nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

16,7 Juta Orang Indonesia Diprediksi Kena Diabetes di 2045, Jadi Kondisi Darurat?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 21 Desember 2018 14:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 21 481 1994376 16-7-juta-orang-indonesia-diprediksi-kena-diabetes-di-2045-jadi-kondisi-darurat-anL4niUgYL.jpg Prevalensi diabetes di Indonesia terus meningkat (Foto: India)

Saat ini, jumlah penderita diabetes di Indonesia telah menunjukkana ngka yang cukup mengkhawatirkan. IDF Diabetes Atlas edisi ke-8 (2017) mengungkapkan bahwa jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 10.3 juta dan karenanya Indonesia menduduk peringkat ke-6 dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia.

Angka total penderita diabetes diprediksi akan terus mengalami peningkatan dan mencapai 16,7 juta pada tahun 2045. Jika ditilik lebih jauh, lebih dari 90% kasus diabetes di seluruh dunia merupakan diabetes tipe-2 yang disebabkan oleh gaya hidup yang kurang sehat.

Diabetes tipe-2 umumnya dapat ditangani dengan mengurangi berat badan dan mengadopsi gaya hidup sehat. Selain diabetes tipe2, jumlah prevalensi diabetes mellitus di Indonesia juga terus mengalami peningkatan.

Riskesdas 2018 menyatakan bahwa sejak tahun 2013, prevalensi diabetes mellitus naik sebesar 1,6% dari 6,9% menjadi 8,5%. Untuk mengendalikan angka penderita diabetes, pemerintah Indonesia telah menghimbau masyarakat untuk melakukan aksi CERDIK dan teratur menjalani pengobatan.

Menurut penuturan dr. Fatimah Eliana, SpPD, KEMD, PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), diabetes tipe-2 secara perlahan telah menjadi keadaan darurat kesehatan masyarakat Indonesia.

“Indonesia menempati peringkat pertama nilai HbA1C tertinggi dari 38 negara yang berpartisipasi dalam Studi Discover, dengan angka HbA1C sebesar 9,2%. Tantangan yang kita hadapi saat ini adalah terkait dengan diagnosis,” tutur dr. Fatimah Eliana, dalam konferensi pers Program Early Action in Diabetes (EAiD), di JS Luwangsa Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2018).

cek gula darah

Lebih lanjut Eliana mengatakan, ketika penyakit ini tidak terkontrol dengan baik, maka akan menyebabkan komplikasi, termasuk diantaranya risiko penyakit kardiovaskular, kebuataan, gagal ginjal, dan amputasi yang jauh lebih tinggi. Untuk mengatasi masalah diabetes di Indonesia, suatu studi formatif perlu dilakukan guna menyediakan perancangan intervensi inovatif pengobatan pasien diabetes.

Saat ini Kementerian Kesehahatan RI, BPJS, PERKENI, PERSADIA, dan PT AstraZeneca telah menginiasi studi formatif yang berjudul: “Scoping Diabetes in Indonesia: A Baseline Study for Designing Innovative Intervention for managing Patient with T2DM”.

Prof. Budi Hidayat, SKM, MPPM, PhD, Ketua Center of Health Economics and Policy Sciences (CHEPS) Universitas Indonesia mengatakan, studi ini akan digunakan sebagai landasan awal untuk program EAiD yang menggambarkan informasi terkini mengenai penangan diabetes di Indonesia dengan melibatkan perspektif pasien dan tenaga kesehatan.

“Studi landasan ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris bagi pembuat kebijakan dalam merancang kebijakan untuk melayani dan mengobati pasien diabetes di Indonesia,” tegas Prof Budi Hidayat.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Rizkiyana Suhandi Putra, selaku Direktorat Promosi Kesehatan Kemenkas menegaskan bahwa saat ini, pihaknya telah meluncurkan sejumlah program khusus guna mengurangi prevalensi diabetes di Indonesia. Program tersebut mengusung konsep preventif dan promotif.

“Skrining dini itu penting sekali, bahkan sejak bayi lahir kita harus melihat DNA-nya. Diabetes itu juga memiliki sifat-sifat turunan dari atas dan bawah (keluarga). Jadi arah yang kita tuju sekarang lebih ke preventif dan promotif. Saat ini pemerintah juga sedang gencar mensosialisasikan kepada masyarakat Indonesia untuk mengubah perilaku atau gaya hidup mereka. Karena itu adalah modal yang utama. Kita harus creating social network, dan lingkungan harus diubah,” tukasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini