nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dimanjakan Kuliner Nusantara di Sepanjang Tol Trans-Jawa

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 24 Desember 2018 09:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 24 298 1995266 dimanjakan-kuliner-nusantara-di-sepanjang-tol-trans-jawa-NF1iUizddw.jpg Wisata kuliner sepanjang tol Transjawa (Foto:Koransindo)

Sambutan Daerah

Ketua Asosiasi UMKM Akumandiri Jawa Tengah Madiyo Sriyanto mengatakan, selama pemerintah mengakomodasi pelaku usaha UMKM untuk dapat membuka usaha di rest area sepanjang tol trans-Jawa, itu merupakan terobosan yang bagus. ”Jadi tak hanya peritel nasional dan brand - brand nasional saja yang dikasih tempat.

Dan khusus kuliner ini juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna jalan tol karena banyak makanan khas daerah yang bisa mereka dapatkan,” kata Madiyo kepada KORAN SINDO kemarin.

 

 Jangan Sepelekan Emak-Emak Berdaster, Kalau Sudah Dandan Kelar Hidup Lo!

Menurutnya keterlibatan UMKM di rest area tol tersebut sekaligus bisa menjadi program promosi yang bagus bagi pengelola jalan tol untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Meski begitu dia berharap khusus pelaku UMKM bidang kuliner harus dikelola secara baik dan benar.

Walaupun makanan khas daerah, jika tempat atau lokasi penyajiannya bersih dan higienis, hal itu akan membuat para pengguna jalan tol jadi betah. Hendra Permana, salah seorang pelaku UMKM, merasa yakin keberadaan tol memberi dampak positif terhadap keberlangsungan UMKM di jalur perlintasan tol trans-Jawa.

Meski menyediakan rest area bagi UMKM, dia berharap pemerintah juga memberi kemudahan-kemudahan dalam perizinan serta tarif sewa yang terjangkau. ”Tentu bisa saja slotnya terbatas. Karena itu tentu ada aturan, ada rule-nya, tapi saya belum tahu seperti apa, belum mendapat sosialisasi lebih lanjut,” ungkapnya.

Di Salatiga para pelaku usaha kuliner justru khawatir. Sebab ada kemungkinan saat bepergian, masyarakat dari daerah lain lebih memilih melewati jalan tol Semarang- Solo karena lebih cepat dan nyaman sehingga tidak masuk Kota Salatiga.

Jika itu terjadi, usaha kuliner di Salatiga bisa lesu karena kehilangan pengunjung dari luar daerah yang jumlahnya tidak sedikit. ”Liburan merupakan musim panen bagi pelaku usaha kuliner di Salatiga.

Namun jika masyarakat banyak yang lewat jalan tol, tentunya mereka tidak akan istirahat atau makan di Salatiga,” ujar Narko, 37, pemilik warung makan pecel lele di Blotongan, Sidorejo, Salatiga. Hal senada dikemukan pedagang sate kambing di Blotongan Ahmad, 48.

Konsumen dari luar daerah memang belum banyak. Biasanya menjelang Natal banyak masyarakat dari luar daerah yang melintas dan mampir makan di warung. ”Mungkin banyak yang lewat tol,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Kota Salatiga Arso Adji Sarjiato justru optimistis keberadaan jalan tol akan menunjang perkembangan usaha di Salatiga. Menurut dia, jalan tol memperpendek jarak tempuh sehingga orang akan mudah untuk berkunjung ke Salatiga.

”Kami tidak khawatir. Justru sebaliknya optimistis akan ramai karena jarak tempuh ke Salatiga baik dari Solo maupun Semarang akan lebih cepat. Namun Salatiga harus punya daya tarik dan keunggulan tersendiri sehingga menjadi kota tujuan,” ujarnya.

Di rest area jalan tol Solo-Sragen Km 519, menu yang dijual antara lain soto rawon, pecel, gado-gado, ayam goreng, ayam bakar, bebek, dan warung kopi. Omzet mereka kini rata-rata naik tiga kali lipat setelah ruas tol Jakarta- Surabaya terkoneksi seluruhnya.

”Pertama kali jualan rata-rata omzetnya hanya Rp400.000/hari. Tapi saat ini naik tajam hingga Rp3 juta/hari,” kata Suyanto, pemilik Warung Bebek Bagor kemarin. Hal senada diungkapkan Wuryaningsih, pemilik warung Bu Ning di rest area yang sama.

Penjualannya kini naik tiga kali lipat setelah tol Jakarta-Surabaya terkoneksi. Volume tol kini naik tajam seiring dengan libur Natal dan Tahun Baru. ”Kalau dulu awalnya belum pesat, paling tinggi Rp1 juta/hari.

 

Tapi saat ini sudah di atas Rp2 juta/hari,” ungkap Wuryaningsih. Terkoneksinya jalan tol Jakarta- Surabaya juga disambut antusias pedagang kuliner di Kota Solo. Sebagai salah satu destinasi kuliner di Indonesia, mereka berharap wisatawan yang berburu kuliner di Solo semakin banyak.

”Saat libur Natal dan Tahun Baru yang datang terus meningkat. Rata-rata mereka naik mobil dengan pelat luar kota,” kata Wahyono, Wakil Ketua Paguyuban pedagang Galabo, Gladak, Solo. Pemerintah Kabupaten Gresik pun menyiapkan 100.000 pelaku untuk bersaing.

Ada dua ruas tol bagian megaproyek tol trans-Jawa yang masuk wilayah Gresik. Tol Manyar ke Surabaya dan tol Manyar ke Sidoarjo. Bila tol Manyar-Surabaya sudah beroperasi sejak beberapa tahun lalu, tol lintas Gresik Selatan baru direncanakan beroperasi pada 2019.

”Peluang usaha di dua ruas tol itu cukup terbuka. Khususnya bagi pelaku usaha kuliner, mainan maupun suvenir khas,” ujar Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Gresik Agus Budiono.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini