Pesta Seks di Jogja Menyita Perhatian, Psikolog: Pelaku Mungkin Alami Gangguan Mental!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 18 Desember 2018 09:36 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 18 196 1992715 pesta-seks-di-jogja-menyita-perhatian-psikolog-pelaku-mungkin-alami-gangguan-mental-AHDGg3PFyG.jpg Ilustrasi pasangan bercinta (Foto: Pixabay)

SEMINGGU yang lalu, Ditreskrimum Polda DI Yogyakarta berhasil mengungkap praktik pesta seks di homestay di Jalan Nusa Indah Condong Catur, Depok, Sleman. Dalam penangkapan itu, polisi mengamankan 12 orang.

Hal yang menjadi perhatian di sini ialah dari 12 pelaku, diketahui ada delapan pasang suami istri. Mengejutkan bukan? Bisa dijelaskan sedikit, aksi pesta seks ini berlangsung terkonsep. Jadi, ada satu pasang suami istri bersetubuh di kamar homestay. Nah, 10 orang lainnya menyaksikan pasangan tersebut bersetubuh.

Baca juga: Mengapa K9 Tak Gunakan Anjing Pitbull Sebagai Pelacak? Ini Alasannya!

Fakta mencengangkan lainnya adalah aksi ini dikenai tarif! Ya, para penonton diharuskan membayar Rp 1 juta untuk bisa megikuti pesta seks.

Melihat kasus ini, Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., menilai bahwa para pelaku mungkin mengalami gangguan mental dan perilaku menyimpang. Hal ini bukan tanpa alasan.

"Perilaku yang mereka lakukan berbeda dengan umumnya yang dilakukan sebagian orang normal. Namun, pernyataan tersebut juga belum tentu benar, harus dilakukan penyelidikan lebih lanjut," tegas Psikolog Mei pada Okezone melalui pesan WhatsApp, Senin malam (18/12/2018).

Lebih jelas, Psikolog Mei menuturkan bahwa masyarakat sekarang makin banyak yang melakukan penyimpangan perilaku. Banyak faktornya, namun harus diakui makin banyak masyarakat yang mengalami gangguan mental. Kasus ini salah satunya.

Baca juga: Viral Pria Muntilan Nikahi Bule Cantik Asal Rusia, Langsung Banjir Ucapan Selamat!

"Melihat pasangan lain bercinta sama dengan menonton video porno. Bedanya, kalau menonton ada medianya dan nggak terlihat nyata, sementara yang dilakukan para pelaku pesta seks di Yogya ini jelas tampak nyata dan tentu efeknya jauh lebih besar," paparnya.

Menurut Psikolog Mei, mereka yang melakukan dan menonton sama-sama punya gangguan mental. Sebab, normalnya hal tersebut tidak dilakukan. Ya, sekali lagi, tentunya perlu dilakukan pembuktian lanjutan untuk memastikan apakah betul ada gangguan mental atau tidak.

"Saya hanya melihat dari perliakunya, karena tidak melakukan pemeriksaan ke yang bersangkutan<' sambungnya. Lebih jauh, Psikolog Mei menjelaskan bahwa World Health Organization (WHO) secara resmi menetapkan perilaku seks kompulsif atau kecanduan seks sebagai penyakit mental.

Dijelaskan bahwa orang yang disebut kecanduan seks apabila dia menunjukan ketidakmampuan dalam mengendalikan dorongan seksualnya, sehingga mengabaikan kesehatan dan tanggung jawab pribadi.

Namun, yang lebih parah adalah cara yang dilakukan pun sudah abnormal. Ya, apa yang dilakukan pelaku pesta seks ini tidak seperti orang normal.

"Sekarang harus dicek, mereka yang melakukan kesenangan apa yang diperoleh dengan mempertontonkan kegiatan seksnya ke orang-orang? Apakah hanya karena uang semata atau ada indikasi lain. Kemudian, yang menonton, kepuasa apa yang mereka dapatkan dengan melihat adegan seks orang lain secara langsung? Mengapa mereka tidak melakukannya dengan pasangannya saja? Mengapa perlu melihat dulu atau mengimajinasikan dulu baru bisa melakukan kegiatan seks dengan pasangan?" jelas Psikolog Mei.

Dia pun menegaskan bahwa penjelasan tersebut harus dicek juga. Sebab, jangan-jangan mereka mengalami gangguan mental plus penyimpangan perilaku.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini