nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sudah 26 Hari Balita Gilang Tertidur, Kenali Penyebab Penyakitnya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 21 Desember 2018 15:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 21 481 1994397 sudah-26-hari-balita-gilang-tertidur-kenali-penyebab-penyakitnya-PJMmszE1V4.jpg Balita Gilang yang sudah tidur 26 hari (Foto:MNCNews)

TIDUR merupakan salah satu aktivitas yang kerap dilakukan manusia setiap harinya. Tidur merupakan cara seseorang untuk beristirahat untuk mengembalikan stamina tubuhnya setelah seharian bekerja. Namun, pernahkah Anda berpikir seseorang tertidur dan tidak bangun-bangun lagi hingga beberapa minggu?

Sekilas ini adalah hal yang sedikit aneh, namun pada kenyataannya hal ini memang benar-benar ada. Adalah Gilang Tama Alfarizi, seorang balita adal Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Gilang terakhir kali tidur pada Minggu 26 November 2018 dan tak kunjung bangun hingga saat ini.

 Telan Peluit, 2 Bulan Bunyi Napas Asep seperti Terompet

Awalnya tidak ada tanda-tanda aneh pada bocah berusia empat tahun tersebut. Gilang bahkan masih bermain dengan normal bersama teman-temannya sebelum tidur. Singkat cerita bocah malang itu pun tertidur dan ketika keesokan paginya dibangunkan, Gilang sempat menjawab panggilan orang tuanya.

Gilang yang menjawab masih ngantuk pun akhirnya kembali tertidur dan sejak itu ia tidak bangun lagi hingga saat ini. Meski tangannya masih bergerak namun mata dari anak pasangan Sandi Syahputra dan Prili Mahdania tetap terpejam.

Karena kondisinya mengkhwatirkan, sang orangtua lantas membawa Gilang menuju RSUD Deli Serdang. namun, betapa mengejutkannya ketika pihak rumah sakit menyatakan bahwa anak tersebut dalam kondisi sehat.

Setelah dipindahkan ke RSUP Haji Adam Malik Medan, seorang dokter bernama Rosario Dorothy, mengindikasikan bahwa Gilang terkena virus yang membuatnya tertidur lama. Meski belum diketahui secara pasti, dokter mendiagnosa radang selaput otak menjadi penyebab Gilang tak kunjung bangun dari tidurnya.

Tentu Anda penasaran bukan apa itu radang selaput otak serta bagaimana cara menyembuhkannya? Melansir dari About Kids Health, Jumat (21/12/2018), Okezone akan mencoba mengulasnya.

Otak merupakan salah satu bagian tubuh yang cukup rentang terserang penyakit, sekiranya ada tiga macam infeksi yang bisa menyerang organ vital manusia tersebut. beberapa diantaranya adalah:

1.Meningitis: Peradangan pada lapisan di sekitar otak atau sumsum tulang belakang, biasanya karena infeksi; Kekakuan leher, sakit kepala, demam, dan kebingungan adalah gejala umum.

2.Ensefalitis: Peradangan pada jaringan otak, biasanya karena infeksi virus; meningitis dan ensefalitis sering terjadi bersamaan, yang disebut meningoencephalitis.

3.Abses otak: Infeksi di otak, biasanya disebabkan oleh bakteri; antibiotik dan drainase bedah diperlukan untuk mengobatinya.

Penyakit ini bisa terjadi ketika otak atau sumsum tulang belakang meradang. Peradangan pada otak ini akan menyebabkan iritasi dan pembengkakan jaringan otak atau pembuluh darah. Peradangan otak dapat terjadi karena berbagai alasan.

Misalnya, kerusakan sistem kekebalan tubuh mengarah ke peradangan dan berlanjut tanpa resolusi jika tidak diobati. Ini dapat menyebabkan kerusakan otak dalam jangka panjang. Meski demikian, penyakit mengerikan ini masih bisa disembuhkan dengan melakukan beberapa terapi sesuai dengan prosedur medis tertentu. Beberapa diantaranya adalah:

 

Perawatan akan bervariasi tergantung gejala anak Anda dan penyebab radang otak. Berikut ini adalah berbagai jenis terapi yang dapat diresepkan oleh anak Anda:

1.Kontrol inflamasi: Terapi yang mengontrol peradangan biasanya berfungsi untuk mencegah perusakan organ yang disebabkan oleh peradangan. Contohnya termasuk imunosupresan seperti Prednisone, IVIG, dan plasmapheresis.

2.Kontrol gejala: Beberapa obat diresepkan untuk mengontrol gejala penyakit. Obat-obatan ini termasuk agen anti-kejang seperti Keppra atau agen anti-pembekuan seperti asam asetilsalisilat (ASA).

3.Pengontrolan efek samping: Banyak perawatan yang mencoba mengendalikan sistem kekebalan juga menimbulkan beberapa efek samping yang tidak menguntungkan. Akibatnya, obat-obatan juga dapat diresepkan untuk meningkatkan kesehatan tulang seperti Vitamin D dan kalsium, atau untuk mencegah infeksi dengan menggunakan antibiotik.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini