nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemkab Minahasa Selatan Legalkan Cap Tikus, Ini Asal-usul Minuman Ciptaan Dewa Itu

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 28 Desember 2018 20:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 28 298 1997289 pemkab-minahasa-selatan-legalkan-cap-tikus-ini-asal-usul-minuman-ciptaan-dewa-itu-PNdMKz5osV.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

PARA pencinta kuliner Nusantara, tentu sudah tidak asing lagi dengan Cap Tikus? Sekilas namanya mungkin terdengar aneh, namun tahukah Anda bahwa minuman ini merupakan salah satu minuman beralkohol yang digemari oleh masyarakat Indonesia, khususnya bagi warga Minahasa.

Nah, baru-baru ini, Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan telah melegalkan Cap Tikus dengan nilai jual Rp80 ribu per botol (320 ml). Keputusan ini sekaligus memenuhi janji mereka untuk menduniakan produk lokal Minahasa.

Berbicara soal Cap Tikus, ternyata ada sejumlah fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat. Salah satunya menyangkut asal-usul minuman tersebut.

 (Baca Juga:Megahnya 5 Kue Pernikahan Selebriti dari Meghan Markle hingga Liam Hemsworth)

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Okezone, Jumat (28/12/2018), kebiasaan menenggak Cap Tikus sejatinya telah dilakukan sejak dua abad silam oleh warga Minahasa dan Sangihe, Sulawesi Utara.

 

Seorang budayawan bernama Jessy Wenas juga sempat menuliskan sebuah artikel tentang asal-usul minuman beralkohol itu. Pada awalnya, Cap Tikus dibuat sendiri oleh petani Seho dari daratan Minahasa dan Sangir. Bahan-bahan yang digunakan pun diambil dari bahan alami tanpa campuran bahan kimia.

Dalam legenda Minahasa, Cap Tikus diyakini merupakan minuman ciptaan para dewa. Adalah Dewa Makawiley sebagai dewa saguer pertama. Kemudian disebutkan pula Kiri Waerong dewa saguer yang dikaitkan dengan pembuatan gula merah dari saguer yang dimasak.

Dewa saguer yang ketiga adalah dewa Parengkuan yang dihubungkan dengan air saguer yang menghasilkan Cap Tikus. Parengkuan sendiri mempunyai kata asal “rengku” yang berarti minum sekali teguk di wadah yang kecil.

Dari arti kata tersebut maka orang Minahasa menyakini bahwa Parengkuan adalah orang Minahasa pertama yang membuat minuman Cap Tikus. Uniknya, minuman keras tradisional Minahasa ini pada mulanya bernama sopi. Namun, sebutan Sopi berubah menjadi Cap Tikus ketika orang Minahasa mengikuti pendidikan militer untuk menghadapi perang Jawa.

 (Baca Juga:Kabar Baik Buat Aries!!! 2019 Membawa Perubahan Besar dalam Hubungan Asmara)

Pada tahun 1829, ditemukan sopi dalam botol-botol biru dengan gambar ekor tikus. Sopi dijual oleh para pedagang China di Benteng Amsterdam Manado.

 

Cap Tikus juga sering disajikan dalam berbagai acara keadatan. Salah satunya pada upacara naik rumah baru. Para penari Maengket menyanyikan lagu Marambak untuk menghormati dewa pembuat rumah, leluhur Tingkulendeng.

Saat acara berlangsung, tuan rumah harus menyodorkan minuman Cap Tikus kepada Tonaas pemimpin upacara adat naik rumah baru, dan para penari akan menyanyikan “tuasan e sopi e maka wale”, artinya tuangkan Cap Tikus wahai tuan rumah.

Minuman keras ini kemudian dikenal luas hingga ke negeri Ternate. Informasi mengenai Cap Tikus di Ternate ditulis oleh juru tulis pengeliling dunia Colombus dari Spanyol bernama Antonio Pigafetta.

Setelah kapal mereka melalui dua buah pulau Sangir dan Talaud pada 15 Desember 1521, mereka tiba di pelabuhan Ternate dan dijamu Raja Ternate dengan minuman arak yang terbuat dari air tuak yang dimasak.

Sayangnya, buku "Perjalanan Keliling Dunia Antonio Pigafetta" yang diterbitkan pada tahun 1972, tidak menjelaskan dari mana Raja Ternate mendapatkan minuman Cap Tikus.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini