nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gadget Ternyata Bisa Menjadi Faktor Penyebab Perceraian Dini, Kenapa?

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 14:12 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 17 196 1992348 gadget-ternyata-bisa-menjadi-faktor-penyebab-perceraian-dini-kenapa-Z8QoIubqnD.jpg Gadget bisa menjadi faktor pemicu perceraian (Foto: Huffingtonpost)

Angka pernikahan usia anak dan usia dini di Indonesia masih cukup tinggi. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal ini. Mulai dari budaya masyarakat, hamil di luar nikah, hingga keinginan dari pasangan sendiri. Sayangnya, pernikahan tersebut menyebabkan angka perceraian juga tinggi padahal usia rumah tangga masih terbilang seumur jagung.

Berdasarkan data dari Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung, tingkat perceraian keluarga Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Sebagai contoh, di tahun 2017 terjadi 18,8% perceraian dari 1,9 juta pernikahan. Data ini menunjukkan sedikitnya 357 ribu pasang keluarga bercerai di tahun tersebut. Meskipun memang pasangan yang bercerai tidak menikah di tahun itu.

Fakta menunjukkan bila perceraian banyak terjadi pada pernikahan di bawah usia 5 tahun. Selain itu, kebanyakan kasus perceraian yang mengajukan gugatan adalah pihak istri alias perempuan di dalam rumah tangga. Mengenai fakta tersebut, Komisioner Komnas Perempuan Nina Nurmila, PhD angkat bicara.

“Betul, hampir di semua daerah (cerai) diajukan perempuan. Banyak faktor yang menyebabkan, ada yang karena suami tidak bisa menafkahi, ada yang karena pertengkaran. Termasuk juga karena pernikahan dini yang merupakan kontribusi perceraian,” ujarnya kepada Okezone saat dihubungi melalui sambungan telepon belum lama ini.

Pernikahan dini atau yang dilakukan sebelum usia 21 tahun memang rentan perceraian. Sebab di usia itu mental pasangan belum begitu matang dan tidak siap untuk menikah. Dijelaskan oleh Nina sejak dulu pernikahan di usia anak memang sangat rentan terhadap perceraian. “Lebih dari 50% berakhir perceraian,” tambahnya.

perceraian

Berbicara mengenai faktor ekonomi, sekarang ini sudah banyak istri yang bekerja sehingga mampu memiliki penghasilan sendiri. Di saat dalam pernikahan ternyata suaminya tidak memberikan nafkah, maka istri bisa terpikirkan untuk bercerai. Hal ini, kata Nina, karena adanya rasionalitas.

“Kalau dulu perempuan bergantung banget sama suami jadi untuk minta cerai akan berpikir dua kali karena takut tidak memiliki penghasilan. Tapi kalau sekarang perempuan lebih mandiri, apalagi banyak yang berpendidikan tinggi sehingga memiliki pekerjaan yang cukup menghidupinya. Ketika suami hanya jadi beban karena tidak berkontribusi masalah nafkah, perempuan jadi berpikir rasional karena dia maunya pernikahan bahagia. Tapi kalau suami hanya mau dilayani tapi enggak mau ngasih (nafkah) sementara perempuan berjibaku kerja dan mengasuh anak, untuk apa, pernikahannya tidak bahagia,” tutur Nina panjang lebar.

Dirinya juga mengatakan dalam penelitian yang sedang dilakukan salah seorang narasumber mengaku bercerai karena faktor teknologi. “Ada narasumber saya yang bilang zaman sekarang pasangan saling pegang handphone, jadi pas pacaran atau bertemu asik dengan dunianya. Dengan begitu mereka tidak tahu karakter sebenarnya dari pasangan. Jadi ketika menikah kaget mengetahui karakter masing-masing yang mengakibatkan perceraian,” pungkas Nina.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini