nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Psikolog Ungkap Penyebab Meningkatnya Perceraian Dini di Indonesia

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 15:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 17 196 1992354 psikolog-ungkap-penyebab-meningkatnya-perceraian-dini-di-indonesia-bc8llrdiei.jpg Ilustrasi

ANGKA perceraian di Indonesia sangatlah tinggi. Banyak para generasi muda yang memiliki usia pernikahan hanya seumur jagung. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, di mana ribuan rumah tangga di usia muda harus kandas karena belum adanya kematangan mental.

Masalah ini harus bisa dipecahkan sesegera mungkin, supaya tidak semakin banyak generasi muda terjerumus dalam jurang perceraian. Pernikahan terlihat bagaikan sebuah mainan, dimana seseorang bisa melakukan perceraian dengan mudah.

Melihat tingginya tingkat perceraian di Indonesia, Kassandra Putranto yang merupakan seorang psikolog menegaskan pernikahan dini menjadi penyebab utama perceraian. Saking maraknya pernikahan dini, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil perceraian tertinggi.

 (Baca Juga:Selebgram Ini Berpose di Antara Ribuan Sampah di Pantai Bali, Fotonya Menyedihkan!)

“Pada dasarnya Indonesia adalah salah satu negara penghasil perceraian tertinggi. Termasuk di dalamnya adalah perceraian dini, yang sebagian besar disebabkan karena pernikahan dini,” tutur Kassandra, saat dihubungi Okezone baru-baru ini.

 

Tentunya pernikahan dini memiliki berbagai macam dampak negatif dalam suatu hubungan. Salah satunya adalah ketidaksiapan mental seseorang. Tentunya di usia yang masih belia, seorang anak masih ingin hidup bebas dan belum memiliki kematangan emosional.

“Kondisi ini disebabkan karena ketidaksiapan mental pasangan. Dalam usia fisik dan mental yang masih muda, mereka belum memiliki kematangan emosional. Akhirnya mereka menjadi tidak siap dengan berbagai konsekuensi dari pernikahan dini,” sambungnya.

 (Baca Juga:Dinikahi Opick, Begini Outfit Andalan Bebi Silvana, Cantik Banget!)

Selain ketidaksiapan mental, faktor ekonomi dan pekerjaan juga turut mengambil andil dalam kasus perceraian dini. Tentunya remaja usia muda sebagian besar belum memiliki pekerjaan dan belum memiliki penghasilan sendiri.

Dalam konteks ini, faktor ketimpangan pendapatan antara suami dan istri. Tak sedikit pria yang berpenghasilan lebih rendah daripada istrinya sering mengalami perseteruan dalam rumah tangga karena masalah penghasilan.

Sementara masalah ekonomi keluarga yang pada dasarnya kurang mampu juga menjadi penyebab utamanya perceraian. Keluarga tersebut akan terus menerus bertikai karena kebutuhan ekonomi yang tidak mencukupi kehidupannya sehari-hari.

“Semua kembali kepada profil kepribadian. Ketika kepribadian tidak matang berapapun nilai ekonomi yang diperoleh bisa menjadi tidak cukup,” tutupnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini