembagian Rapor di Sekolah, Begini Curhatan Anak SD yang Bikin Prihatin Plus Ngakak!

"Membuka perspektif tentang dampak negatif perkawinan usia anak memang tugas KPPPA. Tapi yang paling penting kepala daerah bisa mengidentifikasi tokoh masyarakat dan pemuka agama yang memiliki perspektif gender sehingga bisa memberikan pengertian tentang dampak negatif perkawinan anak kepada masyarakat. Dari situ bisa muncul inovasi untuk mencegah perkawinan anak," pungkas Sri Danti.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini