nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemenpar Siap Luncurkan Calendar of Events Khusus Milenial di 2019

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 21 Desember 2018 20:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 21 406 1994497 kemenpar-siap-luncurkan-calendar-of-events-khusus-milenial-di-2019-1DaNggbI8l.JPG Wisata Pantai Uluwati di Bali (Foto: Utami Evi Riyani/Okezone)

WISATAWAN milenial kian mendominasi industri pariwisata dalam negeri maupun internasional. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa traveling kini sudah menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Tak terkecuali bagi para generasi milenial.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Topdeck Travel kepada 31.000 orang dari 134 negara berbeda, 88 persen di antaranya menyatakan telah melakukan perjalanan ke luar negeri rata-rata tiga kali dalam setahun. Uniknya, 94 persen responden dari survei tersebut berada di usia yang terbilang muda yakni, 18-20 tahun.

Dominasi generasi milenial di sektor pariwisata juga sempat dijelaskan secara gamblang oleh Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Rizki Handayani.

“Tren pariwisata saat ini menunjukkan generasi milenial sangat berpengaruh bagi industri pariwisata dunia. Milenial travelers terus tumbuh dalam jumlah besar dan mengubah pola perjalanan,” tutur Rizki Handayani, beberapa waktu lalu.

 (Baca Juga:Rayakan Tahun Baru, Kembang Api Terbesar di Jakarta Sudah Disiapkan)

Bahkan, dalam 10 tahun ke depan, milenial diprediksi akan membentuk 75% tenaga kerja global. Maraknya penyedia jasa perjalanan online di dunia maya, semakin membuktikan bahwa generasi milenial memiliki andil dalam memajukan industri pariwisata.

 

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan bahwa Kemenpar telah merancang program milenial tourism yang rencananya akan segera diluncurkan pada 2019 mendatang.

“Milenial tourism itu ciri-cirinya anak muda dengan kebutuhan khusus yang saya sebut esteem needs. Esteem needs adalah kebutuhan untuk diakui. Kalau diilustrasikan, milenial itu senang mengunjungi destinasi baru yang belum dikunjungi banyak orang, agar mereka diakui orang lain. Mereka juga senang selfie,” tutur Menpar Arief Yahya, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Kamis 20 Desember 2018.

Tidak hanya itu, generasi milenial juga digadang-gadang memiliki perilaku yang cenderung berbeda dengan generas-generasi sebelumnya. Jika ditarik contoh, mereka lebih senang mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan pengalaman baru, daripada memiliki suatu benda.

“Mereka itu lebih baik pakai mobil yang sharing, daripada beli mobil sendiri. Jadi untuk mengembangkan milenial tourism, kuncinya esteem needs karena mereka sangat digital. Bahasa kekiniannya, digital savvy,”tegas pria asal Banyuwangi itu.

Pertanyaannya sekarang, apakah Pemerintah Indonesia sudah melayani mereka dengan baik?

 (Baca Juga:Bingung Libur Natal Mau Ngapain? Coba Saja Berenang dengan Tema Salju)

“Jawabannya belum. Saya sudah tanya Ibu Esthy dai 100 Calendar of Event Pariwisata, apakah sudah ada event yang didesain khusus untuk milenial? Kalau mau jujur tidak ada. Meskipun banyak milenial yang juga menyukai event-event tersebut,” ungkap Arief Yahya.

 

Sebagai langkah awal, Arief Yahya mengatakan bahwa ia akan membentuk tim khusus yang nantinya akan difokuskan untuk menangani milenial tourism. Konsep ini sebetulnya sudah sempat diusung di sepanjang tahun2018. Implementasinya mencakup pembangunan destinasi berbasis digital dan nomadic tourism. Namun sayangnya belum berjalan secara sistematik.

Namun hal tersebut dinilai masih belum cukup untuk menarik perhatian para wisatawan milenial. Oleh karena itu, Kemenpar berencana mengeluarkan program-program baru yang sifatnya colorful karena disesuaikan dengan jiwa kaum milenial.

“Tim ini nantinya akan merumuskan tiga hal, membuat calendar of event khusus milenial, kedua membuat paket-paket wisata khusus milenial, ketiga promosi khusus untuk milenial. Selama ini tidak ada promosi yang didesain khusus untuk milenial. Bahkan video pariwisata kita yang juara 1 di dunia itu masih dinilai kurang milenial,” papar Arief Yahya.

“Saya hanya kasih waktu tim ini 1 triwulan, karena triwulan berikutnya harus punya calendar of event untuk milenial. Kedua, mereka harus punya paket-paket yang menarik, contohnya membuat paket Djakarta Warehouse Project di Bali kemarin, karena event-event seperti inilah yang disukai milenial,” tukasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini