nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Lati, Rela Tinggalkan Pekerjaan Demi Anaknya yang Autis Dapat Gelar Sarjana

Adinda Harum, Jurnalis · Minggu 23 Desember 2018 21:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 23 196 1995201 kisah-lati-rela-tinggalkan-pekerjaan-demi-anaknya-yang-autis-dapat-gelar-sarjana-NnXp8cWuV0.jpg Ilustrasi (Foto: Familyshare)

SEPERTI lagu, 'kasih ibu tak terhingga sepanjang masa'. Setiap pengorbanan seorang ibu kepada anaknya tidaklah mudah, bayangkan saja mulai dari mengandung selama sembilan bulan hingga mendidik anak-anaknya menjadi orang yang sukses.

Semua ibu bahkan rela mempertaruhkan apa saja untuk anaknya, seperti ibu asal Jember bernama Lati. Ia rela meninggalkan perkerjaan demi merawat seorang anak laki-lakinya hingga mendapat gelar sarjana. Ibu Lati memiliki putra tunggal bernama Fadhel Ahmad Hizham yang menempuh pendidikan di Universitas Jember dengan mengambil studi ahli komputer, dalam menempuh pendidikannya Ahmad tiba-tiba didiagnosa sebagai penyandang autis. Sontak hal ini membuat ibu Lati shock dan harus meninggalkan perkerjaannya.

“Begitu Fadhel divonis oleh dokter sebagai penyandang autis, saya sempat shock. Kemudian saya langsung putuskan untuk berhenti dari pekerjaan saya sebagai guru. Saya bertekad akan all out mendampingi Fadhel agar mampu berkembang seperti anak lainnya,” tutur Lati menceritakan pada Okezone baru-baru ini.

 (Baca Juga:Tina Talisa Bagikan Tips Atur Waktu untuk Karier dan Keluarga)

(Ilustrasi)

Tentu memiliki anak berkebutuhan khusus memang bukanlah hal yang mudah tapi ini malah membuat keluarga besar pasangan Prayudi dan Lati bersatu untuk memberi perhatian penuh. Selain Lati bahkan sang nenek Fadhel pun ikut memutuskan untuk berhenti berkerja.

“Bahkan ibu saya yang kebetulan seorang guru juga ikutan memutuskan berhenti bekerja karena ingin turut membantu mengasuh Fadhel. Kuatnya dukungan dari keluarga membuat saya dan suami menjadi tegar, selalu optimis saat mendampingi Fadhel menghadapi berbagai tantangan dan hambatan,” ujar Lati lagi.

Tentu saja membesarkan anak berkebutuhan khusus sangat berbeda dengan anak lainnya, misalnya saja Fadhel mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi dengan kawan-kawannya. Kesulitan ini kadang membuat orang lain menganggap Fadhel bersikap seenaknya sendiri, cuek, dan labil secara emosi.

“Orang yang tidak paham akan kaget menghadapi Fadhel, bahkan kadang menimbulkan konflik, jika sudah begini maka mau tidak mau kami yang harus sabar dan telaten dalam menjelaskan kondisi Fadhel, sekaligus memberikan semangat bagi Fadhel,” sambung Prayudi sang ayahanda Fadhel.

 (Baca Juga:Ini Makna dan Harapan Christine Hakim di Hari Ibu)

Latar belakang Lati dan nenek Fadhel yang berprofesi sebagai guru ternyata berperan besar dalam proses belajar mengajar sang putra. Selain aktif mendampingi Fadhel belajar di rumah, Lati dan ibunya sepakat menyekolahkan sang putra di sekolah umum. Alasannya agar Fadhel dapat bersosialisasi dengan kawan-kawan secara alami.

“Alhamdulillah, Fadhel mampu menunjukkan prestasi yang baik, bahkan saat duduk di SMP dan SMA, Fadhel masuk dalam kelas akselerasi hingga mampu menyelesaikan SMP dan SMA-nya masing-masing hanya dalam waktu dua tahun saja,” ujar Lati bangga.

Menurutnya Fadhel memiliki keunggulan di otak kanan, tak heran jika suka sekali dengan matematika. Bahkan selama Fadhel berkuliah ia selalu aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan dan ia juga mendapat IPK sebesar 3,45.

“Saya ingin menjadi seorang dosen,” ungkap fadhel saat ditanya tentang cita-citanya.

Lati membuktikan sebagai seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus bukanlah sebuah aib, apalagi bencana. Dengan curahan kasih sayang, kesungguhan, serta doa mereka berdua bersama keluarga besarnya mampu mengantarkan sang putra ke depan pintu gerbang kesuksesan.

“Pesan saya bagi orangtua yang dianugerahi anak berkebutuhan khusus, harus legowo, kompak dalam mengasuh anak agar mereka bisa mandiri. Selain itu peran lingkungan sekitar sungguh berperan mendukung kesuksesan anak yang berkebutuhan khusus. Untuk itu saya berterima kasih kepada Universitas Jember yang sudah menjadi tempat belajar yang kondusif bagi Fadhel hingga mampu meraih gelar sarjana,” tutup Lati.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini