nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspada Ragam Penyakit Usai Tsunami

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Sabtu 29 Desember 2018 15:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 29 481 1997518 antisipasi-penyakit-pasca-bencana-tsunami-selat-sunda-cegah-pengungsi-jatuh-sakit-RYUD8QALWW.jpg Antisipasi penyakit pasca bencana Tsunami Selat Sunda (Foto: Fakhri/Okezone)

Saat ini terdapat puluhan ribu pengungsi baik di Propinsi Banten maupun Provinsi Lampung. Pada hari ke-7 di Kab Pandeglang saja lebih dari 33.000 pengungsi.

Menurut Prof. DR. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD(K), dari beberapa dokter dan laporan dari beberapa lokasi bencana, tedapat 3 penyakit utama yang ditemukan di pengungsian yaitu Diare, Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA) dan gangguan kulit berupa keluhan gatal-gatal. Saat ini memang sebagian besar dari tempat pengungsian padat dengan pengungsi terutama pada malam hari.

Lebih lanjut, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut mengatakan, permasalahan lain adalah kondisi Mandi Cuci Kakus (MCK) yang kurang memadai belum lagi kebersihan lokasi pengungsian yang kurang diperhatikan. Oleh karena itu masalah kebersihan dan kesehatan lingkungan bagi para pengungsi harus menjadi perhatian. Para pengungsi, terutama orangtua dan anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap berbagai penyakit. Faktor-faktor yang berperan terjadinya penyakit adalah faktor daya tahan tubuh, faktor kuman dan faktor lingkungan.

Faktor daya tahan tubuh, jelas saat daya tahan tubuh para pengungsi dapat menurun mengingat kondisi makan dan minum yang kurang memadai, selain itu faktor istirahat yang terbatas. Dalam kondisi rasa cemas akan berulangnya bencana Tsunami atau meletusnya gunung berapi Anak Krakatau, belum lagi memikirkan harta benda yang hilang atau hilangnya anggota keluarga tercinta, menyebabkan para pengungsi tidak bisa beristirahat dengan tenang. Kondisi stres sendiri tentu juga akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang, karena stres membuat orang kurang nafsu makan dan susah tidur.

pengngsi

Faktor lingkungan yang tidak sehat juga tentu menyebabkan kondisi para pengungsi menjadi rentan terjangkit penyakit infeksi. Sampah yang berserakan dan kondisi MCK yang terbatas akan sangat mempengaruhi kondisi para pengungsi.

Oleh karena itu harus diambil langkah-langkah untuk mengurangi penderitaan para pengungsi dan mengurangi dampak buruk akibat kondisi daya tahan tubuh yang menurun dan kondisi pengungsian yang tidak memadai.

Beberapa upaya yang harus dilakukan menurut dr Ari:

1. Harus dipastikan bahwa para pengungsi harus mendapat makanan dan minuman yang cukup selama berada di pengungsian.

2. Persediaan air bersih untuk minum harus mencukupi. Dapur-dapur umum yang tersedia selalu mendapat suplai bahan makanan dan air bersih yang memadai untuk masak dan minum. Hindari mengkonsumsi makanan matang yang sudah lewat waktu tanpa dihangatkan kembali untuk mencegah keracunan makanan. Diusahakan makanan yang dikonsumsi dalam keadaan fresh. Cuci tangan pakai sabun atau hand antiseptic untuk menghindari infeksi usus.

3. Diusahakan agar kondisi tempat pengungsian dibuat senyaman mungkin. Tersedia alas tidur yang memadai dan juga selimut agar tubuh para pengungsi terutama orangtua dan anak-anak tetap terlindungi, terutama dari angin malam. Saat ini laporan dari beberapa lokasi terdapat keterbatasan selimut dan baju dingin. Bantuan harus difokuskan untuk penyediaan baju dingin dan selimut untuk para pengungsi agar terhindar dari paparan langsung dengan udara luar/dingin. Kebersihan lingkungan pengungsian selalu terjaga dengan tersedianya tempat-tempat sampah di sekitar lokasi pengungsian. Lokasi sekitar juga rutin dibersihkan dengan antiseptik. Para pengungsi muda dapat dikoordinasikan untuk menjaga kebersihan lingkungan.

4. Sarana MCK yang memadai dengan persediaan air yang cukup tentu juga tersedianya sabun dan peralatan mandi lain. Untuk para pengungsi khususnya anak-anak dan orangtua diberikan suplemen yang berisi multivitamin dan mineral mengingat keterbatasan makanan dan minuman dengan zat gizi yang lengkap yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Perlu stok  obat-obat sederhana, obat penurun panas, obat anti diare, obat sakit kepala dan oralit.  Bagi anak-anak perlu upaya untuk melakukan trauma healing dengan pengadaan buku-buku bacaan, mainan anak-anak dan kelompok-kelompok bermain untuk anak-anak dan mencegah anak-anak bermain di luar di bekas bencana yang masih berantakan.

Tujuan dari tindakan ini semua tentunya untuk mencegah agar para pengungsi jangan jatuh sakit dan tetap berada dalam keadaan sehat. Selain itu juga mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) diare atau keracunan makanan. Pada akhirnya kita selalu berusaha bahwa para pengungsi dalam keadaan sehat baik rohani maupun jasmani.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini