nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berkenalan dengan M. Firman Nurimansyah, Lulusan Pria Pertama dari Sekolah Fashion IFI

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 25 Desember 2018 09:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 25 194 1995662 berkenalan-dengan-m-firman-nurimansyah-lulusan-pria-pertama-dari-sekolah-fashion-ifi-6zRGYROEiJ.JPG Firman Nurimansyah lulusan pertama sekolah fashion IFI (Foto: Tiara/Okezone)

Berawal dari pekerjaannya di bidang IT, M. Firman Nurimansyah memiliki ketertarikan di dunia fashion Muslim. Dari situ dia mulai menjual busana jadi. Namun seiring berjalannya waktu timbul keinginan untuk menciptakan busana sendiri.

Dari situ Firman memutuskan untuk belajar di sekolah khusus busana Muslim yaitu Islamic Fashion Institut (IFI). Belajar sejak September 2017, dirinya berhasil lulus dengan mengeluarkan koleksi bernama Age Of Steam. Kelulusannya ini juga menandakan dirinya siswa pria pertama yang lulus dari sekolah tersebut.

"Saya dulu bikin platform e-commerce, dari situ saya melihat fashion muslim itu cukup banyak dicari dan cukup trend terutama di dunia digital, selain demandsnya naik. Saya mencoba untuk menjual baju Muslim yang sudah jadi tapi kebanyakan biasa banget, jahitan kurang rapi, jadi saya banyak komplen. Saya tuh pengin dapat struktur yang punya DNA, yang benar-benar punya ciri khas," terang Firman kepada Okezone saat ditemui dalam Graduation Show beberapa hari lalu.

m firman

Keinginan untuk memiliki ciri khas sendiri membuatnya memutuskan untuk belajar. Sebab dia tidak ingin membuat busana Muslim yang tidak sesuai dengan kaidah. Pada momen kelulusannya, Firman mengeluarkan koleksi yang terinspirasi dari mesin uap.

"Dari dulu saya senang cerita-cerita tentang steam punk karena itu 'kan zaman mengkhayal gimana caranya uap dijadikan teknologi yang kekinian. Saya juga senang banget baju-baju steam punk sehingga pengin coba untuk menjadikan karya di sini. Sebab saya lihat kebanyakan busana steam punk itu di Eropa, untuk busana Muslim belum ada," tutur Firman.

Dalam membuat busana, dia terinspirasi dengan desainer John Galliano yang menghadirkan desain avant-garde pada koleksinya sehingga tidak tertebak. Tapi dari situ pula Firman memiliki kesulitan.

"Sebenarnya kesulitannya membuat tetap avant-garde tapi memenuhi kaidah Muslim. Bajunya jadi saya bikin over-sized, benar-benar menutupi aurat wanita. Itu cukup sulit karena look yang saya pakai boyish banget, tapi di situ coba saya ubah agar terlihat feminin," tambahnya.

busana

Pada fashion show, Firman menghadirkan karya busana dekonstruktif yang menceritakan suasana era mesin uap meliputi

industrialisasi, manufaktur, dan semua isunya. Dia mengacu pada trend forcasting Neo Medival dan sub tema armory. Busana yang dihadirkan antara lain jaket unfinished oversize, pemilihan siluet i-line dengan nuansa warna coklat, hijau, dan biru, serta material printing unik motif koran era mesin uap. Untuk bahan dirinya menggunakan material stone washed denim, baby canvas, dan linen.

Dengan kerja kerasnya itu, Firman berhasil meraih predikat Best Presentation. Tentu hal itu membuatnya merasa senang. "Saya enggak menyangka karena karya saya sebenarnya dibuat enggak disengaja untuk menang, yang penting saya senang. Ke depannya saya ingin mengembangkan brand yang sudah saya punya," pungkasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini