nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Budaya Minang, Potret Kebesaran Seorang Ibu di Keluarga

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 22 Desember 2018 13:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 22 196 1994740 budaya-minang-potret-kebesaran-seorang-ibu-di-keluarga-ASjtkcsaVT.jpg Ibu. (Foto: BBC)

BUDAYA suatu daerah adalah warisan nenek moyang yang harus dijaga. Hilangnya budaya mungkin bisa diartikan sebagai hilangnya identitas daerah tersebut.

Salah satunya adalah Tanah Minang, yang menyimpan banyak budaya. Tidak hanya kisah Malin Kundang, Tanah Minang juga punya kisah lain yang wajib Anda ketahui.

Dijelaskan Wali Kota Bukittinggi M. Ramlan Nurmatias, tanah Minang juga menyimpan kisah menarik terkait dengan perempuan. Ini juga menjadi bukti bahwa nenek moyang Minang sudah sangat menjunjung tinggi perempuan.

Baca Juga: Seksinya Penampilan Polly Alexandria, Bule Inggris yang Dinikahi Pria Muntilan

(Foto: obycrownz.wordpress)

Salah satu budaya yang masih dilakukan sampai sekarang adalah ketika salat Jumat. Percaya atau tidak, ternyata orang Minang akan salat Jumat di kampung tempat dia dilahirkan. Setelah salat, si pria Minang tidak kemudian pulang ke rumah istrinya, melainkan ke rumah ibu kandungnya.

"Hal ini sudah dilakukan sejak nenek moyang. Ini sebagai tanda pria Minang masih menghormati tanah kelahirannya dan tentu bundo kanduangnya," papar Ramlan pada Okezone.

Nah, saat mengunjungi rumah ibu kandung, biasanya si pria Minang ini akan ditanya-tanya terkait dengan bagaimana kehidupannya. Bagaimana sekolah si anak atau juga membahas keponakan yang ternyata menjadi tanggungjawab pria Minang sampai dia meninggal.

Baca Juga:  Potret Akrabnya Single Mom Seksi Garneta Haruni dan Putri Imutnya

Tidak hanya itu, Ramlan juga menjelaskan bahwa di Minang harta warisan itu hanya bisa jatuh ke tangan perempuan, pria Minang tidak berhak atas harta kuasa tersebut.

Dia berpendapat bahwa nenek moyang orang Minang dulu sudah memikirkan bagaimana kehidupan perempuan ketika suaminya misalnya meninggal, ditinggal suami, atau suaminya menikah lagi.

"Jadi, harta warisan hanya diberikan kepada perempuan, sedangkan pria Minang tetap bertanggungjawab untuk membesarkan keluarga dan keponakannya," tambah Ramlan.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini