nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pisang, Nanas dan Bambu Tren Fashion 2019?

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 20 Desember 2018 12:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 20 194 1993803 serat-alami-akan-jadi-masa-depan-industri-fashion-tanah-air-KotAZLL6Zj.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SAMA dengan industri pada umumnya, industri di bidang fashion juga terus mengalami perkembangan. Belakangan ini tengah populer sejumlah brand menghasilkan produk vegetarian. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah memanfaatkan serat alami dari tumbuhan.

Serat sendiri terbagi menjadi tiga jenis yaitu selulosa, mineral (minyak bumi), energi. Serat alami yang berasal dari tumbuhan masuk dalam jenis selulosa. Lantas, bagaimana dengan pemanfaatan serat alami di Tanah Air?

“Di Indonesia serat alami dimanfaatkan terutama untuk home décor, wallpaper, karpet, atau hospitality produk. Sekarang sudah dimulai untuk komponen otomotif, material bahan bangunan, mulai muncul fashion,” ungkap Euis Saedah selaku Ketua Umum Dewan Serat Indonesia saat ditemui Okezone.

Ada beberapa tumbuhan yang seratnya bisa dimanfaatkan di industri fashion. Mulai dari rami, kenaf, abaka (pisang), nanas, bambu, dan eceng gondok.

Baca Juga: Seksinya Penampilan Polly Alexandria, Bule Inggris yang Dinikahi Pria Muntilan

Masing-masing serat memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlu diperhatikan dalam pembuatan produk. Tapi yang pasti banyak manfaat dari penggunaan serat alami untuk produk fashion. Salah satunya adalah ramah dengan tubuh sehingga mencegah alergi dan aroma yang tidak sedap.

“Serat alami lebih ramah ke tubuh bila tidak pakai zat kimia. Bahan yang terlalu jauh dari lingkungan bisa membuat tubuh menjadi alergi, bau. Tapi kalau yang dekat dengan sekeliling kita, alam, itu bisa sangat ramah dengan tubuh yang selalu berkeringat,” ujar Euis.

Menurutnya, ke depan industri ini masih akan cerah, lantaran penggiat serat alami sudah cukup banyak, meskipun hanya berdiri sendiri-sendiri. Nah, dengan adanya Dewan Serat Indonesia maka akan menyambung silaturahmi para penggiat agar bisa bekerja sama.

"Kalau kerja bareng ‘kan ada masalah bisa diselesaikan bareng-bareng, bisa menjadi mediasi ke pemerintah maupun menginformasikan ke dunia usaha atau akademisi,” jelas Euis.

Dengan munculnya kampanye menghasilkan produk vegetarian, dirinya mengatakan bila sangat mungkin serat alami semakin diminati dan menjanjikan.

Baca Juga: Viral Jawaban Bocah Mengenai Hari Kiamat, Netizen: "Ini yang Jawab Masuk Neraka lewat Jalur Prestasi"

“Saya pikir harus begitu karena kita yang harus menjaga sandang, pangan, dan papan. Pangan kita jaga makanan yang berkualitas dari tanaman di lingkungan sekitar, syukur-syukur itu organik tidak terlalu banyak tercemar bahan kimia," katanya.

"Pakaian juga begitu, syukur-syukur bahannya dari lingkungan kita, dekat dengan kita, sehingga paham tentang diri kita sendiri,” papar Euis.

Menurutnya, untuk membuat produk fashion dari serat alami memang dibutuhkan ketelatenan. Namun ketika produk berhasil diciptakan, dapat memberikan rasa bangga.

Hal ini, lantaran produk berasal dari alam sehingga dalam proses pengerjaannya tidak membutuhkan energi yang besar karena tidak bergantung dengan teknologi tinggi. Akan tetapi, dalam pemanfaatannya terkadang tidak bisa digunakan serat alami secara keseluruhan.

Sementara untuk kebutuhan struktur kain tertentu, serat alami bisa dicampur dengan bahan lain. Di sisi lain, pemanfaatan serat alami dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Kita bisa menghidupi saudara di pelosok yang menanam, namun saat ini pasarnya masih sedikit karena masih sedikit yang tahu tentang serat. Ini juga yang melatarbelakangi harga produk dari serat alami lebih mahal,” pungkas Euis.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini